Home Pahlawan Kisah Perjuangan Jenderal Soedirman ‘Kupilih Jalan Gerilya’

Kisah Perjuangan Jenderal Soedirman ‘Kupilih Jalan Gerilya’

542
0

Oleh Acep Sukmaprana

SejarahOne.id – “Yang sakit itu Soedirman, panglima besar tidak pernah sakit. Oleh sebab itu panglima besar mohon izin panglima tertinggi!” ujar Soedirman ketika Bung Karno menolak untuk gerilya. Soedirman yang sudah tidak lagi mempercayai jalur diplomasi, memilih untuk bergerilya walau dengan kondisi tubuhnya yang ringkih karena penyakit TBC yang di deritanya. Sebelah paru-parunya telah dikempiskan oleh dokter. Apa pun namanya, duduk bersama untuk membicarakan nasib bangsa dengan Belanda, sama saja kita mengakui keberadaan mereka, Jo. Kita telah merdeka. Tak sepatutnya mereka mengganggu apa pun alasannya,” kata Soedirman kepada ajudannya, Soeparjo Rustam.

Ketika itu, Jenderal Soedirman bergegas untuk bergerilya, Alfiah sang istri sedang hamil lima bulan, mengandung putra bungsunya, Muhammad Teguh Soedirman. Berat memang Jenderal Soedirman meninggalkan istri dan keenam anaknya. Namun demi mempertahankan kemerdekaan Negeri tercinta, Indonesia, tanpa setetes air mata dan ragu Jenderal Soedirman melangkah keluar menuju belantara yang gelap dan dinginnya gunung pada malam hari.

Sementara Alfiah dan anak-anaknya dititipkan di Keraton Yogyakarta. Dengan sorotan mata dan juga tekad yang tajam, Jenderal Soedirman dengan ditandu anak buahnya dikarenakan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk Soedirman berjalan kaki, terus bergelirya melawan Belanda.

Kapten Simon Spoor yang memimpin Agresi Militer Belanda I dan II dalam upaya merebut kembali Indonesia terus memerintahkan untuk memburu Soedirman. Penghianat diduga berada di dalam kelompok gerilya karena Belanda selalu saja berada di dekat mereka. Namun, dengan strategi Jenderal Soedirman dan campur tangan Allah Yang Maha Kuasa, operasi pengejaran tersebut selalu saja gagal.

Seperti saat pasukan Belanda mengepung Jenderal Soedirman beserta anak buahnya, dengan kecerdikan akal Jenderal Soedirman memerintahkan anak buahnya untuk memakai peci dan sarung, dan dibuatlah skenario seolah-olah tengah diadakan sebuah pengajian.

Di saat lain, ketika pasukan Belanda lagi-lagi berhasil mengepung Jenderal Soedirman beserta pasukannya, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat disertai petir. Atas izin Allah Yang Maha Kuasa, tentara Belanda dibuat takut akan hal tersebut dan pergi.

Dengan lika-liku perjalanan yang tidak mudah, Jenderal Soedirman dan anak buahnya terus bergerilya dan satu per satu berhasil merebut kembali daerah yang dikuasi belanda dan membuatnya mundur. Kurang lebih selama tujuh bulan bergerilya, setelah Jenderal Soedirman mendapat sebuah surat dari Komandan Divisi II Gatot Soebroto yang juga sahabatnya, ia pun kembali ke Yogyakarta.

Kondisi Jenderal Soedirman saat itu oleh dokter yang menanganinya dinyatakan sangat baik. Namun, takdir berkata lain. Setelah melihat rapor putra-putrinya, Jenderal Soedirman meminta sang istri Alfiah untuk membimbingnya membaca dua kalimat sahadat dan Jenderal Soedirman pun menghembuskan napas terakhirnya, dimana sebelumnya alam pun memberikan pertanda akan kembalinya Sang Jenderal ke pangkuan Illahi. Konon, bendera Merah Putih tiba-tiba turun setengah tiang dengan sendirinya. Jenderal Soedirman menang, ia gugur dengan damai di dampingi sang isteri tercinta.

Buku “Kupilih Jalan Gerilya” yang ditulis oleh E. Rokajat Asura ini menceritakan tentang perjalanan hidup Jenderal Soedirman. Tak hanya mengisahkan perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui jalan gerilya, melainkan romansa Soedirman dengan sang isteri, Alfiah yang dulunya sempat ditentang oleh keluarga Alfiah.

Bagaimana Soedirman muda yang senang bermain sepak bola, juga Soedirman kecil yang sudah memiliki pemikiran-pemikiran hebat untuk usianya. Pendirian yang teguh tak tergoyahkan serta keberanian membuat kita menang, setidaknya menang terhadap diri kita sendiri.

Sosok pemimpin begitu melekat dalam diri Jenderal Soedirman, sakit yang dideritanya tak mampu memadamkan kobaran semangat di dalam dadanya sehingga memberikan suntikan energi kepada anak buahnya di saat-saat menegangkan ketika tentara Belanda berada di dekat mereka.

Begitulah sedikit dari banyak yang dapat diambil dari kisah Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Semoga generasi muda Indonesia kedepannya dapat mengambil pelajaran dari semangat juang Jenderal Soedirman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here