Home Khasanah Kisah Pengangkatan Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

Kisah Pengangkatan Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

35
0

SEJARAHONE.ID – Ada beberapa riwayat tentang pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Di antarariwayat-riwayat tersebut adalah yang dikisahkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqatdari Suhail bin Abu Suhail, dia berkata, Aku mendengar Raja’ bin Haiwahberkata, “Di hari Jumat, Sulaiman bin Abdul Malik memakai baju berwarna hijaudari wol, dia bercermin dan berkata, ‘Aku adalah raja muda’. Lalu dia keluaruntuk menunaikan shalat Jumat bersama rakyat, dia langsung sakit begitu pulang,manakala sakitnya semakin keras dia menulis wasiat untuk anaknya Ayyub.

Ayyub adalah anak yang belum dewasa, aku berkata kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukanwahai Amirul Mukminin? Di antara kebaikan seseorang yang mengalir ke kuburnyaadalah bahwa dia mengangkat orang shaleh sesudahnya’.

Sulaiman berkata, ‘Suratwasiat ini, aku masih beristikharah kepada Allah, masih mempertimbangkan, danbelum memutuskan dengan pasti.’

Satu atau dua hari setelahitu Sulaiman membakar surat tersebut, kemudian dia mengundangku. Dia bertanya,‘Bagaimana pendapatmu tentang Dawud bin Sulaiman?’ Aku menjawab, ‘Dia berada diKonstantinopel, Anda sendiri tidak tahu dia masih hidup atau telah mati’.Sulaiman bertanya, ‘Siapa menurutmu wahai Raja’?’ Aku menjawab, ‘Terserah Andawahai Amirul Mukminin’. Aku berkata demikian karena aku sendiri masihmempertimbangkan.

Hasil gambar untuk UMAR BIN ABDUL AZIZ

Sulaiman berkata, ‘Bagaimana menurutmu Umar bin Abdul Aziz?’Aku menjawab, ‘Demi Allah, yang aku tahu bahwa dia adalah laki-laki yang utama,muslim pilihan’. Sulaiman berkata, ‘Benar, dialah orangnya, tetapi jika akumengangkatnya dan tidak mengangkat seorang pun dari anak-anak Abdul Malik, makahal itu bisa memicu perpecahan, mereka tidak akan membiarkannya memimpin selama-lamanya,kecuali jika aku menetapkan seseorang dari mereka setelah Umar. Aku akanmengangkat Yazid bin Abdul Malik sesudah Umar. –Pada saat itu Yazid sedangtidak berada di tempat, dia menjadi Amirul Haj- Hal itu akan membuat anak-anakAbdul Malik tenang dan menerima’. Aku berkata, ‘Terserah Anda’.

Sulaiman kemudian memintaKa’ab bin Hamid, kepala pasukan pengawal khalifah, agar mengumpulkankeluarganya. Ka’ab melaksanakan dan mengumpulkan mereka. Setelah merekaberkumpul, Sulaiman berkata kepada Raja’, bawalah surat wasiatku kepada mereka,katakan kepada mereka bahwa itulah surat wasiatku, minta mereka untuk membaiatorang yang aku tunjuk’. Raja’ melaksanakannya, ketika Raja menyampaikan halitu, mereka berkata, ‘Kami mendengarkan dan menaati siapa yang tercantum didalamnya’. Mereka berkata, ‘Bolehkah kami menemui Amirul Mukminin untukmengucapkan salam?’ Raja’ menjawab, ‘Silahkan’. Mereka pun masuk, Sulaimanberkata kepada mereka, ‘Itu adalah wasiatku, -Sulaiman menunjuk kepada suratyang ada di tangan Raja’ dan mereka melihat surat tersebut- Itu adalah pesanterakhirku, dengarkanlah, taatilah dan baiatlah orang yang aku sebutkan namanyadalam surat wasiat tersebut’. Raja’ berkata, ‘Maka mereka membaiatnya satu persatu’. Kemudian Raja’ membawa surat yang berstempel itu keluar’.”

 

Raja’ berkata, “Manakalamereka telah meninggalkan tempat itu, Umar datang kepadaku, dia berkata, ‘WahaiAbu al-Miqdam, sesungguhnya Sulaiman sangat menghormati dan menyayangiku, diabersikap lembut dan baik, aku khawatir dia menyerahkan sebagian perkara ini kepadaku,maka aku meminta kepadamu dengan nama Allah kemudian dengan kehormatan dankasih sayangku, agar engkau memberitahuku jika perkaranya demikian, sehinggaaku bisa mengundurkan diri saat ini sebelum datangnya suatu keadaan dimana akutidak mampu merubahnya lagi’. Raja’ menjawab, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akanmengabarkan satu huruf pun kepadamu’. Maka Umar pergi dengan kesal.”

Raja’ berkata, “MakaHisyam bin Abdul Malik menemuiku dan berkata, ‘Sesungguhnya antara dirikudengan dirimu terdapat hubungan baik dan kasih sayang lama, aku pun tahuberterima kasih, katakan kepadaku apakah aku orang yang disebut dalam surattersebut? Jika aku adalah orangnya, maka aku tahu. Jika orang lain, maka akuakan berbicara, orang sepertiku tidak patut dipandang sebelah mata, perkaraseperti ini tidak pantas dijauhkan dari orang sepertiku, katakan kepadaku. Akuberjanji dengan nama Allah kepadamu tidak akan menyebutkan namamuselama-lamanya’.”

Raja’ berkata, “Akumenolak permintaan Hisyam, aku berkata, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akanmembuka satu huruf pun kepadamu dari apa yang telah dirahasiakan Sulaimankepadaku’. Hisyam pun pergi sambil menepukkan satu tangannya ke tangan yanglain, dia berkata, ‘Kepada siapa perkara ini diserahkan jika tidak kepadaku,apakah kami ini dianggap bukan anak Abdul Malik? Demi Allah, sesungguhnya akuadalah putra Bani Abdul Malik yang sebenarnya’.”

Raja’ berkata, “Akumenemui Sulaiman bin Abdul Malik, ternyata dia sudah wafat, namun aku masihmendapati saat-saat sakratul mautnya, setiap kali dia menghadapinya, maka akumenghadapkannya ke arah kiblat, Sulaiman mengucapkan dengan tersendat-sendat,‘Wahai Raja’, saatnya belum tiba sekarang’. Sampai aku mengulangnya dua kali,pada kali ketiga Sulaiman berkata, ‘Sekarang wahai Raja’, jika kamu inginsesuatu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah danbahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’.”

Raja’ berkata, “Maka akumenghadapkannya ke arah kiblat, dan Sulaiman wafat. Aku memejamkan keduamatanya, aku menyelimutinya dengan sebuah kain hijau, aku menutup pintu,istrinya mengutus seorang utusan untuk meminta izin melihat keadaannya, akuberkata kepadanya, ‘Dia telah tidur dan berselimut’. Utusan itu telah melihatSulaiman yang telah berselimut kain, dia pulang menyampaikannya kepadaistrinya, istrinya tenang karena dia mengira bahwa Sulaiman tidur.”

Raja’ berkata, “Akumeminta seseorang yang kupercayai untuk berdiri di pintu, aku berpesankepadanya untuk tidak beranjak sampai aku sendiri yang datang kepadanya dan tidakmemperkenankan siapa pun untuk masuk menemui khalifah. Lalu aku memanggil Ka’abbin Hamid al-Ansi, aku memintanya untuk mengumpulkan keluarga Amirul Mukminin,mereka pun berkumpul di masjid Dabiq, aku berkata kepada mereka, ‘Berbaiatlahkalian’. Mereka menjawab, ‘Kami telah berbaiat, sekarang berbaiat lagi?’ Akuberkata, ‘Ini adalah pesan Amirul Mukminin, berbaiatlah untuk mematuhiperintahnya, mengakui siapa yang disebutkan namanya dalam surat wasiat yangdistempel ini’. Mereka pun satu per satu membaiat untuk kedua kalinya.”

Raja’ berkata, “Ketikamereka bersedia membaiat untuk kedua kalinya, maka aku yakin telah menataurusan ini sebaik mungkin, aku mengucapkan, ‘Jenguklah Khalifah Sulaiman,karena beliau telah wafat’. Mereka berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihirajiun’. Kemudian aku membacakan isi surat wasiat Sulaiman, ketika akumenyebut nama Umar bin Abdul Aziz, Hisyam berkata, ‘Kami tidak akan membaiatnyaselama-lamanya’. Raja’ mengatakan, ‘Demi Allah, aku akan memenggal lehermu,berdiri dan berbaiatlah’. Lalu Hisyam berdiri dengan “menyeret” kedua kakinya.

Raja’ melanjutkan, “Akumemegang pundak Umar bin Abdul Aziz, aku mendudukkannya di atas mimbar,sementara Umar bin Abdul Aziz mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihirajiun’. Ia menyesali apa yang didapatkannya. Sementara Hisyam jugamengucapkan ucapan yang sama karena bukan dia yang ditunjuk oleh Sulaiman binAbdul Malik sebagai penggantinya. Hisyam bertemu Umar bin Abdul Aziz, diaberkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena kekhalifahan telahberpindah tangan dari anak-anak Abdul Malik kepada Umar bin Abdul Aziz. MakaUmar menjawab, ‘Ya, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena perkaraitu sampai ke tangannya padahal dia tidak menyukainya.” (Tarikh ath-Thabari,7: 445).

Abu al-Hasan an-Nadawiberkata tentang sikap Raja’, “Raja’ telah melakukan sebuah jasa besar yangtidak akan dilupakan oleh Islam. Aku tidak mengetahui seorang laki-laki darikalangan sahabat raja dan orang-orangnya, yang bisa memberi manfaat (dengankedekatan dan kedudukannya) seperti manfaat yang diberikan oleh Raja’. (Rijalal-Fikr wa ad-Da’wah, 1: 40).

Umar naik mimbar, dandalam tatap muka pertama dengan rakyat, dia mengatakan, “Jamaah sekalian,sesungguhnya aku telah diuji dengan perkara ini, tanpa dimintai pendapat, tidakpernah ditanya dan tidak pula ada musyawarah dengan kaum muslimin. Aku telahmembatalkan baiat untukku, sekarang pilihlah seseorang untuk memimpin kalian.”Orang-orang serentak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilihmu,kami menerimamu, silahkan pimpin kami dengan kebaikan dan keberkahan.”

Di saat itulah Umar merasabahwa dirinya tidak mungkin menghindar dari tanggung jawa khalifah, maka Umarmenambahkan kata-katanya untuk menjelaskan kebijakan-kebijakannya dalam menataumat Islam (Umar bin Abdul Aziz wa Siyasatuhu fi Radd al-Mazhalim, Hal:102), “Amma ba’du, tidak ada lagi nabi setelah nabi kalian, tidak adakitab selain kitab yang diturunkan kepadanya. Ketahuilah bahwa apa yang Allahhalalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, akuhanyalah pelaksana, dan aku bukanlah pelaku bid’ah melainkan aku adalahpengikut sunnah. Tidak ada hak bagi siapapun untuk ditaati dalam kemaksiatan.Ketahuilah! Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah seoranglaki-laki bagian dari kalian, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’alamemberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.

Kaum muslimin, siapa yangmendekat kepadaku, hendaknya dia mendekat dengan lima perkara, jika tidak, makajanganlah mendekat: Pertama, mengadukan hajat orang yang tidak kuasa untukmengadukannya, kedua, membantuku dalam kebaikan sebatas kemampuannya, ketiga,menunjukkan jalan kebaikan kepadaku sebagaimana aku dituntut untuk meniti jalantersebut, keempat, tidak melakukan ghibah terhadap rakyat, dan kelima,tidak menyangkalku dalam urusan yang bukan urusannya.

Aku berwasiat kepadakalian agar kalian bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah memberikanakibat yang baik dalam setiap hal, dan tidak ada kebaikan apabila tidak adatakwa. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untukakhirat, niscaya Allah akan mencukupkan dunianya. Perbaikilah (jaga) rahasia(yang ada pada diri kalian), semoga Allah memperbaiki apa yang terlihat dari(amal perbuatan) kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, bersiaplah denganbaik sebelum kematian itu menghampiri kalian,

 

karena kematian adalahpenghancur kenikmatan. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Tuhannya,tidak tentang Nabinya, tidak tentang Kitabnya, akan tetapi umat ini berselisihkarena dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberikanyang batil kepada seseorang dan tidak akan menghalangi hak seseorang.”

Kemudian Umar meninggikansuaranya agar orang-orang mendengar, “Jamaah sekalian, barangsiapa yang menaatiAllah, maka dia wajib ditaati dan barangsiapa mendurhakai Allah, maka tidakwajib taat kepadanya dalam permasalahan tersebut. Taatilah aku selama aku(memerintahkan untuk) menaati Allah, namun jika (perintahku) mendurhakai-Nya,maka kalian tidak boleh taat dalam hal itu…” kemudian Umar turun dari mimbar.

Begitulah prosesipengangkatan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah umat Islam, salah seorangkhalifah Daulah Umawiyah. Ia diangkat pada hari Jumat, 11 Shafar 99 H(al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 667).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here