Home Khasanah Kisah Nabi Musa dan Gadis Madyan

Kisah Nabi Musa dan Gadis Madyan

23
0

SEJARAHONE.ID – Sebagian kisah tentang nabi Musa berkaitan dengan sebuah tempat bernama Madyan. Sebagaimana keterangan Alquran yang dapat ditemukan dalam surat Al Qashash ayat 22-28. Pakar tafsir quran yang juga dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, ustaz Syahrullah Iskandar menjelaskan nama Madyan sejatinya dinisbahkan kepada Putra Nabi Ibrahim dari istrinya yang bernama Qathura.

Secara kebetulan, Madyan adalah tempat yang tidak dikuasai oleh Firaun dan pengikutnya. Madyan merupakan tempat pelarian Nabi Musa dari Firaun dan pasukannya.

Ustaz Syahrullah yang juga alumni perdana Pendidikan Kader Mufasir-Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta menejalskan nabi Musa pertama kali datang ke tempat sumber air di Madyan dan menjumpai banyak orang penggembala yang meminumkan ternaknya di tempat itu. Nabi Musa menjumpai mereka saling berdesakan meminumkan ternaknya. 

Di tempat itu, nabi Musa menjumpai dua orang gadis perempuan yang juga membawa ternaknya menunggu untuk meminumkan ternaknya. Karena penasaran, nabi Musa pun mendekati keduanya dan bertanya mengapa kedua gadis itu nekad meminumkan ternaknya di tempat yang dikerumuni oleh banyak penggembala lelaki.

Salah seorang dari mereka menjelaskan bahwa mereka tidak akan mungkin bisa memberi minum ternaknya hingga para penggembala tersebut pulang, sehingga sumber air tersebut kosong barulah keduanya bisa meminumkan ternaknya. Ustaz Syahrullah menjelaskan kedua gadis itu tak punya saudara laki-laki yang bisa bekerja untuk meminumkan ternaknya, sementara ayahnya sudah tua renta.

Kedua perempuan Madyan tersebut adalah orang yang menjaga martabatnya sebagai orang terhormat dan menjaga kesalehannya. Ustaz Syahrullah mengatakan dengan kondisi kepayahan setelah perjalanan jauh yang melelahkan, Nabi Musa pun meminumkan ternak keduanya. Setelahnya, ia pun bermohon kepada Allah SWT akan hajatnya berupa jaminan keamanan dan kebutuhan rezeki karena tidak memiliki perbekalan sedikitpun. 

“Akhirnya Allah SWT memperkenankan doanya dengan datangnya salah seorang dari gadis yang telah ditolongnya bahwa ayah gadis tersebut mengundangnya ke rumahnya untuk memberikan upah atau bentuk terima kasih atas pertolongannya,” kata ustaz Syahrullah dalam kajian virtual Nasaruddin Umar Office (NUO) beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut ustaz Syahrullah menjelaskan setelah nabi Musa bertemu dengan ayah dari kedua gadis tersebut dan menceritakan asal-usul dan latar kedatangannya ke Madyan, ayah kedua gadis itu pun memberikan jaminan keamanan dan membesarkan hati nabi Musa bahwa Allah SWT akan melindunginya dari orang yang zalim.

“Terdapat perbedaan pendapat di kalangan mufasir tentang sosok ayah kedua perempuan tersebut. Yang banyak dipahami banyak mufasir adalah Nabi Syuaib. Hanya saja, pendapat ini juga dipertanyakan oleh sebagian mufasir lain bahwa rentang masa hidup antara nabi Syuaib dan nabi Musa itu ratusan tahun, sehingga tidak mungkin keduanya ketemu. Di samping itu, Alquran juga tidak menyebut secara tegas nama ayahnya, kecuali menyebutnya sebagai orang yang sudah tua (syaikhun kabir),” katanya.

Atas dasar itu, jelas ustaz Syahrullah al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an hanya menyebutnya sebagai orang saleh Madyan (Shalih Madyan). Argumentasi lainnya adalah situasi yang disaksikan nabi Musa sesampainya di Madyan yang para penggembala tidak memberi kesempatan kedua perempuan itu memberi minum ternaknya sebagai pertanda bahwa ayahnya bukanlah seorang nabi. Seandainya seorang nabi, tentulah mereka akan memperlakukan keduanya dengan layak. Kenyataannya, keduanya seolah tidak dikenal oleh masyarakat sekitarnya.

Meski belum terlalu mengenalnya, salah seorang dari putrinya mengusulkan ke ayahnya itu agar mempekerjakan nabi Musa dengan alasan bahwa pemuda tersebut memiliki kapasitas fisik yang memadai (qawiy) yang disaksikannya saat menolongnya dan pasti cocok untuk menangani pekerjaan menggembala yang lazim di kawasan itu. 

Kapasitas lain yang dimiliki Nabi Musa adalah kepercayaan (amin) yang terlihat dari cara komunikasi dan perilakunya sejak bertemu dengannya. Usulan putrinya yang diduga adalah putri yang usianya lebih muda, bukan kakaknya, dipahami dengan baik oleh sang ayah.

Muhammad Sayyid Thanthawi menggambarkan bagaimana seorang ayah mengenali dengan baik kecenderungan putrinya dari gelagat dan lontaran idenya. Ayahnya pun menawarkan ke nabi Musa niatnya untuk menikahkan salah seorang putrinya kepadanya.

Sumber:

Republika Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here