Home Merdeka Kisah Kesetiaan Fatmawati, Mendampingi Soekarno saat Revolusi

Kisah Kesetiaan Fatmawati, Mendampingi Soekarno saat Revolusi

18
0
SejarahOne.id – Fatmawati istri ketiga Sukarno, adalah ibu negara yang berjasa karena perannya menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Sosoknya sebagai pendamping Sukarno adalah lambang kesetiaan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Fatmawati lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923 dengan nama asli Fatimah. Ayahnya, Hasan Din, adalah salah seorang pemimpin Muhammadiyah di Bengkulu. Orang tua Fatmawati disebut-sebut sebagai keturunan kerabat Kesultanan Indrapura yang mengungsi ke Bengkulu ketika kerajaan itu diserang VOC pada awal abad ke-19.

Suatu hari di bulan Agustus 1938, Fatmawati dan Sukarno bersemuka. Sukarno yang saat itu menjalani pengasingan, dipindah dari Flores ke Bengkulu. Sukarno segera berkawan dengan Hasan Din dan ia diminta mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah. Fatmawati, anak gadis semata wayang Hasan Din yang baru beranjak 15 tahun, bersekolah di situ dan jadi murid Sukarno.

Selulus dari sekolah Muhammadiyah, Sukarno menawari Fatmawati untuk bersekolah di Rooms Katholik Vakschool bersama Ratna Juami, anak angkat Sukarno dan Inggit Garnasih (istri kedua Sukarno). Fatmawati tak lantas menerimanya karena terbentur persyaratan masuk.

“Bung Karno menjamin akan mengurus hal itu dan mulai hari itu juga aku tinggal di rumah Bung Karno,” kenang Fatmawati dalam memoarnya Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1985, hlm. 32-33).

Sukarno yang saat itu berusia 37 tahun, memandang Fatmawati sebagai gadis remaja yang spesial. Menurutnya, Fatmawati adalah gadis cerdas yang cantik dan kepribadiannya menyenangkan. Sementara Fatmawati memandang Sukarno sebagai tokoh kesohor yang dihormati.

“Umurku 20 tahun lebih tua daripadanya dan ia memanggilku Bapak, juga untuk seterusnya. […] Yang aku rasakan padanya adalah kasih-sayang seorang ayah,” kata Si Bung Besar kepada Cindy Adams sebagaimana terdapat dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2014, hlm. 170).
Ketika Inggit Tak Memberikan Keturunan
Sehebat apa pun Sukarno di lapangan pergerakan nasional, ia tetaplah seorang lelaki biasa. Anak kandung adalah karunia yang belum diterima keluarga Sukarno-Inggit selama hampir dua dekade berumahtangga. Kenyataan itu membuatnya limbung.
“Istriku sudah mendekati usia 53 tahun. Aku masih muda, penuh vitalitas, dan memasuki usia terbaik di puncak kehidupan. Aku menginginkan anak. Istriku tidak dapat memberikannya padaku. Aku menginginkan kegembiraan hidup. Inggit tidak lagi memikirkan soal-soal seperti itu,” ucap Sukarno sebagaimana dicatat Cindy Adams (hlm. 171).

Lambat laun Sukarno akhirnya mengakui ada percikan cinta kepada Fatmawati. Ia begitu ingin punya anak dan Fatmawati adalah harapannya. Namun demikian, ia juga tak ingin melukai hati Inggit. Persoalan makin runyam karena dua perempuan ini sama-sama punya prinsip menolak poligami.

Karena perselisihan yang semakin tak terjembatani antara Sukarno dan Inggit, pada akhirnya mereka bercerai medio 1943. Di tengah pendudukan Jepang, Sukarno memulangkan Inggit ke Bandung. Ia pun menikahi Fatmawati yang masih berada di Bengkulu dengan cara diwakilkan pada pertengahan tahun itu. Entah kenapa keduanya tak pernah ingat tanggal pernikahan mereka. Yang terang, pada 1 Juni 1943 Fatmawati datang ke Jakarta dan mendampingi Sukarno.
Mendampingi Soekarno dalam Revolusi
Fatmawati mendampingi Sukarno melewati masa-masa pendudukan Jepang di Jakarta. Anak pertama mereka, Guntur, lahir pada 1944.
Ketika Indonesia merdeka dan Sukarno dipilih menjadi presiden, Fatmawati dihadapkan pada peran baru sebagai ibu negara. Menjadi istri presiden di negara yang baru adalah beban yang berat. Apalagi situasi setelah proklamasi kemerdekaan dengan cepat memanas karena kedatangan Sekutu dan Belanda.

Bentrokan dan kontak senjata antara pejuang Republik dan tentara Belanda di akhir tahun 1945 semakin sering terjadi. Situasi genting seperti itulah yang kemudian dihadapi Fatmawati. Ia harus membiasakan diri hidup berpindah dan terpisah dari Sukarno untuk menghindari penangkapan Belanda. Dalam memoarnya (hlm. 89) Fatmawati berkisah:

“Kalau sudah Magrib aku berpisah dengan Bung Karno. Bung Karno jalan sendiri, sedangkan aku bersama ibuku pergi untuk menginap di tempat kenalan baik dengan pengawalan pistol dan golok. Biasanya kami melalui lorong-lorong kampung menuju tempat rahasia, di mana Bung Karno sudah menunggu atau menyusul. […] Kadang-kadang aku terpaksa menyamar sebagai tukang pecel, dan Bung Karno menyamar sebagai tukang sayur dengan gaya berjalan pincang.”

Ketika pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta, peran Fatmawati sebagai ibu negara kian terasa. Jika Sukarno fokus pada soal-soal politik dan pemerintahan, maka Fatmawati mendukungnya dengan mengurus rumah tangga istana.

“Dalam keadaan begitu aku berusaha mengatur suasana kekeluargaan seberapa dapat, di samping mengurus dan memperhatikan kepentingan ‘keluarga besar’ yang keluar masuk di tempat itu,” tulisnya (hlm. 130-131).

Fatmawati tak canggung ikut mengurus keperluan pasukan gerilya. Ia ikut memasak makanan tahan lama untuk dikirim ke front. Bahkan sekali waktu ia pergi sendiri berbelanja tanpa pengawalan, padahal saat itu Fatmawati sedang hamil.

Ia juga kerap mendampingi Sukarno dalam kunjungan-kunjungan ke beberapa daerah. Tidak hanya sebagai pendamping, Fatmawati juga tampil berpidato menyemangati rakyat seperti yang terjadi dalam kunjungannya ke Cirebon. Saat itu, Fatmawati diminta massa untuk turut memberi pidato usai Presiden Sukarno turun podium. Ia pun menyanggupi dan membuat Sukarno bangga dengan keberaniannya.

Peran Fatmawati kian sentral setelah revolusi berakhir. Ketika pemerintahan kembali lagi ke Jakarta, ia kembali jadi pengatur rumah tangga Istana Merdeka yang terbengkalai. Ia ikut pula dalam perjalanan Presiden Sukarno ke luar negeri. Fatmawati piawai membangun kedekatan dengan pemimpin-pemimpin negara sahabat Indonesia seperti Perdana Menteri India Nehru dan Perdana Menteri Pakistan Begun Aga Khan.

Di bidang sosial, Fatmawati punya perhatian pada perbaikan kesehatan masyarakat. Peran itu, misalnya, ia tunjukkan ketika ikut menginisiasi pembangunan rumah sakit khusus TBC pada 1953. Ia melelang peci dan pakaian Presiden Sukarno hingga terkumpull dana sebesar Rp250.000. Berbekal dana itu lalu dibentuklah Yayasan Ibu Soekarno yang mengurus pembangunan rumah sakit di bilangan Cilandak. Itulah yang kini kita kenal sebagai Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati.“Rumah sakit itu menjadi rumah sakit umum yang dikelola Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan) sejak 15 April 1961. Hal itu ditetapkan sebagai hari jadi rumah sakit itu,” tulis harian Kompas (15 April 2011).

Soekarno Menikah Lagi

Peran Fatmawati sebagai first lady berakhir ketika ia memutuskan untuk keluar dari Istana Merdeka. Sukarno menikah lagi dengan Hartini pada pertengahan 1954 dan itu melukai hati Fatmawati.

Fatmawati pantang dipoligami. Namun, demi anak-anaknya, Fatmawati dan Sukarno tak bercerai. Fatmawati yang teguh hati lebih memilih keluar dari Istana meski Sukarno melarangnya. Ia lalu tinggal di sebuah rumah paviliun di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Meski begitu, publik masih menganggapnya sebagai Ibu Negara. Ia masih kerap tampil dalam acara-acara resmi meski tak ikut mendampingi Sukarno dalam kunjungan kenegaraan. Di rumah Sriwijaya itu ia hanya ditemani Guntur Sukarnaputra yang sedari kecil memang lebih dekat dengan ibunya.

“Sriwijaya jadi tempat ibu menyepi, menenangkan diri. Ibu tidur di Sriwijaya, tapi setiap Sabtu dan Minggu (ketika Bung Karno tidak ada di Istana) ibu ke Istana nemenin kami anak-anaknya. Ibu masih menjalankan fungsi sebagai Ibu Negara,” tutur Guruh Sukarnaputra, putra bungsu Fatmawati-Sukarno.

Sejak keluar dari Istana, Fatmawati hidup mandiri dan sederhana. Dengan usahanya sendiri ia membeli hak milik rumah Sriwijaya itu. Setelah Guntur menikah, ia sempat pula tinggal bersama si sulung di bilangan Cempaka Putih. Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari, putri Guntur, mengenang kesederhanaan neneknya.

Puti masih ingat bagaimana neneknya kerap menjemputnya dari sekolah dengan bajaj. Fatmawati pula yang mendorong cucunya itu mengakrabi bacaan. Sekali waktu ia membelikan Puti buku bacaan dari tukang loak, bukan dari toko buku.
“Ya. Aku pernah bertanya mengapa Mbu beli buku dari tukang loak dan bukannya dari toko buku. Jawabnya, ‘Karena uangku tidak cukup untuk membeli buku di toko buku’,” kata Puti menirukan neneknya.

Puti juga mengenang bagaimana neneknya itu adalah muslimah yang religius. Hari-hari diisinya dengan mendaras Alquran dan zikir. Hal yang sama diungkapkan pula oleh wartawan senior Rosihan Anwar. Kala itu, ia bertemu dengan Fatmawati saat melakukan umroh pada Mei 1980.Dalam sebuah memoarnya yang terbit di harian Kompas (9 November 1994), Rosihan bersaksi betapa bahagianya Fatmawati bisa berumrah. Ia melukiskan perjalanan ibadah itu adalah cita-cita yang lama ia impikan dan ketika terlaksana laiknya “di alam surga”. Di pengujung pertemuan itu Rosihan sempat pula bertanya tentang doa apa yang dimohonkan oleh Fatmawati di Makkah.

“Saban hari aku melakukan zikir dan mengucapkan syahadat serta memohon supaya diberi oleh Tuhan keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdoa untuk cita-cita seperti semula yaitu cita-cita Indonesia Merdeka. Janganlah sampai terbang Indonesia Merdeka,” jawab Fatmawati.

Siapa nyana, umrah itu adalah yang terakhir bagi Fatmawati. Karena kelelahan, kondisinya tiba-tiba drop saat perjalanan pulang ke tanah air. Pada 14 Mei 1980,  Fatmawati wafat di Kuala Lumpur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here