Home Khasanah Kisah Kebesaran Jiwa Buya Hamka

Kisah Kebesaran Jiwa Buya Hamka

125
0

SEJARAHONE.ID – Buya Hamka adalah ulama nusantara yang memegang teguh prinsip Islam. Pada masanya Buya Hamka pernah memimpin para ulama Indonesia dalam lembaga MUI. Namun, sikap kritisnya terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah membuat beberapa pejabat risih.

Saat itu karena dianggap melawan pemerintah, M Yamin dan Soekarno berkaloborasi menjatuhkan wibawa Buya Hamka melalui beberapa media cetak yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Berbulan-bulan Pram menyerang Buya secara bertubi-tubi melalui tulisan-tulisannya dikoran. Namun, tampaknya Buya Hamka terlalu kuat dan tidak bisa dijatuhkan dengan serangan pembunuhan karakter. Akhirnya Soekarno langsung menjebloskan ulama besar tersebut ke penjara tanpa proses persidangan.

Dua tahun empat bulan didalam penjara tak membuat Buya bersedih. Buya justru bersyukur telah dipenjara, karena di dalam penjara tersebut beliau memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cita-citanya, merampungkan tafsir Al-Qur’an 30 Juz. Yang sekarang lebih kita kenal dengan nama Kitab Tafsir Al-Azhar.

Lalu bagaimana nasib tiga tokoh yang pernah menzaliminya dikemudian hari? Ternyata Allah masih sayang kepada mereka. Allah mengijinkan persoalan tersebut untuk diselesaikan di dunia saja.

Di usia senjanya Pram akhirnya mengakui kesalahannya di masa lalu dan dengan rendah hati bersedia minta maaf. Pram juga mengirimkan putri sulungnya kepada Buya untuk belajar Agama dan men-syahadat-kan calon menantunya. Buya pun menerimanya dengan lapang dada.

Ketika M Yamin sakit keras, beliau meminta orang terdekatnya untuk memanggil Buya Hamka, lalu meminta maaf dan memohon agar Buya sudi mengantarkan jenazahnya kelak untuk dikebumikan di kampung halamannya. Dan Buya pun dengan besar hati menyanggupinya.

Dan untuk Soekarno ada peristiwa yang cukup mengharukan. Hari itu 16 Juni 1970, ajudan Presiden Soeharto datang kerumah Buya dengan membawa secarik kertas berisi sebuah pesan. Pesan tersebut berasal dari Soekarno, dengan seksama Buya membaca isi pesan tersebut.
“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi Imam sholat jenazahku”.
Buya Hamka bertanya pada sang ajudan,
“Dimana Beliau sekarang?”
Sang ajudan menjawab,
“Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yaso”

Seketika, mata sayu Buya Hamka berkaca-kaca menahan haru yang menyesakkan dada. Betapa sangat lembutnya hati sang ulama besar ini. Kini kami sangat merindukan sosok-sosok pribadi seperti Buya Hamka ini.

(Dikutip dari Ummatpos)

  • #FotoNoesantaraDoeloe 🇮🇩💯
    #SatuFotoSejutaCerita

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here