Home Merdeka Kiprah Umat dalam Perjuangan Kemerdekaan

Kiprah Umat dalam Perjuangan Kemerdekaan

128
0

Oleh. Hana Wulan Sari

SejarahOne.id – Ada banyak kiprah Umat Islam dalam mempersembahkan kemerdekaan. Perlawanan terhadap Kolonial selalu dimotori  para Ulama. Pekik Takbir yang menjadi simbol Jihad fi Sabilillah menjadi dasar para pejuang dalam mengusir penjajah.

Demikian pula, ormas Islam Nahdlatul Ulama yang tidak akan melupakan “Resolusi Jihad” yang dicetuskan gurunya, Hasyim Asy’ari. Resolusi Jihad itu di antaranya berisi seruan untuk berjihad melawan penjajahan. Dan Resolusi itulah yang kemudian membakar dada Bung Tomo untuk menggemakan takbir di langit Surabaya.

Pidato Bung Tomo: Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!

Bermodalkan semangat tauhid Kyai Haji Hasyim
Asy’ari dan santrinya tak gentar melawan kecanggihan senjata musuh. Mereka bahkan membentuk kesatuan militer yang dinamai dengan Hizbullah dan Sabilillah.

Fatwa Hasyim Asy’ari tentang hukum membela agama dan tanah air mengilhami umat Islam Indonesia untuk terus melawan. Dan itu memperkuat kesimpulan Belanda bahwa Pesantren adalah tempat yang berbahaya bagi penjajah. Karena dari Pesantren-lah perlawanan itu meletus.

Syuhada Pembela NKRI

Jauh sebelum Resolusi Jihad difatwakan, Indonesia telah banjir dengan darah para Syuhada. Pangeran Dipenogoro, Pangeran Antasari, Fatahillah, Syarif Hidayatullah, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Hasanuddin Imam Bonjol, Sultan Mahmud Syah adalah sebagian kecil pejuang yang menumpahkan darahnya demi bangsa Indonesia, di atas dasar Jihad fi Sabilillah.

Semangat fi sabilillah ini tampak salah satunya dalam Perang Aceh. Perang ini berlangsung cukup lama (1873 – 1910) antara Kesultanan Aceh dan Belanda. Dan Perang ini oleh Belanda dianggap perang yang menyulitkan. Indikasinya adalah lamanya Belanda dalam menaklukan Aceh.

Semangat Jihad Aceh tak mampu dibendung oleh Belanda. Pada Perang Aceh I misalkan (1873-1874), 3000 serdadu Belanda yang dipimpin Rudolf Kohler dapat ditaklukan. Dan Kohler sendiri tewas pada 14 April 1873 pada saat perebutan Masjid Raya Baiturrahman. Perang yang berlangsung puluhan tahun tersebut menjadi sejarah perjuangan Umat Islam Indonesia, khususnya Aceh.

Upaya Mengecilkan Peran Umat

Dalam membaca sejarah, kita akan dihadapkan dengan dua kemungkinan; realita atau distorsi. Tidak dapat dimungkiri, bahwa Sejarah yang ditulis sangat tergantung pada interpretasi sejarawan. Interpretasi inilah yang akan menghasilkan produk sejarah yang jujur maupun yang manipulatif. Sejarawan, Prof.Ahmad Mansur Suryanegara mengungkap banyak sekali distorsi Sejarah yang diajarkan pada pelajar Indonesia. Di antaranya adalah kiprah umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia yang “ditiadakan”.

Temuan tersebut diamini Sejarawan UI, Dr.Tiar Anwar Bachtiar dengan menulis buku  “Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru”, Beliau memunculkan fakta yang sebelumnya – sengaja –   “disembunyikan”. Semisal tokoh-tokoh Muslim, eksistensi Kejaraan Islam, dan kiprah organisasi Islam dalam meraih kemerdekaan.

Dalam Tafsir al-Azhar, Prof.Hamka membuat uraian khusus tentang rangkuman strategi misionaris Kristen dan Orientalis dalam menyerang Islam. Antara lain, Hamka mencatat: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme  diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah. Orang Mesir lebih memuja Fir’aun daripada mengagungkan sejarah Islam…” (Lihat, Hamka, Tafsir al-Azhar, hal 300).

Pernyataan Hamka benar adanya, sejarah Indonesia yang dikenalkan sejak dini adalah sejarah simbol-simbol Hindu dan Budha. Wajar, jika kemudian negara ini lebih dikenal dengan Candi ketimbang masjid atau pesantren.

Pada waktu itu, orang menamakan panggilan itu aneka warna. Ada yang mengatakan panggilan Ibu pertiwi dan sebagainya. Bagi umat Islam, panggilan itu sudah 13 abad, yaitu “wa jahidu fi sabilillah”, dengan taat tunduk menyerahkan diri kepada Allah (Muhammad Natsir)

Distorsi atas sejarah eksistensi umat Islam dalam memerjuangkan kemedekaan Indonesia menjadi satu babak yang menarik untuk dikaji. Polanya sama; meniadakan yang ada, mengadakan yang tidak ada.

Eksistensi Islam ditiadakan, mitos-mitos Hindu-Budha disemarakan. Ini sengaja dilakukan oleh  Kolonialis-Orientalis. Mereka menjajah dengan cara cerdas. Bukan hanya fisik yang dicabik-cabik, tapi juga pengetahuan yang diputarbalik. Gagal menguasai “fisik” bangsa Indonesia, mereka berhasil menjajah pengetahuan anak bangsa. Pengaburan sejarah diantaranya.

Pengaburan sejarah kemerdekaan menjadi sangat penting dalam perspektif politik. Politik kolonial dalam pendidikan sejarah Indonesia berhasil membuat bangsa lupa akan latar belakang berdirinya bangsa ini; dasar perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Maka tulisan ini berusaha menghadirkan kiprah para pahlawan, peran umat Islam selama ini banyak yang disembunyikan.

K.H.Hasyim Asy’ari dan sejumlah ulama lainnya menyatakan bahwa awalnya Soekarno tidak mau memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia karena dihalangi Inggris dan diancam akan dibuat seperti Hiroshima dan Nagasaki. Namun atas dorongan dan desakan para Ulama, akhirnya Soekarno mau.

Para Ulama pada saat itu berpendapat jika tidak segera Memproklamirkan Kemerdekaan, maka Indonesia harus menunggu kemerdekaan selama 300 tahun mendatang.

Desakan para Ulama akan proklamasi adalah satu dari banyak kiprah Umat Islam dalam mempersembahkan kemerdekaan. Perlawanan terhadap Kolonial selalu dimotori  para Ulama. Pekik Takbir yang menjadi simbol Jihad fi Sabilillah menjadi dasar para pejuang dalam mengusir penjajah. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here