Home Ekonomi Napak Tilas Sejarah Bandara Soekarno Hatta

Napak Tilas Sejarah Bandara Soekarno Hatta

19
0
Bandara Kemayoran beroperasi sebelum Bandara Soekarno Hatta dibangun

Oleh Hana Wulansari

SejarahOne.id – Dulu, sebelum Bandara Internasional Soekarno-Hatta beroperasi, Indonesia memiliki Bandara Kemayoran. Dan pada 1985 Bandara Soetta yang berlokasi di Tangerang, resmi beroperasi menggantikan fungsi Bandara Kemayoran. Bandara Soetta ini juga menggantikan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur.

Sejak Bandara Soetta aktif, Bandara Kemayoran dinonaktifkan, sedangkan Bandara Halim Perdanakusuma difungsikan untuk penerbangan militer, VVIP, charter, dan beberapa penerbangan domestik.

Bandara Soetta dibangun karena Bandara Kemayoran yang awalnya ditujukan untuk penerbangan domestik dianggap terlalu dekat lokasinya dengan basis militer Indonesia, yaitu Bandara Halim Perdanakusuma. Frekuensi penerbangan sipil yang semakin meningkat dianggap mengancam kelangsungan lalu lintas internasional maupun kepentingan militer.

Sumber sejarah mengungkap Bandar Udara Kemayoran difungsikan 1928-1974, yang ditujukan untuk penerbangan domestik. Bandara Kemayoran dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia, Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Penerbangan sipil di area tersebut menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat cepat, yang mana mengancam lalu lintas internasional.

Bandar Udara Internasional Kemayoran - Wikipedia bahasa Indonesia ...

Bandara Kemayoran beroperasi dari Tahun 1928 – 1974

Oleh karena itu, pada awal 1970-an, mulailah dicari lokasi yang berpotensi untuk dijadikan bandara baru dengan bantuan USAID. Di antaranya Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, Tangerang Selatan dan Tangerang Utara yang berakhir dengan dipilihnya Tangerang Utara sebagai lokasi alternatif.

 

Pada awal 1970-an, dengan bantuan USAID, delapan lokasi potensial dianalisis untuk bandar udara internasional baru, yaitu Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, Tangerang Selatan, dan Tangerang Utara. Akhirnya, Tangerang Utara dipilih dan ditandai juga Jonggol dapat digunakan sebagai bandara alternatif. Sementara itu, pemerintah memulai upgrade terhadap Bandar Udara Halim Perdanakusumah untuk melayani penerbangan domestik.

Kemudian, pada kisaran tahun  1974-1975, sebuah konsorsium konsultan Kanada mencakup Aviation Planning Services Ltd., ACRESS International Ltd., dan Searle Wilbee Rowland (SWR), memenangi tender untuk proyek bandara baru. Pembelajaran dimulai pada 20 Februari 1974 dengan total biaya 1 juta Dolar Kanada. Proyek 1 tahun tersebut disetujui oleh mitra dari Indonesia yang diwakili oleh PT Konavi. Pada akhir Maret 1975, pembelajaran ini menyetujui rencana pembangunan 3 landasan pacu, jalan aspal, 3 bangunan terminal internasional, 3 terminal domestik, dan 1 terminal Haji. Terminal domestik bertingkat 3 dibangun antara 1975-1981 dengan biaya US$465 juta dan sebuah terminal domestik termasuk apron dari 1982-1985 dengan biaya US$126 juta. Sebuah proyek terminal baru, diberi nama Jakarta International Airport Cengkareng (kode: JIA-C), dimulai.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) merupakan bandar udara utama Indonesia yang berlokasi di Cengkareng, Tangerang. Bandara Ini pertama kali dioperasikan pada tahun 1985 yaitu menggantikan fungsi dari Bandara “Kemayoran” di Jakarta Pusat dan Bandara “Halim Perdanakusuma” di Jakarta Timur. Saat ini, Bandara Kemayoran sudah dinonaktifkan, sedangkan Bandara Halim Perdanakusuma difungsikan untuk penerbangan militer, VVIP, charter, dan beberapa penerbangan domestik.Bandara Kemayoran 1976

Selanjutnya, pada akhir Maret 1975, berbagai pihak terkait sepakat menyetujui rencana pembangunan 3 landasan pacu, jalan aspal, 3 bangunan terminal internasional, 3 terminal domestik dan 1 terminal Haji di Bandara Soekarno-Hatta. Terminal domestik yang direncanakan dibangun bertingkat 3 dibangun antara tahun 1975 hingga 1981 dengan biaya tak kurang dari USD 465 juta, termasuk apron yang dibangun antara tahun 1982 hingga 1985 yang menelan biaya USD 126 juta. Saat itu proyek terminal baru tersebut masih diberi nama Jakarta International Airport Cengkareng (kode: JIA-C).

Pada akhir Maret 1975, disepakati rencana pembangunan 3 landasan pacu, jalan aspal, 3 bangunan terminal internasional, 3 terminal domestik dan 1 terminal haji di Bandara Soekarno-Hatta. Terminal domestik yang direncanakan bertingkat 3 dibangun antara tahun 1975 hingga 1981 dengan biaya tak kurang dari USD 465 juta.

 

Bandar udara ini dirancang oleh arsitek Perancis Paul Andreu, yang juga merancang Bandar Udara Charles de Gaulle di Paris, Perancis. Salah satu karakteristik besar bandara ini adalah gaya arsitektur lokalnya, dan kebun tropis di antara lounge tempat tunggu.

 

Berikut adalah tahap pengerjaan pembangunan Bandara Soekarno Hatta :

  • 1975 hingga 1977, diawali dengan pembukaan lahan dan pengaturan perbatasan provinsi.
  • 12 November 1976, Tender pembangunan bandara dimenangkan oleh pihak Aeroport de Paris.
  • 18 Mei 1977, Penandatanganan kontrak tanda jadi oleh Pemerintah Indonesia dan Aeroport de Paris dengan PT Konavi sebagai mitra lokal tertunjuk (waktu yang dibutuhkan hingga selesai adalah 18 bulan, dengan capaian hasil 2 landasan pacu termasuk taxiway, 2 ruas jalan aspal di sisi barat dan timur, 3 terminal, dan kebun di dalam bandara).
  • 20 Mei 1980, Bandara dibangun kembali dengan kontrak selama 4 tahun oleh Sainraptet Brice, SAE, Colas dan PT Waskita Karya sebagai pihak pembangun.
  • 1 Desember 1980, Pihak Pemerintah Indonesia menandatangani kontrak senilai Rp 384,8 M. Merupakan biaya yang diambil sebagian dari APBN dan sebagian lagi Sumbangan dari Pemerintah Perancis.
  • 1 Desember 1984, Pembangunan Bandara Soekarno hatta sudah selesai dalam tahap fisik.
  • 1 Mei 1985, Dimulai wacana pembangunan Terminal ke-2 , secara teknis mulai dikerjakan pada 11 Mei 1992

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here