Home Pahlawan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

414
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Ki Hajar Dewantara merupakan sosok pahlawan nasional yang dijuluki Bapak Pendidikan Nasional. Nama asilnya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Tapi pada tahun 1922 lebih dikenal menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beberapa sumber menyebutkan dengan bahasa Jawanya yaitu Ki Hajar Dewantoro.

Ki Hajar Dewantara lahir di daerah Pakualaman pada 2 Mei 1889 dan meninggal di Kota Yogyakarta pada 26 April 1959 di usia 69 tahun. Beliau adalah anak dari pasangan GPH Soerjaningrat atau cucu dari Pakualam III. Selanjutnya, bapak pendidikan yang biasa dipanggil Soewardi ini merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, kolumnis, dan pelopor pendidikan bagi bumi putra Indonesia ketika Indonesia masih dikuasai oleh Hindia Belanda.

Ia berhasil menamatkan pendidikan dasar di ELS atau semacam sekolah dasar di zaman Belanda. Kemudian Ki Hajar Dewantara melanjutkan studinya ke STOVIA yang merupakan sekolah dokter khusus putra daerah tetapi tidak berhasil menamatkannya karena sakit.

Kemudian Ki Hajar Dewantara memasuki dunia jurnalis. Dia bekerja sebagai wartawan dan penulis di beberapa surat kabar. Contohnya seperti Midden Java, Soeditomo, De Expres,Kaoem Moeda, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer dan Poesara. Di hari-hari ketika berkarir sebagai jurnalis Ki Hajar Dewantara termasuk penulis handal. Tulisan Ki Hajar Dewantara mudah dipahami, komunikatif dan penuh dengan semangat anti penjajahan.

Selain telaten, komitmen dan ulet sebagai seorang jurnalis muda, Ki Hajar Dewantara muda juga sangat aktif di organisasi sosial dan politik. Ketika Boedi Oetomo (BO) berdiri pada tahun 1908, Ki Hajar Dewantara masuk ke organisasi ini dan dia aktif di bagian propaganda untuk melakukan sosialisasi dan membangunkan kesadaran rakyat Indonesia. Khususnya orang Jawa. Bagaimanpun caranya, rakyat Indonesia di waktu itu harus sadar mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Keteladanan Ki Hadjar Dewantara tidak hanya tercermin dalam pemikiran dan sikap. Dia juga memiliki keberanian luar biasa, bahkan jika harus mengorbankan fisik sekalipun. Pada peristiwa rapat umum di Lapangan Ikada (sekarang Monas), 19 September 1945, presiden dan jajaran kabinetnya harus menembus kepungan senjata tentara Jepang di sekeliling lapangan.

Sebagian menuntut para pemimpin bangsa itu agar tidak mengecewakan rakyat, sebagian lainnya menolak dengan alasan keselamatan. Setelah semua sepakat hadir, tantangan lainnya adalah menentukan menteri yang membuka jalan ke Lapangan Ikada mengingat Jepang bisa saja membunuh mereka untuk mencegah keberhasilan Pemerintah Republik Indonesia menyatakan eksistensinya kepada rakyat dan dunia internasional.

Akhirnya Ki Hadjar Dewantara yang ketika itu menjadi Menteri Pengajaran mengajukan diri sebagai pembuka jalan. Ayah enam anak ini menerobos penjagaan tentara Jepang dengan Menteri Luar Negeri Achmad Subarjo dan Menteri Sosial Iwa Kusuma Sumantri.

Ketika diingatkan oleh Sesneg Abdul Gafur Pringgodigdo tentang usianya yang tidak lagi muda, Ki Hadjar menjawab enteng, “Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa”. Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama. Jabatan ini hanya dijalaninya selama tiga bulan, tepatnya pada 2 September 1945 hingga 14 November 1945.

Berbagai jasa Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan dan pergerakan nasional membuatnya dianugerahi sebagai pahlawan nasional sesuai Surat Keputusan Presiden No. 305 Tahun 1959 tertanggal 28 November 1959. Tidak hanya itu, tanggal lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pada 1957, Ki Hadjar Dewantara mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dua tahun kemudian, yakni pada 26 April 1959, Ki Hadjar Dewantara wafat di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Untuk mengenang jasa-jasanya, penerus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta. Museum ini menyimpan berbagai karya tulis, risalah dan konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here