KH Zubair Dahlan, Ulama Zuhud di Era Orde Baru

    180
    0

    SEJARAHONE.ID – Ulama karismatik Jawa Tengah ini berbudi pekerti luhur dan mempunyai kepribadian yang mulia. Tubuhnya kurus, berkulit sawo matang, dan berjenggot tipis. Tajam penglihatannya membuatnya tampak lebih berwibawa.

    Dialah KH Zubair Dahlan, ulama yang sangat cinta terhadap ilmu, selalu berpegang teguh pada sunnatullah dan berjuang di jalan Allah. Pada saat munculnya G30/S-PKI, ayahanda KH Maimoen Zubair itu juga pernah mengajak para kader Nahdlatul Ulama (NU) untuk membersihkan wilayah Sarang dari pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI).

    Sosok Kiai Zubair sangat disegani dan dihormati, khususnya karena kealimannya. Dia merupakan pendiri Pesantren Ma’hadul Ulumusy Syar’iyyah (MUS) Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kiai Zubair juga merupakan kawan seperjuangan sosok pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Bagaimanapun, pada awal terbentuknya jam’iyah itu dirinya tidak masuk dalam jajaran kepengurusan.

     

    KH Zubair Dahlan lahir dengan nama Anwar pada 1905 Masehi atau 1323 Hijriah di daerah pesisir pantai, tepatnya Desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Ia merupakan putra kedua dari pasangan Kiai Dahlan dan Ibu Nyai Hasanah. Sejak kecil, lelaki ini tumbuh besar di bawah bimbingan ayahandanya langsung.

    Zubair kecil juga belajar membaca Alquran dan ilmu-ilmu dasar agama Islam kepada kakeknya, Kiai Syua’ib. Saat usianya masih enam tahun, ia sudah dapat membaca Alquran dengan baik dan benar, seturut dengan prinsip-prinsip tajwid.

    Saat usianya masih enam tahun, ia sudah dapat membaca Alquran dengan baik dan benar, seturut dengan prinsip-prinsip tajwid.

    Sang ayah secara khusus mengajarinya ihwal sastra dan gramatika bahasa Arab. Dalam bidang ilmu fikih, ia mengkhatamkan kitab Taqrib dari pamannya, Kiai Ahmad bin Syua’ib. Adapun kitab Fathul Wahab dikajinya dengan arahan Kiai Fathur Rohman bin Kiai Ghozali.

    Untuk mendalami ilmu agama, Zubair tidak hanya belajar di daerah kelahirannya. Pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan ini juga pergi ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah, Arab Saudi. Saat berusia 17 tahun, ia pergi ke kota tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW itu bersama dengan kakek dan neneknya.

    Sebelumnya, pamannya yang bernama Kiai Imam Kholil sudah bermukim di Haramain. Tiga tahun lamanya Zubair tinggal di kediaman pamannya di sana. Selama di Tanah Suci, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar. Ada banyak guru tempatnya menimba ilmu-ilmu agama. Di antaranya adalah Kiai Baqir al-Jogjawy asal Yogyakarta dan Syekh al-‘Alamah Hasan al-Yamani.

    Selama di Tanah Suci, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar.

    Setelah itu, ia kembali ke Tanah Air ditemani pamannya, Kiai Imam Kholil. Namun, KH Zubair merasa pendalaman ilmu agamanya masih belum cukup. Ia bertekad untuk terus belajar, melanjutkan rihlah keilmuan. Meskipun termasuk tamatan Masjid al-Haram Makkah, dirinya tak sungkan untuk berguru kepada para alim ulama sekitarnya, seperti Syekh Al ‘Alamah Kiai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang.

    Di bawah bimbingan Kiai Faqih, Zubair mempelajari berbagai bidang ilmu. Beberapa kitab dikuasainya secara tuntas, seperti Tafsir Jam’ul Jawami’ atau Syarah Ummul Barahin. Dari gurunya itu, ia juga sempat mendapatkan ijazah yang termaktub dalam kumpulan “Kifayatul Mustafid“. Di sana, tercatat sejumlah sanad yang diperoleh Kiai Zubair dari jalur Syekh Muhammad Mahfud bin Abdullah at-Turmusiy.

    Setelah belajar kepada Kiai Faqih, Kiai Zubair Dahlan akhirnya mulai berperan sebagai pendakwah sekaligus pengajar. Tempatnya mengabdi sebagai seorang kiai alim ialah Pondok Pesantren Sarang. Saat itu, usianya masih cukup muda, belum genap 23 tahun. Akan tetapi, karisma dan kemampuannya sudah diakui banyak kalangan. Tak sedikit santri yang menimba ilmu atau meminta nasihat kepadanya.

    Setelah belajar kepada Kiai Faqih, Kiai Zubair Dahlan akhirnya mulai berperan sebagai pendakwah sekaligus pengajar. Saat itu usianya belum genap 23 tahun.

    Hanya satu yang tumbuh besar, yaitu KH Maimoen Zubair. Putranya ini akhirnya dikenang sebagai seorang alim yang sangat dihormati sekaligus pendiri Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang.

    Selang berapa tahun kemudian, Nyai Mahmudah berpulang ke rahmatullah, tepatnya pada Jumadil Akhir 1358 H. Seiring berjalannya waktu, Kiai Zubair menikah lagi. Kali ini, pasangannya bernama Aisyah binti Kiai Abdul Hadi. Pada pernikahan kedua itu, ia dianugerahi lima orang putri dan seorang putra. Mereka adalah Halimah, Sai’dah, ‘Afifah, Sholihah, Salamah, serta Ma’ruf Zubair.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here