Home Pahlawan KH Noer Ali: Pemikiran dan Karyanya

KH Noer Ali: Pemikiran dan Karyanya

84
0

Oleh: Lukmanul Hakim, S.Th.I

SejarahOne.id – KH Noer Ali pada tahun 2007 lalu mendapat gelar pahlawan nasional asal Jawa Barat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dinobatkan sebagai pahlawan lantaran berjasa besar dalam mempertahankan kemederkaan Republik Indonesia dari ini penjajah.

Terhitung sejak negara ini diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta hingga tahun 1950. sejak itu, ia berjuang bersama laskar rakyat yang dirikannya untuk mengamankan wilayah Jawa Barat dan sekitarnya dari musuh yang saat itu bernama NICA dan sekutunya.

Di luar itu, masih dalam konteks nasional, ia mendirikan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat yang pada tahun 1975 dinasionalisasi menjadi MUI Pusat dan berkembang di seluruh provinsi. Pada tahun 1985 ia bersama ulama mendirikan badan kontak pondok pesantren Indonesia (BKSPPI) sejenis asosiasi pesantren tingkat nasional yang kini beranggotakan lembaga pesantren di seluruh Indonesia.

Pada tahun yang sama ia menggagas konsep dewan kerja masjid (DKM) yang saat ini hampir di setiap Masjid mendirikan DKM padahal belum ada nama yang dipakai dengan nama DKM.

Berikutnya ia menggagas soal pengadaan tanah wakaf secara massal yang kontras untuk pandangan ulama saat itu yang memandang pengadaan wakaf hanya orang tertentu yang hanya memiliki tanah atau dana besar. Model ini, di mana warga yang menyumbangkan tanah untuk areal sebuah Masjid umpamanya dapat dicicil pada setiap orang.

Masalah lain yang sangat dirasakan masyarakat Islam umumnya soal penetapan hari libur sekolah di naungan Yayasan Attaqwa, hari raya selalu mengikuti pada ketentuan pemerintah pusat. Inilah warisan budaya keagamaan yang dilahirkan dari gagasannya soal unsur nasionalisme dalam kedidupannya.

Model Pendidikan di Yayasan Attaqwa

Gaya pendidikan di Attaqwa menggunakan sistem modern. Dikatakan modern lantaran menggunakan penjenjangan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Di dalamnya diajarkan kurikulum berstandar nasional dan Timur Tengah.

Model ini dipakai sejak sekolah ini didirikan sejak tahun 1950 di mana sekolah lain yang tergolong pondok pesantren masih memakai sarungan sementara di Attaqwa sudah terbiasa celana dan dasi serta Belajar materi pelajar logika dan bahasa inggris. Sempat dikabarkan sekolah ini bediri sejak kembalinya KH Noer Ali dari Makkah Almukarromah sekitar 1940 namun vakum akibat konsentrasi dalam revolusi fisik.

Saat ini lulusan dari Attaqwa banyak yang meneruskan ke jenjang perguruan tunggi negeri dan swasta, dalam dan luar negeri. Untuk di luar negeri, banyak yang melanjutkan ke Timur Tengah seperti Mesir, Pakistan, Syiria, Madinah, Kuwait, Sudan dan lainnya.

Dapat dikatakan bila lulusan Attaqwa banyak yang ke Timur Tengah karena ijazahnya dapat diakui oleh perguruan tinggi tersebut. Hingga kini tercatat ribuan alumni Attaqwa banyak yang berwiraswasta seperti guru, LSM, professional, menjadi pegawai negeri atau lembaga lain yang yang dapat mengembangkan ilmu mereka di lingkungan sekitar.

Kiyai Politik

Awal keterlibatannya dalam kancah politik, KH Noer Ali terpilih sebagai ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) Cabang Kabupaten Bekasi. Pada Pemilu 1955 dirinya terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Melalui suara terbanyak yang diperoleh dalam Pemilu tersebut ia menjadi anggota Konstituante di Bandung dan pada tahun 1959 lembaga ini dibubarkan oleh Presiden Soekarno.

Berikutnya, partainya dibubarkan oleh presiden dan KH Noer Ali tak kelihatan lagi berkecimpung dalam pengerus formal kepartaian tertentu hingga akhir hanyatnya. Kenapa memilih Masyumi bukan partai lain? Bisa jadi Masyumi merupakan lawan dari partai nasionaslis seperti Partai Nasionalis Indonesia dan Partai Komunis Indonesia dan banyak partai kecil yang berideologi nasionalis.

Namun, Masyumi Partai menggunakan Islam dengan corak nasionalis relijius terbesar di zamannya. Struktur keanggotaannya dibagi menjadi anggota luar biasa dan anggota penuh. Anggota biasa mereka yang berasal dari unsur lain seperti Nahdlatul Ulama, namun ikut menjadi anggota partai Masyumi. Sebaliknya, terbanyak kader Masyumi hanya ikut keanggotaan Partai Masyumi secara totalitas.

Salah satunya adalah KH Noer Ali. Puncak kejayaan partai tersebut saat menjadi pemenang kedua terbesar dalam Pemilu pertama tahun 1955. Pandangan akan pesatuan ummat Islam ini dalam sebuah kandang besar bernama partai Islam yang mendorong dirinya untuk menentukan pilihan dalam Partai Masyumi.

Partai Masyumi memiliki corak yang khas, karir perjalannya dibagi menjadi dua blok, sebelum Pemilu 1955 partai ini memegang kendali atas perjalanan demokrasi parlementer-liberal. Boleh dikatakan Masyumi menjadi kampium dalam partai modern dengan jargon nasiolanis relijius secara total. Setelah itu hingga tahun 1959 partai ini menjadi lebih kaku dalam pandangannya dalam bernegara dan soal-soal keislaman.

Khususnya terkait dengan Islam dan gerakan separatis PRRI Permesta di Sumatera. Meski terdapat perbedaan pendapat soal ini, Masyumi pernah mengalami penggembosan suara akibat unsur NU yang merupakan kesatuan yang utuh keluar dari Masyumi dan membentuk partai NU secara permanen.

Perpecahan itu membuat dugaan melesat di mana asumsi pemenang pada Pemilu 1955 Masyumi bakal menjadi pemenang pertama Juh mengalahkan PNI yang secara incumbent dipimpin oleh Presiden RI, Ir Soerkarno.

Soal Ibadah Praktis

NU dan Muhammadiyah memiliki perbedaan dalam cara pandang dalam ibadah praktis. Hal itu dapat dilihat dalam cara ibadah warga NU dan Muhammadiyah di masyarakat. Sedangkan ibadah yang dilakukan KH Noer Ali nyaris sama dengan kalangan NU.

Sebut saja soal tahlil, tawashshul dan ratiban, namun perbedaan ini tak nyaris sama dengan kalangan NU seratus persen. Di lingkugan Attaqwa ia mentradisikan model ibadah praktis yang kaya dan lengkap. Tradisi dilembagakan dalam sebuah kegiatan kerja di lingkungan DKM Attaqwa.

Secara pribadi KH NoerAli merupakan seorang ahli ibadah yang sangat kuat. Ia terlihat ibarat aktivis ‘sosialis’ yang mendedahkan waktu untuk kerja dan voluntir di siang hari dan laksana rahib di malam hari. Kekuatan ibadah yang dijalankan diakui oleh pengikutnya.

Produk ibadah teknis yang ia lakukan merupakan hasil bentukannya sendiri dari produk yang telah ada sebelumnya hanya ia sesuaikan dengan lokal di kalangan pengikutnya. Namun, yang paling utama dirinya sangat mengutamakan sholat berjamaah di Masid dengan santri-santrinya.

Memiliki Ilmu Irfan

Banyak pihak yang ingin mengetahui soal kepaiawan KH Noer Ali dalam memadukan akal pikir dan zikir dalam aktivitasnya yang besar. Bagi penulis bisa jadi dirinya memeliki letiga unsure, piker, dzikir dan pengalaman atau yang disebut dengan Iefan atau ilmu Makrifah.

Irfan yang penulis ketahui adalah kemampuan indra mata hati pada dirinya yang diasah lewat ibadah yang kuat setelah itu dapat mengungkap tabir pemahaman yang diberikan dari Allah SWT.

Untuk ukuran orang saat ini, Irfan itu ukuran ilmu tasawwuf, namun bagi aliran filsafat Islam, Irfan adalah metode berfikir yang mengkombinasikan antara akal fakir dan kekuatan zikir dan pengalaman. Penggabungan ketiganya menghasilkan kebenaran model irfan yang hanya dimiliki oleh para filosof besar Ilan seperti Mullah Sadra dan Suhrawardi.

Pertimbangan ini sengaja dilakukan lantaran pada sosok KH Noer Ali dirinya tergolong mapan dalam menguasia ilmu logika, ilmu agama, ketajaman berfikir, aktivis pegerakan yang kaya dengan pengalaman serta kekuatan dalam menjalankan ibadah. Kombinasi ketiga ini bukan memandulkan satu di antara mereka tapi memadukan kekuatan diantaaranya. Hasilnya, adalah di mana Allah SWT memberikan kepada dirinya rahasi-rahasi tentang sesuatu yang jarang didapat bagi orang kebanyakan.

Ulama Pemersatu dan Istiqomah

Sebutan sebagai pemersatu di kalangan ulama dan masyarakat sering kali didengar sejak penulis masih sekolah di lembaga yang didirikannya. Di kalangan ulama dirinya sering kali berkomunikasi dengan ulama lainnya tampa melihat latar belakangan aliran politik maupun organisasai keagamannya yang dianutnya.

Sebut saja, dalam acara maulid Nabi Muhammad yang setiap tahun diiadakan di Ponpes Attaqwa secara besar-besaran ia kerap kali mengundang tokoh KH Idham Cholid yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU dan Muhammad Natsir yang secara amaliah keagamaan mewakili kalangan Persatuan Islam. Dalam menyelesaikan sesuatu persoalan KH Noer Ali mengajak ulama lain terlibat tanpat melihat sebab-sebab perbedaan di antara mereka.

Sedangkan di lokal Bekasi dan Jakarta, KH Noer Ali terlihat sering menggelar forum muzdakarah yang dihadiri para juniornya dalam membahas sesuatu. Meski terlihat para junior mereka merupakan pentolan unsur NU dan Muhammadiyah, atau berbeda secara garis pemikiran namun ia sering melakukan kesimpulan yang dapat diterima forum.

Dengan kata lain, upaya persatuan tersebut lebih pada bentuk niat untuk bersatu dalam perbedaan yang ada dalam tujuan tertentu, yaitu pembangunan umat yang masih perlu bimbingan para ulama.

Sedangkan sebutan ulama yang konsisten dan memiliki karakter yang kuat ini terlihat dalam sikapnya dalam mengimbangi kekuatan Orde Baru yang sangat berkuasa. Sebagai ulama yang ihklas, sederhana dan apa adanya ia berhasil dengan baik tanpa ada konflik yang berarti.

Keteguhan yang dimaksud adalah, sikapnya yang tidak menjilat pada kekuasaan hanya untuk mengamankan apa yang dilakukan dalam berjuang di masyarakat. Sikap ini beda dengan yang terjadi pada saat itu, nyaris para ulama banyak mendekat dengan kekuasaan lantaran agar dapat posisi atau sekedar tak dicap sebagai eks Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia atau pemberontak sebagaimana sebutan itu lazim diberikan bagi mereka yang menjauh dengan kekuasaan Orba.

Figur Sang Ayah dan Bapak Yang Baik

Sebagai bapak bagi putera puterinya KH Noer Ali tergolong sukses mendididik mereka bagi dalam ekonomi dan pendidikan. Sebagai seorang ‘Bapak’ bagi para pengikutnya ia merupakan sumber bertanya dalam bermasalah kehidupan warganya, mulai unsur agama, pendidikan, pertaniam, lingkungan, politik dan lainnya.

Sebut saja soal pertanian, ia sempat mengajarkan masyarakat tentang cara bercocok tanam padi unggul yang dapat dipanen secara dua kali dalam satu tahun sekitar tahun 1950. Pada waktu itu belum ramai bentuk sosialisasi tentang pengamalan berikut tata cara menanam yang baik. Program ini sukses lantaran ia secara langsung turun ke sawah bersama petani.

Terkait dengan penanaman padi, dirinya juga mengerjakan penanamanan pohon jeruk secara besar di lingkungan tanah wakap Attaqwa di Ujung Harapan, hasilnya digunakan untuk pembiyaan pembangunan Masjid Attaqwa.

Sebutan terakhir ini memang jarang tersebar luas, ketimbang figur ulama dan pejuang dalam kiprah KH Noer Ali. Padahal unsur sosial termasuk di dalamnya membangun kampung seperti membuka akses jalan ke Ujungharapan-Teluk Pucung, Ujungharapan-Babelan dan Ujungharapan-Kaliabang serta jalan kecil seperti gang yang indah meneruak di lingkungan Desa Bahagia Babelan Bekasi. Ide ini berjalan sukses, agar desanya dapat dijangkau dari daerah lain secara dekat.

Karya Karyanya

Karya orsinil yang pernah ditulis antara lain soal buku ajar dalam beberapa bidang studi untuk siswa kelas dasar dan menengah. Sebut saja buku ilmu nahwu, ilmu fiqih, ilmu Tauhid, Mantiq dan tulisan lepas saat dirinya memberi memberikan presentasi dalam sebuah pertemuan dewan guru Attaqwa pada tahun 1970.

Buku ajar tersebut sejatinya dipakai untuk panduan belajar bagi siswa di lingkungan Attaqwa pusat dan cabang. Namun, saat ini tak semua yang memakai buku tersebut lantaran kurikulum yang saat ini dikenakan oleh pendidikan Attaqwa secara ketat menerapkan model dari Departemen Agama yang berujung buku paket tersebut kurang dimanati.

Saat ini Yayasan Attaqwa pusat hanya mendokumentasi hasil rekaman lewat kaset pada acara pengajian mingguan, ceramah agama dan lainnya namun belum diturunkjan dalam bentuk tulisan. Di luar itu, ada beberapa buku yang ditulis tentang dirinya seperti KH Noer Ali Ulama Pejuang karya Ali Anwar Shomad, Singa Karawang Bekasi karya Muhtadi Muntaha dan puluhan skripsi yang mengulas soal dirinya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here