Home Pahlawan KH Noer Ali Pejuang Bekasi yang Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

KH Noer Ali Pejuang Bekasi yang Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

633
0

Oleh: Bagdad Al Bukhari

SejarahOne.id – Terhadap jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Presiden Soeharto pada tahun 1995 memberikan penghargaan Bintang Naraya kepada KH Noer Ali. Lalu oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ditingkatkan lagi menjadi Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana pada 9 November 2006, dalam rangka menjelang Hari Pahlawan Nasional.

Dengan begitu KH Noer Ali merupakan orang Bekasi pertama yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Gelar Pahlawan Nasional memang sangat layak disematkan padanya. Kiprahnya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tidak perlu diragukan lagi.

Bersama murid-murid maupun rekan-rekannya, bahu-membahu mengangkat senjata. Begerilya dari satu kampung ke kampung lain merupakan sesuatu hal yang biasa dilakukan. Hampir tidak ada tokoh nasional dijamannya yang pernah bertempur di timur Jakarta saat perang revolusi yang tidak mengenal dirinya. Presiden Soeharto, Wakil Presiden Adam Malik, Jenderal AH. Nasution adalah sedikit diantaranya.

Pria kelahiran Ujungmalang, 25 Juni 1913 ini merupakan sosok kharismatik. Kelihaiannya dalam dunia politik menempatkannya pada tokoh yang diperhitungkan oleh berbagai pihak. Jika saja tidak mendengar nasihat gurunya saat belajar Islam di Mekah, Syekh Al Maliki, untuk tidak menjadi pegawai pemerintah, mungkin saja dia telah menjadi tokoh nasional. Sebab jaringan yang dimiliki memungkinkannya untuk itu.

Bahkan telah terbukti beberapa kali, namun tidak dia manfaatkan. Misalnya saja saat dia diminta oleh Wakil Residen Jakarta Mohammad Moe’min untuk meneruskan jabatan sebagai Bupati Jatinegara di tahun 1948, tetapi dia menolaknya. Dia pun pernah menjadi Pejabat Bupati Bekasi sementara di tahun 1951, dan tidak ingin diteruskan menjadi permanen.

Manakala Pemerintah Republik Indonesia mengadakan Pemilihan Umum di tahun 1955, Partai Masyumi yang dia pimpin di Bekasi meraih suara terbanyak. Namun setelah Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno di tahun 1960, KH Noer Ali kembali fokus mengurus pesantren yang dia dirikan.

Meski begitu, bukan berarti menjadi sosok yang tutup mata dengan peristiwa yang terjadi pada negara. Dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat tetap menjadi perhatiannya. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat, dilawannya secara elegan dan piawai.

Hingga kemudian sosok Guru Noer Ali, begitu dia biasa dipanggil sebelum Bung Tomo mempopulerkan gelar KH di depan namanya pada awal kemerdekaan melalui corong radio di Surabaya, wafat pada 29 Januari 1992 di rumahnya di lingkungan Pondok Pesantren At Taqwa, Kabupaten Bekasi. Namanya pun tersematkan pada beberapa ruas jalan, Islamic Center, sejumlah ruangan, dan juga nama fly over di pusat kota.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here