Home Pahlawan KH Noer Ali Membangun Politik, Membentengi Ummat (Tulisan 3 –terakhir)

KH Noer Ali Membangun Politik, Membentengi Ummat (Tulisan 3 –terakhir)

231
0

SejarahOne.id – Paska perang kemerdekaan perjuangan KH Noer Alie terus berlanjut dalam bidang politik, pendidikan dan sosial. Maka pada tanggal 19 April 1950 KH Noer Alie ditunjuk sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara.

Peran Politik KH Noer Alie cukup besar dalam perjuangan pergerakan Republik Indonesia terutama untuk wilayah Bekasi. KH Noer Alie juga tercatat sebagai salah seorang yang membidani lahirnya Kabupaten Bekasi yang sebelumnya bernama Kabupaten Jatinegara.

Setelah LPI tidak aktif, maka pada tahun 1953 KH Noer Alie membentuk organisasi sosial yang diberi nama Pembangunan Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (P3) yang kedepannya akan berganti nama menjadi Yayasan Attaqwa. Yayasan P3 adalah induk dari pendidikan SRI, pesantren, dan kebutuhan ummat Islam lainnya.

Pada tahun 1954, KH Noer Alie menginstruksikan kepada KH Abdul Rahman untuk membangun Pesantren Bahagia yang murid pertamanya adalah lulusan SRI Ujung Malang yang berjumlah 54 orang. Setelah dinilai mandiri oleh KH Noer Alie, maka pada tanggal 6 agustus 1956 Yayasan P3 telah mendapat pengakuan secara hukum melalui notaris Eliza Pondang di Jakarta.

Pada pemilu 1955, Masyumi Bekasi memperoleh suara terbanyak. Kemenangan ini tidak terlepas dari kemahiran politik dan kharisma KH Noer Alie. Atas dasar itu ia ditunjuk Masyumi Pusat sebagai salah satu anggota Dewan Konstituante pada bulan September 1956.

Saat aktif di pusat, ia pun hadir dalam Muktamar Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang pada 8-11 Sepetember 1957. Dan dihadiri oleh lebih dari seribu ulama dari Aceh hingga Papua. Disini KH Noer Alie diangkat sebagai anggota Seksi Hukum Majelis Permusyawaratan Ulama Indonesia.

Setelah redupnya kejayaan DPP Masyumi dan diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PPRI) yang didirikan untuk menandingi Pemerintahan Pusat. Maka untuk melindungi umat agar tidak terombang-ambing oleh kekuatan luar yang tidak baik, KH Noer Alie pun bergabung dengan Badan Kerjasama Ulama-Militer (BKS-UM) dan diangkat sebagai anggota Majelis Ulama di Resimen Infanteri 7/III Purwakarta.

Setelah pengunduran dirinya dari pentas politik praktis, kembalinya KH Noer Alie di tengah-tengah umat dimaknai oleh murid dan para pecintanya sebagai hikmah dan rahmat. Bagaimana tidak, kalau sebelumnya mereka jarang bertemu KH Noer Alie, sejak saat itu dapat bertemu setiap hari. Berbagai persoalan, terutama yang menyangkut masalah agama dan politik yang sulit dimengerti umat dapat terjawab memuaskan. Kehadiran KH Noer Alie dirasakan sebagai pembawa kesejukan dan pelindung umat.

Dipindahkannya Pesantren Bahagia dari kampung Dua Ratus ke Ujung Malang memudahkan KH Noer Alie dan para guru dalam proses belajar-mengajar. Selanjutnya tahun 1962 KH Noer Alie mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Persiapan Madrasah Menengah Attaqwa (SPMMA). Sedangkan untuk pendidikan putri, pada tahun 1964 KH Noer Alie mendirikan Madrasah al-Baqiyatus-Shalihat.

Tahun 1963 ia nyaris ditangkap, ketika banyaknya tamu dari luar Bekasi yang berkunjung ke kediaman KH Noer Alie. Kondisi ini dimanipulasi oleh PKI yang membuat isu bahwa tamu yang berkunjung itu adalah anggota DI/TII.

Mendengar pengaduan tersebut aparat keamanan segera mengepung Pesantren Attaqwa. KH Noer Alie pun menyangkal tuduhan itu dan meminta tentara agar menggeledah. “Sekarang kita geledah kampung ini. Kalau terdapat anggota DI, tembak saya. Tapi kalau nggak dapat, ente yang ana tembak”. Medengar keseriusan dan kebenaran argumentasi KH Noer Ale, akhirnya pasukan ditarik mundur.

Ketika terjadi peristiwa G30S/PKI meletus, para santri KH Noer Alie yang tergabung dalam Cabang PII ikut membantu pemberantasan PKI bersama dengan TNI dan generasi muda lainnya. Saat itu juga KH Noer Alie membagikan fotocopy Hizb Shagir kepada masyarakat Ujung Harapan dan sekitarnya yang harus diamalkan ketika bahaya terjadi.

Melihat kemunduran pesantren-pesantren yang disebabkan karena intervensi pemikiran dan modernisasi sekuler, ataupun karena faktor kiainya yang banyak meninggalkan pondok pesantren.

Maka melalui musyawarah antara para kiai dan ulama pemimpin pondok pesantren di Jawa Barat, yang diadakan di Cianjur 4-6 Maret 1972 (19-21 Muharram 1392 H) sepakat membentuk Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat, dengan KH Noer Alie sebagai Ketua Umum Majelis Pimpinan BKSPP didampingi KH Sholeh Iskandar sebagai Ketua Badan Pelaksana BKSPP, KH Khair Effendi dan KH Tubagus Hasan Basri.

Pada tahun 1982-1983 ramai dibicarakan masalah pelarangan jilbab bagi siswi Muslim di SLTP dan SLTA. KH Noer Alie bersama BKSPP membuat Fatwa Ulama Pondok Pesantren tentang busana Muslimah. KH Noer Alie juga menentang RUU Perkawinan 1973 yang menyimpang dari ajaran Islam.

Pada puncaknya ia kerahkan 1000 orang ulama di Pesantren Asyafi’iyyah Jatiwaringin untuk berbaiat tetap memperjuangkan RUU Perkawinan yang sesuai dengan ajaran Islam. Terkenal pula kegiatannya menentang judi-judi resmi seperti Porkas dan SDSB.

Sebagai upaya menghadapi tantangan zaman, sudah waktuknya tampuk kepemimpinan dilimpahkan kepada para kader yang sudah ditempanya sejak lama. Bersamaan dengan itu nama Yayasan Pembangunan Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (P3) juga ikut diganti menjadi Yayasan Attaqwa. Maka KH Noer Alie yang bertindak sebagai Pendiri dan Pelindung, memilih putra tertuanya, KH M. Amin Noer, MA, sebagai Ketua Yayasan Attaqwa.

Bersama H. Suko Martono, pejabat Pemerintah Daerah Bekasi dan tokoh Islam di Bekasi, KH Noer Alie turut serta membentuk Yayasan Nurul Islam, yang salah satu programnya adalah membangun gedung Islamic Centre Bekasi, yang ide pembangunannya berasal dari KH Noer Alie.

Dari catatan lain ditemukan bahwa pada tahun 1984 KH Noer Alie kedatangan tamu pakar sejarah dari Belanda yang ditemani oleh seorang penterjemah dari wartawan koran Pelita.

Dari pembicaraan Pakar sejarah dari Belanda tersebut terkuak bahwa KH Noer Alie, yang oleh penjajah Belanda lebih dikenal sebagai Kolonel Noer Alie. Pakar sejarah dari Belanda itu kagum akan sosok KH Noer Alie dan berkata: “Ternyata seorang Kolonel Noer Alie bukan tentara yang gagah perkasa. Penampilan anda begitu bersahaja. Bahkan sangat sederhana. Malah pakai kain dan kopiah putih. Saya takjub dengan jati diri Anda“.

Tatkala benih “perkampungan surga” mulai dirintis dan cahaya Islam mulai menunjukkan tanda-tanda kecerahannya, sejak awal Mei 1991 KH Noer Alie jatuh sakit. Sembilan bulan kemudian, tepatnya pada 29 Januari 1992, KH Noer Alie wafat, dipanggil Sang Khaliq di rumahnya, di tengah-tengah kompleks Pondok Pesantren Attaqwa Putri yang dirintisnya sejak muda.

Sumber data: Anwar, Ali. 2006. “KH NOER ALIE KEMANDIRIAN ULAMA PEJUANG, Bekasi” – Yayasan Attaqwa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here