Home Khasanah Ketika Semangat Gandhi Memunculkan Kebencian

Ketika Semangat Gandhi Memunculkan Kebencian

142
0

Oleh. Hana Wulansari

Sejarahone.id – Buya Hamka dalam bukunya Ghirah, Cemburu Karena Allah (GIP, 2016) banyak bercerita bahwa Mahatma Gandhi yang sering dielu-elukan sebagai bapak humanisme dan pluralisme dunia dari India adalah sosok yang paling benci kepada Islam. Gandhi memiliki semangat luar biasa fanatik terhadap agamanya (Hindu). Gandhi totalitas menyebarkan dan menguatkan eksistensi Hindu di India. Gandhi sebenarnya yang amat tak suka Islam berkembang di India meski cara mencegahnya terlihat “halus”.

Jadi, kebencian orang-orang Hindu di India terhadap Islam telah ada sejak berpuluh tahun sebelumnya. Kebencian tersebut bukan tiba-tiba berkobar. Diskriminasi dan penindasan terhadap kaum muslimin di India sekarang sebenarnya karena bibit kebencian terhadap Islam yang memang sudah mengakar dan terus menerus disemaikan di India.

Dalam buku Ghirah, Buya Hamka menceritakan, dalam perbedaan Hindu dan Islam terdapat beberapa kisah cinta terajut. Alkisah, terdapat cerita cinta seorang gadis cantik Vijaya Lakshmi, bangsawan Hindu, yang merupakan adik Yawaharal Nehru. Kisahnya bermula dari pertemuan majlis yang konsen terhadap perjuangan kemerdekaan dan kemajuan India. Saat itu adalah jaman perang kemerdekaan, di bawah pimpinan kongres berdirilah para pemimpin di sekeliling Gandhi. Ketika itu, belum terjadi perpecahan pemimpin Hindu dan Muslim. Di antara anggota majelis, turut serta perempuan cantik  Vijaya Lakshmi Pandit sebagai anggota yang cukup aktif. Di samping itu ada pula seorang pemuda Islam bernama Dr. Said Husain.

Semboyan selama ini adalah Persatuan Hindu-Muslim membela ibu pertiwi. Vijaya dan Said Husain, keduanya aktif sebagai anggota majelis untuk kemajuan India. Berhari-hari berinteraksi, keduanya saling mencintai. Berbeda agama tidak menjadi dinding bagi asmara mereka. Keduanya sama-sama berpendidikan tinggi. Harapannya perkawinan mereka akan jadi simbol persatuan Hindu Islam.

Namun, sayangnya Gandhi yang dijuluki “Nabi”nya Persatuan India dan Motial Nehru bangsawan hartawan yang luas faham pula menentang hubungan mereka. “Tidak, tidak, tidak….! Darah Aria yang tinggi, darah Hindu keturunan Pandit, tidak akan diserahkan kepada seorang Islam. Tidak!” demikian Motial Nehru menolak. Ayah Vijaya,  Motial Nehru membujuk, janganlah dilangsungkan perkawinan itu. Dan abangnya Yawaharal Nehru pun, yang terkenal bijak, meminta jangan dilangsungkan, karena masyarakat Hindu tidak akan menerimanya. Tetapi tidak berhasil. Vijaya kekeh.

Akhirnya Gandhi pun turun tangan. Dia pergi kepada Vijaya. Dia sujud bertiarap di bawah kaki puteri jelita itu. Gandhi berkata bahwa dia tidak akan mengangkat kepalanya, sebelum Vijaya berjanji bahwa perkawinan itu tidak akan dilangsungkan. Akhirnya Vijaya patah!

Seorang wanita yang berbudi halus, tidaklah dapat bertahan lagi, menyerah di depan seorang pribadi agung India yang sudi meniarap di bawah kakinya. Vijaya terpaksa tunduk! Lalu menerima saat Gandhi memilihkan buat dia seorang pemuda Hindu buat jadi suaminya.

Untuk mencegah pengaruh kenangannya kepada Said Husain, pemuda ini diutus ke Amerika Serikat buat belajar. Di sanalah pemuda itu hidup sampai 20 tahun berlalu.

Beberapa lama kemudian suami Vijaya meninggal dunia. Sedangkan Said Husain masih tinggal di Amerika, dan belum menikah. Apa hendak dikata, masa muda telah berlalu 20 tahun. Tubuh sudah tidak muda lagi, dan  uban pun telah mulai menjuntai di kepala mereka.

Setelah suaminya meninggal, Vijaya datang ke Amerika, untuk menjumpai mantan kekasihnya. Tetapi apa hendak dikata akhirnya mereka lebih memilih bersahabat. Setelah India merdeka, Dr. Said Husain diangkat menjadi Duta Besar India yang pertama buat Mesir. Beberapa tahun setelah menjadi Duta Besar untuk Mesir, Dr. Said Husain meninggal dan belum pernah menikah.

Bayangkan demi agamanya, Gandhi sudi sujud di kaki seorang perempuan!

Begitu hebatnya cemburu Gandhi kalau martabat agamanya tersinggung. Meskipun kelihatannya, ia dikenal begitu lemah lembut dan berperikemanusiaan.

Tak Rela Jika Ada Yang Masuk Islam

Dalam buku Ghirah diceritakan pula,  pada tahun 1936 terdengar kabar anak sulung Motial Gandhi masuk Islam di Amerika Selatan. Terjadi keributan besar! Gandhi rela puasa sampai mati karena sedihnya. Segala upaya ia lakukan tapi tidak dengan kekerasan. Dan pada akhir cerita, akhirnya anak sulung Motial Nehru kembali pada agama Hindu.

Kisah berikutnya, terjadi pada tahun 1938 seorang gadis Islam bernama Raihanah Thaib jatuh cinta pada seorang pemuda hartawan Hindu. Kemenakan dari seorang milyuner Hindu, Chankarlal. Mereka akhirnya berhasil menikah. Maka orang yang lebih dulu mengirim berita untuk mengucapkan selamat atas perkawinan itu, di malam pertama tak lain dan tak bukan ialah Mahatma Gandhi. Bayangkan! Dia keberatan jika kaumnya masuk Islam, tetapi jika ada seorang Muslim yang berhasil dibawa kepada Hindu dia sangat sukacita.

Kemudian, kisah berikutnya adalah tentang advokat besar beragama Hindu bernama Kannyalal Yaba yang masuk Islam di bawah pimpinan Penyair Iqbal. Gandhi sangat berduka cita lalu ia datang sendiri ke Lahore dengan penuh lemah lembut membujuk Yaba agar kembali memeluk agama nenek moyang, namun Yaba menanggapinya hanya dengan senyum. Ia tetap muslim dan mengganti nama Khalid Lathif Yaba.

Dan, cerita yang cukup membuat Gandhi gusar adalah ketika beberapa orang Kasta Dalit masuk Islam. Kasta Dalit adalah Kaum hina dina di India. Dalit adalah kasta terendah di India yang bahkan tak dimasukkan dalam empat tingkatan sistem varna (Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra)-pen). Kasta ini dipimpin Dr.Ambedkar seorang ekonom dan pembaharu. Mereka beramai-ramai masuk Islam.

Gandhi kelabakan. Ia buru-buru bikin kepanitiaan untuk mencegahnya padahal kasta ini di India tidak dianggap, bahkan tidak diijinkan masuk kuil karena dipandang hina. Apa yang Gandhi lakukan?

Gandhi Melakukan Puasa sampai mati! Dia tidak  makan roti dan nasi tapi hanya minum susu kambing dan buah-buahan.

Kata Buya dalam bukunya, Gandhi adalah lambang dari perasaan Hindu yang tidak menyukai Islam terutama saat Islam bangkit. Ia tak setuju jika Islam memperoleh kebebasan . Gandhi tidak setuju negara Pakistan berdiri. Gandhi membenci Islam dengan cara lembut.

Ada kalangan Hindu yang lebih-lebih bencinya yakni golongan Hindu Mahasbha. Mereka ingin jika kekuasaan ada di tangan hendak mengikis habis umat Islam dari bumi India. Gandhi tak setuju, dia tetap ingin membenci Islam dengan caranya sendiri. Akhirnya dia mati jadi korban oleh kalangan mereka sendiri- Hindu Mahasbha bukan oleh umat Islam. Kini setelah Gandhi wafat (1948), teror dan pengejaran terhadap umat Islam di India masih berlangsung hingga sekarang.

Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Narendra Modi yang sekarang jadi perdana menteri, menjadi momok yang menakutkan bagi Muslim India setelah kemenangannya dalam pemilu. Buya Hamka benar, penindasan terhadap muslim akan terus berlangsung di India karena bibit kebencian itu sudah mendarah daging.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here