Home Khasanah Ketika Khilafah Utsmani Berakhir

Ketika Khilafah Utsmani Berakhir

32
0

Oleh. Hana Wulansari

Sejarahone.id – Sejarah Kilafah Utsmani berakhir pada 3 Maret 1924, yakni setelah berdiri kurang lebih selama 625 tahun. Majelis Nasional Agung dalam sidang sejak Februari 1924 memutuskan untuk menghapus jabatan khalifah pada 93 tahun lalu. Abdul Majid II yang menjabat khalifah dipersilakan meninggalkan Turki. Ia bersama keluarganya menuju Swiss.

Dinasti Ustmani berkuasa lebih dari enam abad. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian Asia, Afrika, dan Eropa. Puncak kejayaan Utsmani berlangsung pada masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1566). Setelah itu, Utsmani semakin lemah karena pemertakan internal dan kalah perang melawan bangsa Eropa.

Dari Khilafah Menjadi Republik

Kerajaan Utsmani akhirnya diganti dengan Republik Turki. Dalam buku Ensiklopedi Islam dijelaskan, Kerajaan Ottoman mulai melemah setelah wafatnya Sulaiman al-Qanuni. Sultan-sultan yang menggantikannya umumnya lemah dan tidak berwibawa. Penyebab lainnya adalah kehidupan mewah dan berlebih-lebihan di kalangan pembesar istana, sehingga banyak terjadi penyimpangan dalam keuangan negara.

Pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1640-1648) suasana dalam negeri Kerajaan Ottoman menjadi semakin kacau. Para wanita (ibu suri dan permaisuri) turut campur dalam mengendalikan roda pemerintahan. Ibrahim adalah seorang sultan yang sangat lemah, sehingga ia hanya dijadikan boneka oleh wazirnya (perdana menteri) yang bernama Mustafa.

Pada hakikatnya Mustafalah yang memegang tampuk kekuasaaan. Akan tetapi, kepemimpinan Mustafa tidak mampu menentramkan suasana, bahkan mengundang banyak permusuhan di kalangan pembesar istana. Pada 1876 Sultan Hamid II naik takhta.

Pemerintahannya bersifat absolut dan penuh kekerasan. Karena itu, timbul rasa tidak senang baik di kalangan sipil maupun di kalangan militer. Gerakan-gerakan oposisi terhadap pemerintah absolut Sultan Abdul Hamid II inilah yang kemudian dikenal dengan nama Gerakan Turki Muda dengan pelopornya, antara lain, Ahmad Riza (1859-1931), Muhammad Murad (1853-1912), dan pangeran Sahabuddin (1877-1948).

Sementara itu, kelompok militer semakin memperketat usaha mereka untuk menggulingkan Sultan dengan membentuk komite-komite rahasia, seperti komite perkumpulan persatuan dan kemajuan. Salah seorang pemimpin komite itu adalah Mustafa Kemal yang kemudian populer dengan panggilan Kemal Ataturk (Bapak Bangsa Turki).

Cikal Bakal Kemunduran

Kemunduran Turki Utsmani terjadi sejak pemerintahan Sultan Muhammad III (1594). Namun, sebagai negara yang besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat, karena masih ada usaha para Sultan dalam menyelamatkan negara, tetapi keadaan ini sangat mengganggu pola kehidupan Daulah Utsmaniyah. Setelah itu pemerintahannya dilanjutkan oleh 19 orang Sultan Turki Utsmani sampai berdirinya Republik Turki.

Namun, kekuasaan para sultan tersebut tidak sebesar dan sekuat sultan-sultan sebelumnya. Dalam 88 tahun berikutnya (1595-1683) Turki Utsmani tidak hanya menderita kerugian teritorial, tetapi daerah penaklukan mereka diambil alih.

Pada saat di bawah pimpinan Sultan Murad IV, Kesultanan tampaknya menghidupkan kembali kemegahan yang telah dicapai di bawah Sultan Sulaiman. Namun, penampilan eksternal ini menipu, benih disintegrasi menyerang struktur dalam negara dengan hasil yang menjadi nyata dalam abad berikutnya. Bencana melanda Daulah Utsmaniyah antara 1683 dan 1699 atau dalam 16 tahun, yang diikuti kegagalan upaya Turki Utsmani kedua untuk menyerbu Wina.

 

Pada masa kemundurannya, sebagian sultan Turki Utsmani lebih suka bersenangsenang sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, Daulah Utsmaniyah dapat diserang oleh musuh dari Eropa, seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Abu al-Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi dalam bukunya, Madza Khasira al-‘Alam bi Inhithath al-Muslimin menggambarkan dengan sangat jelas kelemahan ekonomi, sains, agama, dan sosial serta moral, yang mengakibatkan kemunduran politik dan militer Daulah Utsmaniyah.

 

Pada 1908 perkumpulan Persatuan dan Kemajuan dapat mendesak Sultan Abdul Hamid II untuk menghidupkan kembali Konstitusi 1876. Akibat desakan itu, pemilihan umum diadakan dan terbentuklah parlemen baru yang diketuai oleh Ahmad Riza dari perkumpulan Persatuan dan Kemajuan. Di dalam parlemen baru itu, Turki muda juga turut memegang kekuasaan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here