Home Merdeka Ketika Kesultanan Demak Melawan Portugis

Ketika Kesultanan Demak Melawan Portugis

80
0

SEJARAHONE.ID – Ketika kerajaan Malaka jatuh ketangan Portugis tahun 1511 M, hubungan Demak dan Malaka terputus. aan Demak merasa dirugikan oleh Portugis dalam aktivitas perdagangan. Oleh karena itu, tahun 1513 M Raden Patah memerintahkan Adipati Unu memimpin pasukan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka.

Serangan itu belum berhasil, karena pasukan Portugis jauh lebih kuat dan persenjataannya lengkap. Atas usahnya itu Adipati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor. B. Penyebaran dan Perkembangan Islam pada Masa Kejayaan Raden Patah Sebagai pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa, Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak merupakan kerajaan berbasis Islam pertama di pulau Jawa.

Perkembangan Islam dipulau Jawa tidak lain berawal dari sebuah kerajaan di daerah Demak ini atau disebut Kerajaan Demak. Secara geografis, kerajaan Demak terletak di daerah Demak, didaerah Jawa Tengah. Oleh masyarakat sekitar, Demak juga dikenal dengan sebutan Bintoro atau Glagah wangi. Kerajaan Demak merupakan “bawahan” dari kerjaan Majapahit. Jika dibandingkan dengan umur, kerajaan Demak jauh lebih muda dari kerajaan Majapahit. Namun, berbicara sejarah, kerajaan Demak tidak pernah lepas dari pengaruh kerajaan Majapahit. Tentu saja, karena raja dari kerajaan Demak, Raden Patah adalah seorang bupati dari kerajaan Majapahit berpindah kepercayaan menjadi Islam.

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam yang paling besar di pantai Utara Jawa. Berdasarkan sebuah sumber dari tradisi Jawa, Demak awalnya adalah keadipatian (kediPatin) dari kerajaan dan termasuk pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa khususnya di Indonesia. Raden Patah dalam menjalankan pemerintahan, terutama dalam persoalan-persoalan agama, dibantu oleh para ulama yang mengangkatnya itu. Sebelumnya, Demak yang masih bernama Bintaro merupakan daerah Majapahit (Brawijaya V) kepada raden Patah. Daerah ini lambat laun menjadi pusat perkembangan agama Islam yang diselenggarakan agama Islam yang diselenggarakan oleh para Wali.

Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah.Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadiPatin) vasal dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya.

Sultan pertama kerajaan Demak adalah Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al Patah. Raden Patah adalah putra Raja Kertabumi (Brawijaya V) dari Majapahit dengan putri Cina. Pada waktu itu Raden Patah sebagai Bupati Demak, yang secara resmi masih di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah Demak menjadi kuat dan ketika Majapahit dipegang oleh Girindrawarna, pada tahun 1500 Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Dengan dibantu oleh wali, Raden Patah kemudian memproklamasikan berdirinya Kerajaan Islam yang terkenal dengan sebutan Kesultanan Demak.

Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan Demak kemudian berkembang menjadi kerajaan besar. Di bawah pimpinan raja dan dibaritu oleh para wali, Demak berkembang menjadi pusat penyebaran agarna Islam yang sangat penting. Tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis. Kejatuhan Malaka tersebut menjadikan Demak menjadi semakin penting peranannya sebagai pusat penyebaran agama Islam. Dengan bantuan para ulama, Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Dalam waktu singkat, Demak berkembang menjadi kerajaan besar.

Dalam pengembangan agama Islam, Demak berperan penting. Pada waktu itu Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam. Penyebar agama Islam dengan sebutan wali. Sebagai tempat beribadah dan pusat kegiatan agama para wali mendirikan Masjid di Demak.

Kejayaan Kerajaan Demak pada Masa Raden Patah

Kerajaan Demak dibawah Pimpinan Raden Patah (1478 – 1518) Nama kecil raden patah adalah pangeran Jimbun. Pada masa mudanya raden patah memperoleh pendidikan yang berlatar belakang kebangsawanan dan politik. 20 tahun lamanya ia hidup di istana Adipati Palembang. Sesudah dewasa ia kembali ke majapahit. Raden Patah memiliki adik laki-laki seibu, tapi beda ayah. Saat memasuki usia belasan tahun, raden patah bersama adiknya berlayar ke Jawa untuk belajar di Ampel Denta. Mereka mendarat di pelabuhan Tuban pada tahun 1419 M.

Patah sempat tinggal beberapa lama di ampel Denta, bersama para saudagar muslim ketika itu. Di sana pula ia mendapat dukungan dari utusan Kaisar Cina, yaitu laksamana Cheng Ho yang juga dikenal sebagai Dampo Awang atau Sam Poo Taijin, seorang panglima muslim. Raden patah mendalami agama Islam bersama pemuda-pemuda lainnya, seperti raden Paku (Sunan Giri), Makhdum ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat). Setelah dianggap lulus, raden patah dipercaya menjadi ulama dan membuat permukiman di Bintara. Ia diiringi oleh Sultan Palembang, Arya Dilah 200 tentaranya.

Raden patah memusatkan kegiatannya di Bintara, karena daerah tersebut direncanakan oleh Walisanga sebagai pusat kerajaan Islam di Jawa. Di Bintara, Patah juga mendirikan pondok pesantren. Penyiaran agama dilaksanakan sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Perlahan-lahan, daerah tersebut menjadi pusat keramaian dan perniagaan. Raden patah memerintah Demak hingga tahun 1518, dan Demak menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa sejak pemerintahannya.

Secara beruturut-turut, hanya tiga sultan Demak yang namanya cukup terkenal, Yakni Raden Patah sebagai raja pertama, Adipati Muhammad Yunus atau Pati Unus sebagai raja kedua, dan Sultan Trenggana, saudara Pati Unus, sebagai raja ketiga (1524 – 1546). Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, diantaranya adalah perluasan dan pertahanan kerajaan, pengembangan islam dan pengamalannya, serta penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa). Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia melanklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan majapahit.

Selain itu, Patah juga mengadakan perlawan terhada portugis, yang telah menduduki malaka dan ingin mengganggu demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor (1511), meski akhirnya gagal. Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang menggantikan ayahnya pada tahun 1518. Dalam bidang dakwah Islam dan pengembangannya, Raden patah mencoba menerapkan hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisanga. Masjid agung Demak sebagai lambang kekuasaan bercorak Islam adalah sisi tak terpisahkan dari kesultanan Demak Bintara. Kegiatan walisanga yang berpusat di Masjid itu. Di sanalah tempat kesembilan wali bertukar pikiran tentang soal-soal keagamaan. Masjid demak didirikan oleh Walisanga secara bersama-sama. Babad demak menunjukkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun Saka 1399 (1477) yang ditandai oleh candrasengkala Lawang Trus Gunaning Janma, sedangkan pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri pada tahun 1479.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here