Home Ekonomi Kereta Api Pertama di Tanah Air Ditujukkan Angkut Hasil Bumi

Kereta Api Pertama di Tanah Air Ditujukkan Angkut Hasil Bumi

35
0

SEJARAHONE.ID – Kereta api disediakan VOC dan pembangunan rel kereta nya awalnya diperuntukan untuk menghisap sebanyak-banyaknya hasil bumi Pulau Jawa, demi kemakmuran Raja Belanda di tanah rendah Belanda. Kereta api pertama di Pulau Jawa, dalam sejarahnya  perkereta api  tak lepas dari kota Semarang. Ketika itu Semarang adalah kota pelabuhan yang ramai transaksi hasil bumi.

Stasiun Semarang, circa 1867. FOTO/KITLV

Stasiun Kereta Api Pertama di Semarang

Pada tahun 1914, VOC dan pemerintah Belanda membangun rel kereta dengan pekerja gratis dari rakyat jajahan. Panjang keseluruhan rel kereta api di Jawa itu, menurut Th. M. B. Van Marle dalam tulisannya De Ontwikkeling van de Spoor- en Tramwegen in Nederlandsch-Indie (1914), mencapai 4.486 kilometer. Tulisan yang terdapat di dalam laporan gelaran Koloniale Tentoonstelling itu mengulas tentang sejarah perkereta-apian di Hindia Belanda serta capaian-capaian 18 perusahaan operator kerata api—baik milik negara maupun pertikelir—di Pulau Jawa, Madura dan Sumatera.

Kereta api di Pulau Jawa dari Belanda Sejarah kereta api di Indonesia, tak lepas dari kota Semarang. Gemuruh mesin kereta api lebih dulu terdengar tak jauh dari sekitar kota Semarang.

Semarang adalah kota pelabuhan di Jawa Tengah yang kerap dilimpahi hasil bumi dari kabupaten-kabupaten di sekitarnya. Sebelum hasil bumi itu dikapalkan, ongkos angkut dari kebun ke pelabuhan, setidaknya lebih dari 1 gulden. Ongkos angkut itu tak jarang membengkak. Pernah kejadian ongkos angkut dari Kedu ke Semarang, meningkat dari 1.50 gulden per pikul pada 1835 hingga 3.30 gulden per pikul pada 1840. Ongkos itu sudah dianggap tinggi dan tidak ada jaminan barang sampai tepat waktu. Tak heran jika kapal-kapal harus menanti tiga sampai lima bulan hingga muatan penuh dan siap untuk diperdagangkan. Baca juga: Kereta Api Harus Ada di Nusantara Dahulu, Kini, dan Masa Depan Ada di Kereta Sekitar tahun 1860, kebutuhan akan moda angkut yang lebih baik sangat mendesak, apalagi di Vorstenlanden (wilayah kerajaan) terjadi peningkatan besar-besaran komoditas perkebunan, terutama gula.

Di tahun yang sama, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pun mengirim Insinyur Stieltjes, untuk menyelidiki kemungkinan dibangunnya jaringan kereta api di Pulau Jawa. Akhirnya, tahun 1862 sebuah konsesi diberikan Pemerintah Kolonial kepada Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Perusahaan partikelir itu di izinkan untuk membangun rel kereta api dari Semarang ke Solo dan Yogya, dengan percabangan ke arah Ambarawa—demi mobilitas militer Belanda.

NIS juga beroleh konsesi membangun jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (kini Bogor). Dengan berbagai masalahnya, termasuk gempa bumi hingga biaya membengkak, pada 10 Agustus 1867, NIS meresmikan layananan kereta api pertamanya dari Semarang menuju Tanggung, sebuah desa yang kini masuk wilayah Kabupaten Grobogan.

Jalur yang membentang sejauh 25 kilometer ini memiliki beberapa pemberhentian antara lain Stasiun Alas Tuwa dan Stasiun Brumbung. Jalur itu, adalah tonggak awal sejarah perkeretaapian Indonesia. Sebuah peristiwa yang akan mengubah arus mobilisasi di Indonesia. Mencari Stasiun Semarang NIS Apakah masih ada jejak-jejak sejarah yang masih bisa disaksikan dari peristiwa yang terjadi yang pada tahun ini tepat 150 tahun silam? Mengacu pada buku bertajuk Sejarah Perkeretaapian Indonesia (1997) yang disusun Tim Telaga Bakti Nusantara, Stasiun Pertama di Kota Semarang itu adalah Kemidjen (Kemijen). Pendapat ini pun jadi rujukan.

Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bahkan memajang papan nama Kemidjen untuk mengabadikannya. Tahun 2008, hasil temuan riset para pelestari perkeretaapian Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Railways Preservation Society (IRPS) punya pendapat lain yang jauh lebih kuat ketimbang yang tercantum di buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia. “Keraguan kami didasarkan pada tiga hal, yang pertama bagaimana mungkin stasiun pertama yang begitu penting diberi nama sebuah desa (Kemijen), lalu melihat pada foto yang ditampilkan di buku tersebut, bangunannya tidak nampak seperti bangunan stasiun, melainkan lebih mirip rumah sinyal dan yang terakhir bukankah perusahaan NIS yang membangun jalur KA pertama itu?

Namun foto yang ditampilkan itu adalah bangunan di jalur milik Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), bukan NIS,” ujar Ir. Tjahjono Rahardjo, akademisi Universitas Soegijapranata dan salah satu pegiat di IRPS Semarang yang ikut merekonstruksi jejak stasiun pertama di Indonesia. Bersama dua rekan IRPS Semarang—Karyadi Baskoro dan Dede Herlambang—juga bantuan analisa peta-peta kuno dari seorang kawan dari Jerman, Stevan Mattheus, Tjahjono akhirnya berhasil menemukan kembali koordinat GPS dari Stasiun Semarang.

Tjahjono tidak sebetulnya tidak menyangka akan menemukan sisa bangunan stasiun yang menurut sejarah telah dibongkar pada tahun 1914 untuk kemudian dibangun stasiun baru yang lebih dekat dengan kawasan kota, yang kini dikenal sebagai Stasiun Semarang Tawang. “Di sana kami bertemu dengan Pak Ramlan dan Pak Masno Hadi, keduanya merupakan eks masinis PT. Kereta Api Indonesia (KAI), dan menunjukkan sisa-sisa bangunan dari stasiun pertama di Indonesia itu, beliau tentunya paham betul karena masih mengoperasikan rangkaian kereta menuju ke pelabuhan saat jalur masih aktif”, tambah Tjahjono yang juga merupakan bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang itu.

Situsnya kini telah dipetak-petak menjadi rumah dan tenggelam sedikitnya tiga meter karena parahnya penurunan tanah di kawasan utara Kota Semarang. Ditilik dari Konsol-konsol tembaga, bentuk ventilasi, dan kusen-kusen yang tersisa sama persis dengan arsip foto-foto kuno stasiun ini. Hal ini menguatkan bahwa bangunan inilah Stasiun Samarang milik NIS, stasiun kereta api pertama di Indonesia. Baca juga: Jalur-jalur Mati Kereta Api Jika Stasiun Semarang NIS kondisinya hampir-hampir sulit dikenali sebagai stasiun kereta api, berbeda dengan Stasiun Tanggung—yang menjadi bagian dari jalur kereta api pertama di Indonesia ini.

Stasiun kereta api yang terletak di desa Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah) ini masih aktif. Masih menjadi pengatur arus lalu lintas kereta api—baik arah Solo maupun arah Jawa Timur.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here