Home Khasanah Kemasyhuran Kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam Terdengar Hingga ke Eropa.

Kemasyhuran Kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam Terdengar Hingga ke Eropa.

75
0

SEJARAHONE.ID – Pada masa Samudera Pasai, penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara sedang berlangsung. Berbagai kesultanan yang ada di wilayah Asia Tenggara seperti Kesultanan Sulu dan Kesultanan Maguindanao sudah terkoneksi satu sama lain.

Namun, Portugis dan Spanyol dari Eropa tertarik dengan kekayaan alam, kemajuan dan berbagai potensi yang ada di Asia Tenggara.

Portugis dan Spanyol pernah merebut bandar-bandar atau kota-kota pelabuhan yang dikelola oleh umat Islam. Hingga suatu ketika Samudera Pasai runtuh terdampak invasi yang dilakukan Portugis.

Kemudian berdiri Kesultanan Aceh Darussalam yang kembali membangun kekuatan di wilayah Aceh. Aceh Darussalam secara bertahap merebut kembali bandar-bandar yang dikuasai Portugis di Selat Malaka. Sebagaimana diketahui, Selat Malaka adalah rute yang digunakan untuk berlayar ke Makkah oleh jamaah haji dari Asia Tenggara, juga sebagai jalur perdagangan dan jalur laut yang sangat penting.

Perjuangan Aceh Darussalam merebut bandar-bandar strategis tersebut juga demi kepentingan umat Islam agar pelayaran mereka ke Makkah untuk berhaji tidak menemui hambatan. Dalam proses peperangan melawan penjajah Portugis yang berlangsung selama 100 tahun lebih, Kesultanan Aceh Darussalam menjalin hubungan dan meminta bantuan dengan Kesultanan Turki Utsmani.

Ketua Umum Lembaga Masyarakat Peduli Sejarah Aceh, Mizuar Mahdi menjelaskan, hubungan Kesultanan Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh Darussalam kemungkinan sudah terjalin sejak masa kepemimpinan Sultan Ali Mughauat Syah sebagai sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam yang wafat pada 936 Hijriyah atau 1530 Masehi. Sultan Alauddin Ri’ayat Syah, anak dari Sultan Ali Mughauat pernah berkirim surat ke Turki Utsmani yang dipimpin oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni anak dari Sultan Selim I.

“Isi surat tersebut berisi permintaan bantuan dari Aceh Darussalam kepada Turki Utsmani, karena pada awal abad ke-16 itu, Aceh sedang berperang dengan Portugis,” kata Mizuar.

Ia menceritakan, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah meminta Turki Utsmani mengirim ahli-ahli artileri untuk membuat meriam. Pada masa itu, hanya Turki Utsmani yang mampu membuat meriam berukuran besar. Bisa dikatakan tidak ada yang bisa menandingi meriam buatan para ahli artileri dari Turki Utsmani di masa itu.

Sebelumnya, banyak bandar jatuh ke tangan Portugis. Berdasarkan catatan pada kitab Tuhfat Al Mujahidin karya Syekh Zainudin Lemari Bari diceritakan, banyak bandar jatuh ke tangan Portugis, tapi ada satu bandar yang berhasil direbut kembali, yaitu Bandar Aceh Darussalam yang direbut dan dikuasai oleh Sultan Ali Mughauat.

Dikutip dari Republika.co.id

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here