Kelahiran Jakarta, Ketika Fatahilah Mengusir Portugis dari Sunda kelapa

    146
    0
    Pelabuhan Sunda Kelapa, Cikal Bakal Jayakarta

    Oleh Alwi Shihab

    SejarahOne.id – Prof Husein Djajaningrat dalam disertasinya  menyatakan Jayakarta diartikan volbrachtezege (kemenangan yang selesai) setelah bandar ini direbut dari Kerajaan Pajajaran dan sekaligus mengusir Portugis. Pajajaran merupakan kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa pada waktu itu. Sedangkan Fatahillah adalah ipar Sultan Demak, Tranggono, yang dipercaya memimpin gerakan tentara ekspedisi ke Jawa Barat.

    Kelahiran Jayakarta merupakan pembenturan tiga kekuatan waktu itu. Yakni Kesultanan Demak, Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Portugis yang sudah punya pancangan kaki di Malaka sejak 1511, yaitu sejak negara di Eropa selatan ini merebut kota itu dari tangan orang Melayu.

    Menurut Mr Hamid Algadri, saat Pajajaran yang Hindu mengadakan perjanjian persahabatan dan perdagangan dengan Portugis, masih dalam suasana Perang Salib. Kedatangan Portugis dalam kaitan Perang Salib untuk memotong perdagangan orang Arab yang telah datang ke Nusantara sejak pra Islam.

    Kedatangan Portugis, yang kemudian disusul oleh Belanda, menurut Algadri, merupakan kelangsungan perang melawan Islam di Spanyol dan Timur Tengah. Hal ini disebabkan adanya rute perdagangan yang sejak berabad-abad menghubungkan Kepulauan Indonesia dengan negeri-negeri di sekitar Laut Merah dan Teluk Parsi.

    Rute perdagangan itu tidak saja ke Kepulauan Indonesia tetapi terus melanjut ke negeri Cina. Rute perdagangan tersebut memberi banyak keuntungan bagi para pedagang Islam, termasuk di dalamnya pedagang Arab, dan mengakibatkan kemakmuran di negeri sekitar Teluk Parsi dan Laut Merah.

    D’ Albuquerque, gubernur Portugis di Malaka, pernah berpidato di depan pasukannya di Malaka, bahwa dengan memandulkan orang-orang Moor (Islam dan Arab) dari perdagangan rempah-rempah, orang Portugis berharap menyerap kekuatan Islam.

    Hasilnya, pihak Portugis kecewa berat. Setelah mengadakan perjanjian dengan Kerajaan Pajajaran, Francius da Silva, panglima armada Portugis saat akan mendarat di Teluk Jakarta menduga akan disambut dengan meriah oleh pejabat-pejabat Pajajaran yang bertugas di Sunda Kalapa. Ternyata mereka disambut dengan senjata oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Fatahillah. Armada Portugis berhasil dipukul mundur hingga melarikan diri kembali ke Malaka.

    Mencari Jejak Fatahillah

    Sayangnya, di Museum Sejarah Jakarta hampir tidak didapati bahan-bahan awal berdirinya Jayakarta tahun 1482. Ini karena hampir seluruhnya didominasi sejarah peninggalan VOC. Karenanya, museum yang pada masa VOC berfungsi sebagai Balaikota (Stadhuis) Batavia itu pantas disebut Museum VOC.

    Karena itu, tidak heran jika kita hanya menduga-duga dimana tepatnya dulu Keraton Jayakarta dan tempat Fatahillah mengusir Portugis di Teluk Jakarta. H Misbach Yusa Biran ketika menggarap film Fatahilah mengalami kesulitan mencari sosok pemain yang wajahnya mirip pendiri kota Jayakarta itu. Dia memutuskan mencari orang berwajah ke Arab-araban, karena menurut catatan Fatahillah berasal dari Persia.

    Keturunan Fatahillah, Pendiri Kota Jakarta - Sejarah Cirebon

    Fatahillah berhasil Mengusir Portugis dari Sunda Kelapa

    Bukan hanya itu, hari kelahiran kota Jakarta, 22 Juni 1527, juga diperdebatkan. Dua orang profesor pernah bertarung mengenai penetapan tanggal tersebut.

    Yang pertama kali menetapkan tahun 1527 sebagai tahun kelahiran Jayakarta adalah almarhum Prof Dr PA Hussein Djajaningrat dalam disertasinya berjudul Critische Beschouwaring van den Sejarah Banten yang dipertahankan di Universitas Leiden, Belanda. Namun yang menentukan 22 Juni 1527 sebagai hari lahir Jayakarta adalah Prof Dr Sukanto.

    Kembali mengenai penentuan HUT Jakarta, Prof Dr Mr Sukanto, guru besar sejarah pada Fakultas Kedokteran UI, menulis sebuah risalah berjudul Dari Djajakarta ke Djakarta. Dia mencoba melengkapi tahun kelahiran Jayakarta dengan tanggal dan bulannya.

    Fatahillah mengutip Alquran untuk kemenangan tersebut dengan ayat ‘Inna fatahna laka fatham mubinah’ (Sesungguhnya aku telah memberikan kemengan yang jelas). Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad SAW menaklukkan kota Mekah dari kaum Qurais. Prof Husein Djajaningrat mengaitkan saat Fatahilah mengusir armada Portugis dengan hari besar Islam, yakni hari peringatan Maulid Nabi, 12 Rabiul Awal, yang jatuh pada 1 Juni 1527.

    Namun menurut sejarawan Adolf Heyken SJ, hari jadi Jakarta hanyalah sebuah dogeng. Karena, katanya, tak ada dokumen yang menyebutkan nama Jayakarta. Bahkan 50 tahun sesudahnya (saat VOC berkuasa), tetap disebut Sunda Kalapa.

    ”Fatahillah orang Arab, jelaslah tidak mungkin apabila orang Arab memberi nama sesuatu dengan bahasa sansekerta dan Jayakarta adalah nama sanksekerta. Jadi itu semua dongeng supaya Jakarta memiliki hari ulang tahun.”

    Meskipun demikian, Heyken mengatakan tidak anti dongeng. “Yang penting kita harus jujur dongeng adalah dongeng dan dongeng berbeda dengan sejarah” (Majalah Figur). Dia menyebutkan asal nama kota Roma, ibukota Italia, yang diambil dari sebuah dongeng terkenal yaitu dongeng Romus dan Romulus.

    Prof Dr Sukanto menduga hari lahir kota Jayakarta (Jakarta) 22 Juni 1527 pada saat peringatan maulid Nabi. Pendapat ini diterima oleh Pemda DKI Jakarta Raya sebagai hari lahir resmi kota Jakarta. HUT Jakarta ini baru dirayakan sejak 1957 pada masa walikota Sudiro.

    Yang jelas, nama Jakarta ditetapkan oleh Jepang pada 8 Desember 1942. Mulai saat itu pemerintahan militer Jepang melarang digunakan nama Batavia untuk Jakarta.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here