Kejayaan Kesultanan Demak dan Peranan Raden Fatah

    61
    0

    SEJARAHONE.ID – Guru Besar UNDIP, Prof Yuliati alumnus Leiden Universiteit Belanda berpendapat Kesultanan Demak memiliki nilai nilai sejarah yang unggul dan bermanfaat bagi generasi muda mendatang. “Demak ini dari dulu menjadi daerah yang kaya raya. Daerah pemasok beras terbesar hingga ke Pelabuhan Malaka. Inipula yang memicu Portugis ingin menguasai selat Malak. Sebab, disana banyak produk unggulan berupa beras dari Demak maupun rempah rempah dari nusantara,”kata Yuliati.

    Menurut Yuliati, ketika menyerang Malaka, Kasultanan Demak Bintoro waktu itu mengirimkan 2.700 kapal. Setiap kapal berisi seribu prajurit. Hanya saja, lantaran kalah dengan sistem persenjataan, akhirnya pasukan Demak mengalami kekalahan. Bahkan, dalam sebuah kapal yang disita Portugis terdapat banyak emas. “Ini menunjukkan bahwa Demak merupakan negeri yang kaya raya saat itu,”ujar dia.

    Bagi generasi muda, penting untuk dapat mengkonstruksi sejarah Demak yang positif. Demikian ungkap DR Chusnul Hayati. Tokoh Raden Fatah adalah tokoh pemimpin Islam yang visioner, termasuk dari sisi religiusitas.”Era Raden Fatah adalah era keemasan Kasultanan Demak Bintoro. Maju dalam berbagai bidang, baik ekonomi, agraris maupun maritim.

    Sejarah Demak juga diungkap oleh DR Bambang Buditomo. Menurutnya, Kasultanan Demak saat itu berada tak jauh dari Sungai Tuntang yang letaknya dibelakang Alun alun. “Sebetulnya, Islam datang di Demak itu melalui proses. Begitupula Islam di nusantara juga melalui proses panjang. Proses itu sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dengan dibuktikan surat menyurat antara Raja Brawijaya dengan Khalifah bin Abdul Aziz,”jelas Bambang.

    Ini juga dibuktikan dengan ditemukannya barang barang didasar laut Cirebon terkait dengan barang barang dari China, Myanmar dan Sriwijaya. Para pedagang saat itu wajib pakai kapal Sriwijaya jika mau berdagang ke wilayah Sriwijaya. Dalam kapal ditemukan artefak berharga dengan tulisan cetakan yang membentuk 3 nama asmaul husna.

    Kesultanan Demak semasa Raden Fatah adalah kekuatan maritim sangat kuat. Raden Fatah mengirim pasukan ke Malaka agar perdagangan mariitim tidak terganggu. Tentang sejarah Demak ini juga disampaikan pengurus Takmir Masjid Agung Demak, Suwagiyo. Menurutnya, berdasarkan informasi dari Habib Lutfi bin Yahya, bahwa Raden Fatah merupakan putra dari Prabu Brawijaya V yaitu Bhre Kertabumi yang jalurnya sampai Raden Wijaya, Raja Majapahit Pertama. Sedangkanya, ibunya dari Champa yang bernama Dewi Sarifah atau Putri Liang dari Kasultanan Champa.

    Menurutnya, lahir Raden Fatah versi data yang diperoleh dan dipegang oleh takmir sampai sekarang adalah 1448 Masehi. Masa kecil Raden Fatah bernama Raden Hasan atau Jimbun. Pujangga Arya Damar menyebut, Raden Fatah dikenal dengan nama Tan Kim Wan. Dan Sunan Ampel memberi nama Raden Fatah yang memiliki makna pembuka Kasultanan Demak Bintoro.

    Adapun, Masjid Agung Demak dibuat Walisongo dengan persiapan antara 6 hingga 7 bulan. Setelah dibuat kerangka masjid, baru atap dinaikkan pada malam hari sehingga waktu subuh masjid sudah siap dipakai untuk salat jamaah. Terkait dengan tiang kayu jati masjid, adalah hasil karya dari Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. Masing masing kayu tiang memiliki tinggi 17 meter dengan diameter 65 sentimeter. Satu tiang penyangga dari Sunan Kalijaga ketinggiannya hanya 11 meter sehingga kurang 6 meter.

    Untuk menyambungnya dipakai kayu tatal. Pada 1477 terjadi gejolak bersamaan dengan pemugaran Masjid Agung Demak. Ada konflik internal di Kerajaan Majapahit antara Prabu Kertabumi dengan Raden Gerindra Wardana. Raja Kertabumi lari ke Gunung Lawu. Sedangkan, Majapahit dipimpin Gerindra Wardana. Saat itulah, Walisongo tidak boleh lagi mengajarkan Islam diwilayah Majapahit. Karena itupula, Raden Fatah memerangi Majapahit saat dipimpin Gerindra Wardana dan bukan dipimpin ayahnya Raja Kertabumi. “Jadi, Raden Fatah tidak memerangi ayahnya sendiri tapi memerangi Gerindra Wardana,”ujarnya. Dr Alamsyah dari Undip menyampaikan, apa yang dipaparkan para pakar sejarah itu menunjukkan bahwa Sultan pertama Kerajaan Demak adalah Raden Fatah yang dilanjut Sultan Trenggana. Mereka adalah putra nusantara. Sedangkan, ibunya dari Champa. Tetapi juga telah terasimilasi sebagai warga kerajaan nusantara. “Karenanya tidak tepat jika kedua penguasa itu dikatakan sebagai keturunan Yahudi. Sangat jauh dari itu jika kita merunut bukti sekunder maupun primer,”katanya.

    Pengurus MUI Demak KH Abdul Fatah berharap, forum diskusi tersebut dinilai sangat penting. Sebab, para pakar sejarah telah mengemukakan data dan fakta tentang Raden Fatah dan Sultan Trenggana.

    Raden Fatah bukan sekedar cerita tapi tokoh riil secara historis. Kalau tokoh dongeng, tentu tidak meninggalkan warisan nilai maupun artefak sejarah lainnya,”kata Hayati. DR Eko Punto pun mengatakan, bahwa Islam masuk dengan mudah ke Jawa sebagaimana yang disampaikan Sunan Ampel ketika itu diantaranya lantaran difasilitasi dan diberi ruang oleh penguasa Majapahit. “Kalau tidak difasilitasi belum tentu bisa seperti sekarang ini. Ada semacam perkawinan politik termasuk adanya Putri Champa ini. Kita contohkan di Thailand, Vietnam atau Kamboja, Islam tidak mudah masuk disana karena tidak ada fasilitasi. Karena fasilitasi itupula, akhirnya terjadi konflik internal di Majapahit dan kemudian muncul Kasultanan Demak,”.

    Sementara itu, gelar raden sudah ada sejak zaman Majapahit. Artinya, raden tidak hanya dipakai oleh bangsawan Islam saja, namun sudah dipakai oleh para raja Majapahit. Misalnya, Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. “Bahkan, saat Portugis menjajah juga sudah menyaksikan gelar Raden Fatah ini,”katanya.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here