Home Khasanah Kejayaan Islam di Andalusia, Menginspirasi Ekonomi Dunia

Kejayaan Islam di Andalusia, Menginspirasi Ekonomi Dunia

80
0

SEJARAHONE.ID – Jejak Islam di Andalusia, ekonomi yang menginspirasi dunia. Berbagai kegiatan ekonomi lahir dan besar di masa Abdurrahman Ad Dakhil bin Muawiyah. Abad ke-16 dikenal sebagai masa awal penjelajahan bangsa Eropa dipelopori Portugis dan Spanyol sebagai bekas wilayah Andalusia ke Asia, Afrika, Australia, dan Amerika.

Alhasil masyarakat milenial sekarang menganggap bahwa bangsa dan peradaban Kristen Katholik Eropa sebagai peradaban yang ‘memakmurkan’ ekonomi dunia saat ini. Padahal jika ditarik mundur sebelum Abbasiyah dan Andalusia hancur, pada dua kutub kekhalifahan inilah bangsa Eropa menyerap berbagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan termasuk ilmu dan praktik ekonomi.

Jejak Islam di Andalusia, ekonomi yang menginspirasi dunia. Berbagai kegiatan ekonomi lahir dan besar di masa Abdurrahman Ad Dakhil bin Muawiyah.

Masa Abdurrahman Ad Dakhil bin Muawiyah

Jika disebut nama Rio Tinto, benak masyarakat Indonesia dan dunia akan tertuju pada peusahaan raksasa yang menguasai banyak kuasa tambang berbagai negara termasuk Freeport Indonesia. Rio Tinto sesungguhnya legenda kawasan tambang di Andalusia pada abad ke-8. Nama Rio Tinto sebagai salah satu jejak ekonomi pada masa kejayaan Islam yang menginspirasi dunia.

T.B Irving seorang penulis dari Minneapolis Amerika Serikat menuliskan masa kejayaan Andalusia pada masa Abdurrahman Ad Dakhil bin Muawiyah termasuk kejayaan bidang ekonominya.

Dalam hal pemberantasan korupsi—di mana negara-negara maju termasuk Indonesia baru membentuk KPK dan pengadilan khusus tindak pidana korupsi—di Kota Cordoba Ibu Kota Andalusia sudah ditunjuk seorang sahib al madinah yang bertugas mengadili kasus korupsi dan penyogokan.

Di pasar-pasar ditunjuk seorang muhtasib yang bertugas sebagai inspektur tera pengawas timbangan. Pemerintah juga membentuk perusahaan pelayanan pos milik negara yang efisien semacam BUMN di Indonesia.

Uang logam Andalusia terbuat dari emas, perak, dan tembaga. Kerajaan Inggris kemudian meniru sistem mata uang logam ini. Bisnis perjalanan juga dikembangkan utamanya untuk melayani ibadah haji serta perjalanan ziarah ke negri Eropa dan negeri Islam lain.

Ekspor Andalusia terdiri dari minyak, anggur, kayu, marmer, sutra, lada dan kapas. Kain tenun, pertukangan kayu, keramik dan barang berbahan kulit sebagai andalan ekonomi Andalusia lainnya.

Berbagai Industri Strategis Andalusia

Industri kertas dan penerbitan buku sebagai hal yang penting diperkenalkan orang Islam kepada dunia untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Industri kertas berpusat di Jativa Valencia.

Industri keramik berpusat di Malaga, Calatayud, dan Patema. Keramik Andalusia pada masanya mampu bersaing dengan keramik Cina yang terkenal. Sepatu kulit juga diperkenalkan awal mulanya oleh orang Islam-Arab yang datang dari Afrika Utara.

Kota Almeria dan Tortosa menjadi pusat galangan kapal besar ataupun kecil. Industri galangan kapal Almeria dan Tortosa selain membuat kapal nelayan dan pedagang juga memproduksi kapal untuk armada laut kerajaan Andalusia.

Beras, gula, kapas didukung oleh sistem irigasi yang memadai. Sistem irigasi sebagai berkah terbesar ekonomi pertanian Andalusia sejak kedatangan Islam.

Pertanian yang sebelumnya hanya mengandalkan air hujan, berkembang lebih maju dengan sistem irigasi yang diperkenalkan orang-orang Islam hasil belajar dari peradaban lembah sungai Nil, Eufrat, dan Tigris.

Pengecoran logam logam berupa keningan besi dan baja berkembang pesat di kota Toledo. Salah satu produk pengecoran logam Toledo yang bereputasi internasional adalah pedang.

Industri garam yang melalui proses mengeringkan air laut dikerjakan di sepanjang pantai selatan Andalusia.

Menginspirasi Dunia

Demikianlah peradaban Islam yang unggul pada masa khilafah Andalusia. Selain membawa dampak yang baik dalam dakwah, sosial dan politik, membawa dampak yang sangat baik pada perekonomian.

Sumbangsih peradaban ekonomi Islam Andalusia untuk Eropa dan dunia pada kemudian hari setelah kehancurannya tahun 1492 diakui secara jujur oleh Kardinal Ximenes pemimpin umat Katholik Spanyol. Sang Kardinal mengatakan “Mereka (kaum muslimin) tidak memiliki keyakinan kita(umat Katholik), tetapi kita tidak punya karya-karya seperti mereka”. Sebuah pengakuan yang jujur dan langka dari tokoh Katholik Eropa yang mayoritas mengklaim karya-karya besar umat Islam sebagai milik mereka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here