Home Pemberontakan Kebiadaban PKI Jangan Pernah Dilupakan

Kebiadaban PKI Jangan Pernah Dilupakan

377
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – “Pondok Bobrok, langgar bubar, santri mati,” inilah yel-yel penuh kebencian yang diteriakkan PKI Madiun pada tahun 1948. Penyerangan sadis dan biadab PKI inilah bermula. Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan Negara Soviet Indonesia di Madiun. Slogan itu terus berkumandang dari seluruh anggota sipil PKI Muso dan tentara Muso yang bernama Front Demokratik Rakyat (FDR).

Melalui slogan itu, penyerangan sadis PKI dilakukan dengan merusak bangunan pondok pesantren, langgar dibubarkan dan santri dibantai diluar batas kemanusiaan. Lebih ngeri lagi, sebelum slogan itu dikumandangkan di berbadai desa, kota, jalan dan gang-gang. Para anggota PKI sudah menyiapkan lubang-lubang untuk membantai para kyai dan santri. Di berbagai lubang itulah, para kyai dan santri disembelih secara masal.

Pada September 1948, Muso telah menguasai daerah Karesidenan Madiun, meliputi Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi. Penyerangan sadis PKI juga mengarah ke Pondok Pesantren Modern Darussalam yang berada di Gontor Ponorogo juga tidak lepas dari ancaman PKI.

Kyai Ahmad Sahal dan Kyai Imam Zarkasyi berembug sangat serius dengan para santri senior. Setelah lama berembug, akhirnya ditetapkan bahwa melawan PKI yang lengkap dengan senjata sangatlah tidak mungkin. Akibatnya akan banyak santri yang menjadi korban dari penyerangan sadis PKI. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.

Ada sebuah kisah menarik siapa yang akan tinggal menunggu pondok. Kedua kyai ini benar-benar mengajarkan “Itsar”, bagaimana mereka tidak rela saudaranya menderita. Kyai Imam Zarkasyi berkata, “Sudah, pak Sahal, kamu saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya kamu. Biar saya yang menjaga pesantren, tidak akan dikenali saya ini”.

Namun, mendengar kalimat itu Kyai Sahal malah gantian menyanggah, “Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu saja Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu”.

Kedua Kyai itu berusaha meminta salah satu dari mereka untuk pergi mengungsi. Sungguh bukan nasib mereka yang dipikirkan, tetapi nasib saudaranya dan para santrinya. Akhirnya diputuskanlah para kyai berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren diberikan kepada KH Rahmat Soekarto. Lurah Gontor sekaligus Imam Jumatan di Gontor.

Belum sampai melakukan pengungsian, ternyata Pesantren Gontor sudah didatangi utusan PKI yang membawa sepucuk surat. Isi surat itu adalah perintah dari pasukan PKI Muso agar seluruh warga Pesantren Gontor tidak meninggalkan tempat. Jika meninggalkan tempat, akan terjadi bencana besar yang dibuat oleh para tentara PKI Muso.

Menerima surat itu, Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengungsi. Namun, karena ajakan yang cukup kuat dari para santri untuk mengungsi, akhirnya kedua kyai tersebut berangkat mengungsi bersama para santri.

Berangkatlah rombongan Kyai Gontor hijrah ke arah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal di Trenggalek. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Dengan untaian air mata karena meninggalkan pondok tercinta akibat penyerangan sadis PKI. Saat itulah tercetus ucapan dari kyai sahal, “Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan).

Sehari setelah para santri Gontor mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pesantren gontor. Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Sejumlah letusan senjata, mewarnai ketegangan situasi itu di beberapa tempat. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang di dalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu kedalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang. Dengan mengendarai kuda putih, pimpinan tentara PKI berhenti di depan rumah pendopo lurah KH Rahmat Soekarto.

Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka. Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. “Pertama, kami datang untuk menemui pimpinan pondok. Kedua, kami mohon diizinkan untuk meriksa seluruh isi pondok” sergahnya kasar.

Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Suruh menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri yang terbuat dari bambu dirusak. Kasur-kasur dibakar, buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sara peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Alquran mereka injak dan bakar.

Suasana begitu mencekam. PKI pun kembali ke rumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk ke rumah untuk membunuh KH Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk ke rumah lurah Rahmat. Datanglah lasykar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin oleh KH Yusuf Hasyim, putra bungsu KH Hasyim Asy’ari. Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu. Mereka meninggalkan apa yang mereka bawa dan akhirnya membiarkan Gontor dalam keadaan porak poranda.

Kejahatan, kezaliman PKI itu bukan hanya isu semata. Tetapi fakta sejarah yang terjadi di negeri ini. Bagaimana dengan kata-kata dan perbuatan mereka membuat berbagai kerusakan. Bahkan mereka banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin di negeri ini. Generasi muda Indonesia merupakan pelanjut estafet perjuangan. Sudah selayaknya untuk memahami sepak terjang kejahatan PKI.

Sejarah penuh kebencian yang diteriakkan PKI sangat miris, tapi sejarah tetaplah sejarah yang perlu diambil hikmahnya dan perlu diwariskan pada generasi Muda Indonesia hingga anak cucu kita, agar paham benar bagaimana kekejaman paham komunis. Kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa kita perlu melakukan upaya-upaya untuk menangkal paham komunis agar tak sampai kembali di bumi Indonesia.

Sumber data: Buku Ayat-ayat yang Disembelih (2015), Anab Afifi dan Thowaf Zuharon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here