Kebangkitan Nasionalisme Berawal dari Sarekat Dagang Islam, Bukan Budi Utomo

    34
    0

    SEJARAHONE.ID – Oleh. Hana Wulansari.

    Terdapat hal yang perlu diluruskan dalam sejarah kebangkitan nasional. Masyarakat umumnya mengatakan bahwa pergerakan nasional dimulai sejak tahun 1908, yaitu tahun berdirinya Budi Utomo. Terhadap masalah ini, penulis dan sebagian orang menyatakan tidak setuju bahwa kelahiran budi utomo sebagai permulaan kebangkitan nasional. Ini karena pada tanggal 16 Oktober 1905 telah lahir Sarekat Dagang Islam (SDI). Haruslah diakui berdirinya SDI sebagai permulaan kebangkitan nasional Indonesia, karena pada saat itu telah berdiri sebuah organisasi yang bersifat nasional, yaitu SDI.

    Pendapat ini didasarkan atas kenyataan objektif bahwa secara temporal SDI muncul lebih awal. Aspek lain adalah ruang gerak, karakter, dan partisipan organisasi itu. Budi Utomo merupakan organisasi moderat yang sempit, yaitu keanggotaannya semata-mata untuk masyarakat priyayi Jawa dan tidak melakukan pembaharuaan-pembaharuan radikal untuk kejayaan seluruh rakyat Indonesia, sedangkan Sarekat Dagang Islam mempunyai basis massa rakyat (tidak terbatas pada status sosial tertentu), juga tidak terbatas pada kelompok etnis tertentu.

    Sarekat Islam - Latar Belakang, Tujuan, Tokoh, dan Sejarah

    Anggota Sarekat Dagang Islam

    Pada 16 Oktober 1905  Sarekat Dagang Islam berdiri. Sarekat Dagang Islam kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI). SI mulanya dibentuk untuk melawan persaingan dagang dengan China. Perannya meluas setelah dipimpin H.O.S Cokroaminoto. SI menjadi salah satu gerakan bumi putera pertama yang membangkitkan kesadaran nasional untuk melawan kolonialisme Belanda.

    Momen Pergerakan Nasional

    Terlepas dari pilihan mana yang lebih tepat di antara Budi Oetomo atau Sarekat Dagang islam, kedua peristiwa tersebut untuk dijadikan moment awal dari pergerakan nasional, yang jelas “kesadaran nasional” yang merupakan bentuk embrional dari gerakan nasional telah muncul jauh sebelum tahun 1908. Adapun yang menjadi “kata kunci” gerakan nasional adalah adanya keinginan untuk beremansipasi. Keinginan ini muncul karena hilangnya keseimbangan (equilibrium) dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dominasi asing. Keinginan untuk beremansipasi ini diwujudkan dalam bentuk pergerakan yang diinstitusikan dalam berbagai bentuk organisasi sebagai alat yang sudah merupakan fenomena historis dalam dasawarsa-dasawarsa pertama dari abad ke20.

    Nasionalisme Indonesia merupakan gejala historis yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kekuasaan kolonial bangsa Barat. Dalam konteks situasi kolonial ini, nasionalisme Indonesia adalah suatu jawaban terhadap syaratsyarat politik, ekonomi, dan sosial yang khusus ditimbulkan oleh situasi kolonial tersebut. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, nasionalisme dan kolonialisme tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan bahkan keduanya saling memengaruhi secara timbal balik. Di samping sebagai jawaban terhadap syaratsyarat politik, ekonomi, dan sosial, juga tidak kalah pentingnya faktor budaya dan agama. Bahkan faktor yang disebut terakhir ini merupakan faktor yang amat penting sebagai pembangkit kesadaran nasional.

    Peranan agama dalam membangkitkan kesadaran nasional, yang selanjutnya diwujudkan dalam bentuk gerakan nasional yang lebih konkret, ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lainnya, seperti di Belanda, Inggris, Amerika Utara, dan negara-negara lainnya. Faktor yang sangat penting dalam membangkitkan nasionalisme negara-negara tersebut adalah faktor agama. Gerakan revolusi Belanda melawan Spanyol pada abad ke-16 merupakan gerakan keagamaan (religious movement), yang kemudian diikuti oleh gerakan nasionalis Inggris pada abad ke-17, suatu gerakan nasionalis yang amat penting di Eropa, dan lahir sebagai revolusi kaum Puritan (the Puritan Revolution).Demikian juga halnya dengan revolusi di Amerika Utara dipelopori oleh kaum Puritan.11 Di Indonesia, pemeluk Islam merupakan mayoritas, dan agama Islam merupakan faktor pendorong lahirnya nasionalisme. Bahkan dapat dikatakan bahwa nasionalisme Indonesia dimulai sebenarnya dengan nasionalisme Islam. Pada masa itu Islam adalah identik dengan kebangsaan. Dalam hal ini, Sartono Kartodirdjo mengatakan bahwa konsep religius secara besar-besaran membangkitkan sentimen nasional dan membina bentuk solidaritas yang efektif.

    Islam Memangkitkan Kesadaran Nasional

    Adapun yang menyebabkan Islam demikian dominan dalam perannya membangkitkan kesadaran nasional dan demikian militan dalam melancarkan perlawanan-perlawanan terhadap pemerintah kolonial paling tidak didasarkan pada tiga hal, sebagaimana diungkapkan oleh Anton Timur Djaelani. Agama, dan dalam hal ini di Indonesia adalah Islam, membentuk suatu faktor perangsang untuk timbulnya nasionalisme. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, bahwa keengganan terhadap dominasi asing telah didorong (distimulasi) oleh Islam; kedua, perasaan superioritas yang kuat yang diberikan Islam kepada penganut-penganutnya; ketiga, sifat politikkeagamaan serta cita-citanya tentang supremasi dunia. Semua itu menjadikan Islam sebagai faktor terpenting dalam membangkitkan nasionalisme Indonesia.

    Faktor ekonomi juga merupakan bagian yang cukup penting dalam membangkitkan kesadaran nasional. Di negara-negara jajahan, nasionalisme adalah suatu reaksi terhadap kolonialisme. Reaksi ini berasal dari sistem eksploitasi yang selalu menimbulkan pertentangan kepentingan secara terus-menerus. Penjajah melakukan tindakan-tindakan ekonomi dan politik untuk melindungi kepentingan ekonominya. Motif ekonomi pada situasi kolonial menjadi faktor dominan untuk menentukan hubungan antara golongan-golongan sosial. Pertentangan kepentingan menyebabkan kondisi hidup rakyat terbelakang, karena cara-cara produksi yang lama tidak mampu menghadapi kapitalisme kolonial yang mempunyai organisasi dan teknologi modern, dan mampu mengubah keadaan ekonomi yang ada. Kedudukan yang menguntungkan penjajah itu diperoleh melalui eksploitasi dan diskriminasi. Dengan jalan demikian usaha-usaha ke arah emansipasi ekonomi selalu ditekan.

    Semua pengalaman yang mengecewakan, sebagai akibat sistem sosial-ekonomi yang menghalangi usaha perekonomian bangsa Indonesia, mendorong timbulnya solidaritas. Solidaritas ini diwujudkan dengan bentuk reaksi yang diucapkan dengan agitasi yang keras terhadap orangorang asing. Kondisi ekonomi yang begitu memburuk menyebabkan pergerakanpergerakan menjadi radikal dan revolusioner. Timbul dan berkembangnya organisasi-organisasi sebagai institusionalisasi tindakan-tindakan sosial yang ditujukan ke arah kepentingan ekonomi, politik, dan kebudayaan merupakan fenomena sosial-historis dalam pergerakan nasional. Ketegangan-ketegangan sosial sebagai produk sistem kolonial mengakibatkan terbentuknya kelompok-kelompok menurut stratifikasi dan diferensiasi baru. Dengan jalan memperkenalkan sistem produksi dan teknologi modern serta sistem pendidikan dan organisasi pemerintahan Barat, maka masyarakat kolonial dengan strukturnya yang masih bersifat feodal mengalami modernisasi dengan semua perubahan sosial yang menyertainya. Hal ini menyebabkan kekuasaan dan prestise kaum feodal menjadi lemah, dan kekuatan-kekuatan ini pindah kepada kaum intelektual baru.

    SI pertama kali didirikan oleh saudagar Muslim kaya asal Surakarta, Haji Samanhudi. Sejak awal berdiri, SI punya tiga prinsip utama. Pertama berdasarkan asas agama Islam, kedua kerakyatan, dan ketiga ekonomi. Latar belakang asas ekonomi menjadi salah satu prioritas karena pada masa itu Belanda memberikan fasilitas dan monopoli perdagangan kepada orang China. Mereka mempunyai kedudukan sebagai warga negara kelas dua atau yang dikenal dengan istilah Vreemde Oorterlingen (golongan timur asing).

    “Fasilitas dan monopoli yang diterima orang-orang China tidak didapatkan para pedagang Bumiputra. Akibatnya penguasaha-pengusaha bumi putra tidak mampu bersaing dengan pengusaha-pengusaha Cina,” tertulis.

    Melihat realitas tersebut, Samanhudi dan Cokroaminoto tergerak untuk menghadapi monopoli pedagang China. Mereka merasa seluruh potensi nasional khususnya orang Islam harus dikerahkan untuk mempertahankan hak dan martabat bangsa Indonesia.

    Pada tahun 1912 sempat terjadi perdebatan antara Haji Samanhudi dan Tjokroaminoto mengenai langkah selanjutnya dari SI. Namun setelah itu Samanhudi yang lebih disibukkan dengan kegiatan perdagangan  kemudian menyerahkan tampuk pimpinan kepada Cokroaminoto.

    Sejak saat itulah cakupan SI meluas. Cokroaminoto melihat ruang lingkup organisasi ini terlalu sempit. Oleh karenanya ia bertekad untuk merangkul seluruh kaum Bumiputra Hindia Belanda dengan tujuan menentang praktik kolonialisme Belanda, yang berlandaskan semangat Pan-Islamisme.

    Sarekat Islam Meluas Se-Nusantara

    Sejak Sarekat Islam disahkan oleh notaris, organisasi ini terus berkembang dengan pesat. Sarekat Islam telah bekerjasama dengan Muhammadiyah sejak 1913. Kedua organisasi ini bergerak diranah yang berbeda. Muhammadiyah berjalan di wilayah sosial-religius sedangkan SI berjuang lewat jalur politik.

    Pada 1919, SI mengklaim berhasil menggalang dua juta anggota. Menurut Dosen Sejarah Universitas Negeri Jakarta, Yasmin, dalam tulisannya Sarikat Islam dalam Pergerakan Nasional Indonesia menjelaskan Sarekat Islam yang tidak terkesan elite menjadi faktor mengapa begitu mudah diterima oleh masyarakat.

    Dalam kongres Sarekat Islam pertama yang diadakan pada Januari 1913 di Surabaya, Sarekat Islam dinyatakan bukan partai politik. Selain itu diputuskan pula bahwa Sarekat Islam terbuka untuk bangsa Indonesia saat kongres di Solo. Bahkan Sarekat Islam melakuan pembatasan terhadap masuknya pegawai negeri sebagai anggota.

    Berdirinya Sarekat islam juga memiliki tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Jangka pendeknya adalah ingin membina kerjasama antar sesama anggota, tolong menolong, menciptakan kerukunan antara sesama muslim, menciptakan usaha yang halal yang tidak bertentangan dengan aturan pemerintah, menciptakan kehidupan makmur dan sejahtera kepada rakyat demi kebesaran negeri.

    Sementara jangka panjangnya, islamisasi yang semakin mantap bagi masyarakat Indonesia. Untuk meraih tujuan ini, kemerdekaan Indonesia merupakan sesatu yang mutlak. “Tak boleh tidak kita kaum muslimin mesti mempunyai kemerdekaan umat atau kemerdekaan berbangsa (national virjheid ) dan mesti berkuasa atas negeri tumpah dara kita sendri,” kata Cokroaminoto.

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here