Home Pahlawan Kartini, Pejuang Wanita dan  Juru Dakwah Agama Islam

Kartini, Pejuang Wanita dan  Juru Dakwah Agama Islam

143
0

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Raden Ayu Kartini telah dikenal sebagai wanita yang memperjuangkan hak-hak perempuan pada masanya. Mengapa Kartini demikian gigih memperjuangkan hak agar wanita memperoleh hak yang sama dalam pendidikan?

Ini karena Kartini yakin akan kebenaran bahwa dalam beberapa hal, wanita memiliki hak yang sama dengan pria. Dari makanakah keyakinan tersebut muncul? Ternyata dari Al Quran.

Kartini yang  menikah dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang, memperoleh hadiah pernikahan berupa Kitab Al Quran terjemahan dari Kyai Soleh Darat. Sejak itu Kartini mulai belajar Islam dengan sesungguhnya, memahami makna-makna firman Illahi.

Dari belajar Islam, Kartini mendapati bahwa Islam menempatkan wanita dalam kedudukan yang mulia. Tidak ada perbudakan dalam Islam, dan pada dasarnya wanita memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Kartini juga dikenal sebagai juru dakwah agama Islam. Ia belajar menekuni agama Islam dari Kyai Sholeh bin Umar, ulama dari darat Semarang. Berdakwah melalui surat-surat, dan selalu menjelaskan ajaran dan menunjukkan sisi keindahan Islam kepada koleganya di Belanda.

Awal Memahami Al Fatihah

Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat (Kyai Soleh Darat), Semarang dalam surat-suratnya. Sehingga sedikit sekali buku yang berkisah tentang ini. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Kartini menangkap kata demi kata dalam kajian tafsir al Al Fatihah. Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”. Ternyata Al Quran tidak diterjemahkan pada jaman itu dikarenakan pemerintah Hindia Belanda melarangnya.

Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertitinggi yaitu hamba Allah

Kartini Un Berkimono - Seni - koran.tempo.coKartini bersama murid-muridnya

Mencari Kebenaran Islam

Sebelum bertemu dengan Kyai Soleh Darat, Kartini sempat gelisah dan terus mencari kebenaran-kebenaran Islam. Hal yang membuatnya sangat gelisah adalah keinginannya untuk bisa memahami isi Al Quran. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama  Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al Quran tapi tidak memahami apa yang dibaca.. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

Surat RA Kartini untuk Stella ketika dia merasakan kegundahan karena belum dapat memahami isi Al Quran. Demikian  tulisan kartini ketika haus akan kebenaran Islam. kartini terus mencari, dan kehausannya terobati ketika Kyai Soleh Darat menerjemahkan makna surat Al Fatihah. Setelah menafsirkan surat Al Fatihah, Kartini semakin yakin kebenaran Al Quran ketika membaca Al Quran terjemahan 13 jus dari Kyai Soleh Darat. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here