Home Pahlawan Jenderal Sudirman, Tetap Semangat Bergerilya Meski Sakit

Jenderal Sudirman, Tetap Semangat Bergerilya Meski Sakit

46
0

Oleh: Ari Welianto

SejarahOne.id – Pada 1 Maret 1949 di Yogyakarta merupakan sejarah peristiwa Serangan Umum. Dalam peristiwa bersejarah tersebut tidak terlepas satu nama, yakni Panglima Besar Jenderal Sudirman. Meski dalam keadaan sakit, Jenderal Sudirman tetap ikut bergerilya melawan penjajah Belanda yang menguasai Yogyakarta, ibu kota Indonesia waktu itu.

Bersama pasukan, Jenderal Sudirman bergerilya berpindah-pindah tempat. Ke selatan Yogyakarta melewati Karesidenan Surakarta, Madiun, dan Kediri. Sosok, Jenderal Sudirman tidak lepas dari sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Dilansir National Geographic Indonesia, ia tak pernah mau tunduk kepada siapa pun dan menghindari adanya perundingan dengan pihak Belanda. Jenderal Sudirman menganggap hal tersebut hanya akan melemahkan posisi Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Kegigihannya untuk mempertahankan kemerdekaan tidak luntur meski sedang sakit.

Dengan ditandu, ia mengarahkan pasukannya untuk tetap berjuang. Janderal Sudirman, lahir di Desa Bodaskarangjadi, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916. Dalam buku Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jendera Sudirman (2008), karya Sardiman, Jenderal Sudirman punya etos kerja baik dan sederhana. Ia belajar agama Islam sejak kecil. Ia anak yang taat agama dan selalu salat tepat waktu.

Setelah dewasa, Sudirman masuk militer dan bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang. Pada 22 Desember 1948, Jenderal Sudirman memutuskan meninggalkan Yogyakarta untuk berperang dengan Belanda lewat gerilya pada masa agresi militer Belanda II.

Dikutip situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), saat itu Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit menderita TBC (Tuberculosis). Di mana paru-parunya hanya berfungsi 50 persen. Meski sakit, tidak mengalahkan semangat Jendera Sudirman untuk berjuang melawan Belanda.

Perang gerilya yang dilakukan Jenderal Sudirman dan pasukannya merupakan sebuah respon atas Agresi Militer Belanda II. Belanda yang kembali masuk ke Indonesia terutama di Pulau Jawa pada 14 Desember 1948 dan melakukan penyerangan diberbagai wilayah.

Di Yogyakarta, Belanda menyerang Pangkalan Udara Maguwo dan selanjutnya menyerang lewat darat. Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta mampu dilumpuhkan dan dikuasai pasukan Belanda. Pada Agustus 1949 terjadi krisis politik militer di Yogyakarya.

Sesuai perjanjian Roem Royen, Presiden Sukarno mengeluarkan perintah gencatan senjata pada, 3 Agustus 1949. Padahal sehari sebelumnya, Jenderal Sudirman menghadap presiden untuk tetap mempertahankan kemerdekaan dengan berperang.

Saat menjalankan gerilya, Jenderal Sudirman harus ditandu dengan berpindah-pindah tempat dan keluar masuk hutan. Menghilang dan menyerang dengan tiba-tiba. Bergerak, menyusup, kemudian muncul secara tiba-tiba. Jenderal Sudirman tidak bisa memimpin secara langsung pasukannya saat berperang karena kondisinya. Ia memimpin lewat pemikiran dan motivasi untuk pasukannya.

Selama bergerilya, para pejuang juga melakukan penyerangan ke pos-pos yang dijaga Belanda atau saat konvoi. Gerilya yang dilakukan pasukan Indonesia merupakan strategi perang untuk memecah konsentrasi pasukan Belanda. Taktik tersebut membuat Belanda bingung dan kewalahan karena melakukan penyerangan tiba-tiba.

Cara tersebut membuat pasukan Belanda terpaksa mundur. Setelah hampir 7 bulan bergerilya dengan berpindah-pindah, Jenderal Soedirman memutuskan kembali ke Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju Yogyakarta, rombongan Janderal Sudirman dihadang oleh Belanda di Pacitan.

Kemudian perjalanan Jendera Sudirman dialihkan melewati daerah Sobo Nawangan. Di sana, Jenderal Sudirman tinggal selama 107 hari. Di daerah Sobo, Jenderal Sudirman menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Belanda. Dalam kesempatan tersebut Jenderal Sudirman mempu meningkatkan moral para pejuang Indonesia. Setelah perancanaan yang matang, 1 Maret 1949 pagi hari, serangan besar-besaran yang serentak dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.

Fokus utama penyerangan di ibu kota Indonesia, Yogyakarta. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, sewaktu sirine dibunyikan serangan dilakukan di segala penjuru kota. Dari sektor sebelah barat sampai batas Malioboro dipimpin Letkol Soeharto.

Di sektor timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan dan timur oleh Mayor Sardjono. Di sektor utara dipimpin Mayor Kusno. Sementara di sektor kota dipimpin Letnan Amir Murtopo dan Letnan Masduki Pasukan Indonesia berhasil menguasai Kota Yogyakarta selama 6 jam. Peristiwa tersebut dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret.

Sakit TBC yang diderita Jenderal Sudirman semakin parah dan harus dirawat di rumah sakit. Pada 29 Januari 1950, Jenderal Sudirman meninggal di Magelang pada usia 34 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Pada 1964, Pemerintah Indonesia menjadikan Jenderal Sudirman menjadi pahlawan nasional lewat Surat Keputusan (SK), 10 Desember 1964.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here