Home Pahlawan Jenderal Soedirman Seorang Prajurit dan Pejuang Sejati (2-habis)

Jenderal Soedirman Seorang Prajurit dan Pejuang Sejati (2-habis)

214
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Melihat situasi dalam perang dunia II yang mulai merambah ke Asia Tenggara yaitu dengan datangnya tentara Sekutu untuk membalas kepada Jepang. Maka Jepang membentuk sistem benteng pertahanan dan pertahanan di gunung-gunung dengan cara menggali lubang-lubang untuk bersembunyi bila ada serangan. Dengan bantuan para pekerja Romusha untuk menggali benteng pertahanan yang akan digunakan untuk melalukan perang gerilya.

Selain itu, juga membangunan kekuatan tenaga rakyat yang dapat membantu menghadapi tentara sekutu. Dengan menyelenggarakan latihan-latihan kemiliteran di berbagai kota di wilayah karsidenan dan kabupaten. Melalui organisasi Keibodan dan Seinendan serta Heiho yang bertujuan untuk menghadapi pertempuran dengan Sekutu.

Selain itu, juga dibentuk pasukan inti penggerak rakyat atau sering dikenal sebagai Pembela Tanah Air (PETA) guna mempertahankan daerah masing-masing. Inisiatif pembentukan PETA atas usul tokoh Gatot Mangkupraja yang diusulkan kepada pemerintah Jepang. Karena tujuannya positif, menginginkan supaya ada pasukan dari bumiputra yang dapat membantu Jepang dan membela tanah air. Akhirnya PETA oleh pemerintah Jepang disetujui pada tahun 1943.

Seperti halnya daerah lain, di Cilacap juga dibentuk PETA dengan merekrut para pemuda sebagai calon-calon perwira PETA. Dalam keorganisasian PETA dibagi tiga komandan yaitu komandan peleton atau Shodanco, komandan kompi atau Cudanco dan komandan batalyon atau Daidanco. Para calon Shodanco direkrut dari para pemuda yang baru tamat sekolah menengah, sedangkan para Cudanco diambil dari para pemuda yang sudah punya kedudukan di masyarakat dan Daidanco direkrut dari tokoh pemuda yang mempunyai pengaruh di masyarakat.

Soedirman muda saat itu ditunjuk sebagai calon Daidanco, karena dinilai sebagai figur yang memiliki latar belakang kepemimpinan yang dinilai cakap oleh kawan-kawan pemuda yang lain. Selanjutnya para calon PETA ini harus mengikuti pendidikan latihan yang diselenggarakan di daerah Bogor. Dalam pendidikan PETA Soedirman muda merasa tidak asing karena materinya sudah pernah dialami ketika menjadi aktifis di Hizbul Wathon.

Setelah mengikuti latihan selama 4 bulan para perwira PETA dikembalikan ke daerahnya masing-masing untuk menjalankan tugas membentuk dan memimpin barisan PETA. Sesampainya di Cilacap Jenderal Soedirman ditugasi untuk membentuk batalyon atau daidan PETA yang bermarkas di Kroya, tepatnya di Desa Karangmangu dan beliau sebagai Komandan batalyon atau Daidanco.

Saat jadi komandan PETA Jenderal Soedirman mencerminkan sifat-sifat kebapakan, sehingga menjadi kebanggaan bagi anggota PETA. Para anggota PETA merasa dilindungi dan juga masyarakat sangat segan serta hormat kepada kepemimpinan Jenderal Soedirman. Sosok Jenderal Soedirman tampil sebagai pemimpin kharismatik. Hal inilah yang menjadikan Jepang selalu mewaspadai karena dianggap oleh Jepang dapat menumbuhkan semangat juang dan kesadaran nasional di kalangan rakyat.

Bahkan Jenderal Soedirman berhasil memadamkan pembrotakan PETA di Gumilir Cilacap, sehingga akan menambah ketakutan bagi Jepang, karena ia sudah nampak bersikap anti Jepang. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang tindakan Jepang untuk menyingkirkan para tokoh komandan PETA yang dianggap membahayakan Jepang.

Cara yang ditempuh dengan memerintahkan para komandan PETA untuk mengikuti latihan di Bogor. Tetapi setelah sampai di Bogor tidak diberi materi latihan militer, melainkan justru ditahan di kamp isolasi di tempat yang jauh dari masyarakat.

Melihat gelagat yang tidak baik ini Jenderal Soedirman mulai curiga bahwa Jepang ternyata tidak bersikap baik tetapi memiliki rasa khawatir kalau para perwira PETA ini bebas di masyarakat, karena dapat menggerakan pasukan untuk melawan Jepang. Maka Jenderal Soedirman dan kawan-kawan yang diisolasi melakukan tindakan untuk meloloskan diri dari kamp isolasi tersebut. Pada akhirnya usaha itu berhasil meloloskan diri di bawah komando Jenderal Soedirman.

Setelah berhasil lolos dari kamp isolasi Jenderal Soedirman tidak langsung pulang ke Cilacap, namun pergi ke Jakarta. Setibanya disana ia baru tahu bahwa Indonesia telah merdeka. Kemudian di Jakarta Jenderal Soedirman berhasil menemui Soekarno, ia ditugasi untuk memimpin perlawanan di Jakarta.

Namun, Jenderal Soedirman mengatakan tidak sanggup, karena ia tidak mengenal situasi medan di Jakarta. Jenderal Soedirman pun meminta ijin kepada Soekarno untuk kembali ke Cilacap guna melakukan perlawanan di Jawa Tengah. Setibanya di Cilacap, Jenderal Soedirman menghubungi kawan-kawannya untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) beranggotakan bekas para anggota PETA.

Dalam penyusunan BKR strukturnya hampir sama dengan PETA. Sebagai ketua BKR untuk wilayah Banyumas adalah Jenderal Soedirman. Dengan dibentuknya BKR tugas berat yang diemban adalah melakukan pelucutan senjata tentara Jepang. Berkat kepiawian Jenderal Soedirman proses pelucutan senjata dari tangan Jepang di Banyumas berjalan dengan lancar.

Pada tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat yang berisi tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Hal itu atas dasar bahwa pemerintah Indoensia belum memiliki tentara yang profesional untuk mempertahankan Kemerdekaan. Setelah dikeluarkan maklumat pemerintah maka pemerintah mengangkat Menteri Keamanan Rakyat sebagai pimpinan tertinggi TKR yang pada waktu itu ditunjuklah seorang mantan Komandan Peleton PETA bernama Supriyadi untuk menduduki Jabatan Menteri TKR.

Dengan dibentuknya TKR, di wilayah Banyumas juga mulai dibentuk TKR dengan cara merubah atau melebur para anggota BKR menjadi TKR. Untuk wilayah Karsidenan Banyumas, TKR dibagi menjadi dua Resimen yaitu Resiman Banyumas dan Resimen Purwokerto. Saat itu Soedirman muda diangkat sebagai Komandan Resimen Purwokerto dengan pangkat Kolonel.

Langkah Jenderal Soedirman yang dipercaya sebagai Komandan Resimen Purwokerto, pertama membenahi susunan organisasi TKR di wilayah Purwokerto termasuk melengkapi personil TKR. Kedua, ia selalu menekankan kepada anak buahnya untuk bertindak disiplin dan mempertebal semangat juangnya, TKR merupakan tentara rakyat sekaligus tentara pejuang, sehingga wajar bila perjuangan tentara adalah demi kepentingan rakyat bukan untuk penguasa.

Dalam menata kelembagaan TKR, pada tanggal 20 Oktober 1945 pemerintah mengangkat Mayor Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf Umum TKR. Sebagai Kasum TKR, Mayor Oerip Soemohardjo mengeluarkan kebijakan dengan membagi wilayah Jawa menjadi 10 divisi yang tergabung menjadi 3 komandemen, diantara yang masuk dalam wilayah itu adalah divisi V membawahi Karisidenan Banyumas dan Kedu yang dipercaya sebagai komandannya adalah Kolonel Soedirman.

Dengan diangkatnya beliau sebagai komandan divisi V, maka tugas Jenderal Soedirman semakin berat tanggung jawabnya. Namun, Jenderal Soedirman menyadari bahwa saat itu TKR merupakan tulang punggung dalam mempertahankan kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here