Home Pahlawan Jenderal Soedirman Seorang Prajurit dan Pejuang Sejati (1)

Jenderal Soedirman Seorang Prajurit dan Pejuang Sejati (1)

213
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Komitmen Jenderal Soedirman terhadap perjuangan dalam menghadapi tantangan saat itu mulai terlihat setelah aktif dalam kegiatan-kegiatan kepanduan Hizbul Wathon (HW). Saat itu Soedirman muda sering memanfaatkan waktu untuk berlatih fisik maupun mental seperti latihan olah raga, baris-berbaris, mencari jejak dan pembinaan mental keagamaan. Bahkan dalam Hizbul Wathon sering melakukan kemah, jambore dan kegiatan latihan perang-perangan. Hal ini menandakan Jenderal Soedirman memiliki jiwa kejuangan militer.

Pada masa akhir pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia pada tahun 1941 dibentuklah Inheemse Militer dan kepada rakyat mulai diberi penerangan serta latihan cara menghadapi bahaya udara. Untuk menertibkan masyarakat dalam menghadapi bahaya udara itu, maka dibentuk Luch Bischermen Diens (LBD) atau “Badan Penjagaan Udara”, badan keamanan yang bertugas membantu menghadapi bahaya dari serangan udara. Tujuannya untuk menghadapi situasi sehubungan dengan pecah perang Dunia II yang meluas ke Asia.

Sebagai tokoh masyarakat, Jenderal Soedirman merasa terpanggil untuk memasuki LBD di Cilacap. Ia melihat penderitaan rakyat akibat penjajah Belanda dan ancaman perang dunia II semakin menyengsarakan rakyat. Untuk mengatasi kondisi tersebut Jenderal Soedirman mendarma baktikan dirinya untuk membantu mengurangi penderitaan rakyat dengan cara terjun ke LBD. Ketekunan dan ketulusannya, Jenderal Soedirman ditunjuk sebagai kepala LBD sektor Cilacap.

Sebagai kepala sektor tentu saja tanggung jawab yang diembannya adalah menyelamatkan rakyat dari ancaman perang. Untuk itu ia melakukan perjalanan keliling ke wilayah di seluruh Cilacap untuk memberikan penerangan kepada masyarakat Cilacap tentang cara-cara menyelamatkan diri bila terjadi perang dan serangan udara dari tentara Jepang seperti berlindung di lubang-lubang bawah tanah. Agar rakyat dapat memahami cara menghadapi serangan udara, maka Jenderal Soedirman memberikan latihan kepada masyarakat tentang penyelamatan diri bila menghadapi bahaya udara.

Situasi perang dunia II ternyata terus meluas di Asia dengan adanya perang antara Jepang dengan Sekutu. Dalam waktu singkat Jepang mulai berhasil menguasai wilayah di kawasan Asia Tenggara. Dimana Indonesia termasuk dari sasaran Jepang. Pada Februari 1942 sekutu (Belanda) mulai mendapat serangan dari Jepang yang akhirnya Jepang berhasil menghancurkan Belanda di Indonesia. Hanya dalam waktu singkat Jepang dapat mengusai jajahan Belanda di Indonesia pada 8 Maret 1942, ditandai dengan menyerahnya Belanda tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati. Dengan demikian Indonesia beralih dari kekuasaan Belanda menjadi daerah kekuasaan tentara Jepang.

Awalnya pada masa pendudukan tentara Jepang masyarakat sangat simpati, karena Jepang banyak mengumbar janji dan melakukan propaganda dengan cara memikat rakyat melalui pernyataan bahwa Jepang adalah saudara tua dan Jepang akan memperjuangkan kemakmuran bersama. Hal ini menjadikan harapan bagi masyarakat Indonesia karena dengan kedatangan Jepang dapat membebaskan dari belenggu cengkeraman penjajahan.

Tetapi kenyataanya harapan tinggal harapan karena rakyat Indonesia ternyata diperas atau eksploitasi kekayaannya, sehingga kecewa dan mengalami penderitaan serta kemiskinan. Melihat kondisi ini Jenderal Soedirman tidak tinggal diam, ia berusaha membantu rakyat yang mengalami kekurangan makanan akibat pendudukan Jepang.

Untuk mengatasi bahaya kelaparan rakyat, Jenderal Soedirman bersama kawan-kawan mendirikan sebuah Badan Pengurus Makanan Rakyat (BPMR). Melalui badan ini Jenderal Soedirman dan kawan-kawan berkeliling keluar masuk kampung yang dilanda kelaparan untuk membantu meringankan penderitaan rakyat. Tindakan yang dilakukan Jenderal Soedirman inilah yang mengakibatkan beliau sangat dekat dengan rakyat dan memperjuangkan rakyat agar terbebas dari kesulitan dan penderitaan akibat pendudukan Jepang di Indonesia.

Pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1943 mulai mengalami bahaya dari ancaman sekutu, karena di beberapa tempat di Asia Jepang sudah mulai terdesak. Hal inilah yang menjadikan Jepang mulai berubah sikapnya terhadap rakyat Indonesia yaitu dengan cara menarik simpati rakyat Indonesia supaya dapat mempertahankan kedudukannya di Indonesia.

Melalui pendirian organisasi-organisasi yang dibentuk oleh Jepang seperti Gerakan 3A, Organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), dan Organisasi Semi Militer (Seinendan dan Keibodan). Semua organisasi ini sebagai wahana rekrutmen dan menarik simpati bagi para pemuda Indonesia untuk kepentingan Jepang dan menggalang nasionalisme bangsa Indonesia.

Guna menepis bahwa Jepang di dicap oleh rakyat Indonesia sebagai penjajah yang diktator dan otoriter. Maka Jepang mengambil tindakan politik dengan menciptakan Dewan Perwakilan yang dinamakan Chuo Sangi in yang berkedudukan di Jakarta. Sedangkan di tingkat daerah karsidenan dinamakan Syu Sangi kai.

Di Karsidenan Banyumas yang terpilih sebagai anggota Syu Sangi kai untuk Kabupaten Cilacap adalah Jenderal Soedirman dan Efendi yang berkedudukan di Purwokerto. Bagi Jenderal Soedirman kedudukan sebagai anggota Syu Sangi kai merupakan amanah yang harus dilaksanakan untuk memperjuangkan nasib rakyat.

Dalam sidang dewan ia selalu mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar dalam bertindak kepada rakyat dilakukan secara manusiawi artinya tidak merampas harta milik rakyat dan berlaku kejam terhadap rakyat. Pangsar Jenderal Soedirman mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar membantu meringankan beban hidup rakyat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here