Home Pahlawan Jenderal Soedirman Seorang Pengajar dan Pendidik

Jenderal Soedirman Seorang Pengajar dan Pendidik

225
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Setelah Jenderal Soedirman menamatkan pendidikan di MULO pada tahun 1934. Ia menyadari bahwa sebagai lulusan MULO tidak berwenang untuk menjadi guru, tetapi ia ingin menjadi guru agar dapat mendidik generasi muda bangsa di HIS Muhammadiyah. Kebetulan saat itu HIS Muhammadiyah Cilacap yang didirikan oleh R. Moh Kholil kekurangan guru.

Untuk mengisi lowongan guru sangat kesulitan mendapatkan tenaga guru yang berasal dari lulusan sekolah guru. Maka keinginan Jenderal Soedirman untuk menjadi seorang guru dikabulkan oleh R. Moh Kholil asal mau belajar untuk menekuni sebagai guru. Setelah Jenderal Soedirman menjadi guru ia banyak menimba pengetahuan keguruan kepada guru-guru senior yang pernah mengajar di Wiworotomo.

Berkat ketekunan dan kesungguhan Jenderal Soedirman dalam waktu singkat telah menguasai teori dan praktek mengajar, seperti layaknya seorang guru HIS yang lain. Walaupun ia tidak punya ijazah pendidikan sekolah guru secara formal.

Bahkan, Jenderal Soedirman dinilai pimpinan Muhammadiyah Cilacap sebagai guru yang baik. Sebetulnya, ketertarikan Jenderal Soedirman menjadi seorang guru sejak ia menjadi pembantu guru atau guru kecil saat ia menjadi siswa di MULO Wiworotomo.

Dimata para muridnya Jenderal Soedirman sangat disenangi karena ia pandai dalam menyampaikan materi pelajaran terutama pengetahuan sosial, agama dan bahasa Belanda. Dalam mengajar kepada para siswanya sangat menarik dan kelas menjadi hidup tidak membosankan, karena diperkaya dengan ilustrasi yang sesuai dengan persoalan di seputar kehidupan siswa. Setiap pelajaran yang diberikan diterangkan dengan baik dengan bahasa yang mudah diterima oleh siswa-siswa HIS.

Sebagai seorang guru, Jenderal Soedirman berperan sebagai pengajar dan pendidik, karena dalam mengajar ia tidak terbatas pada aspek keilmuan semata, tetapi juga pada aspek nilai. Dengan kata lain tidak hanya menekankan dari segi aspek kognitif saja melainkan juga pada aspek afektif, bahkan melaksanakan aspek psikomotorik.

Hal itu dapat dilihat dari apa yang dikerjakan oleh Jenderal Soedirman pada waktu menjadi guru. Dalam proses belajar mengajar disamping ia menyampaikan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial, bahasa Belanda, ia juga menyampaikan mata pelajaran budi pekerti, agama dan akhlak serta etika sopan santun. Disamping itu juga ia sering membina pelajaran ketrampilan.

Keinginan besar Jenderal Soedirman kepada para siswa agar memiliki jiwa yang tangguh, berani, tetapi tetap selalu rendah hati, jujur dan konsisten, memiliki semangat juang dan nasionalisme yang tinggi. Hal ini sangat penting karena guna menanamkan kepada para siswa untuk memiliki kesadaran berbangsa dan menjunjung tinggi tanah airnya.

Keterpanggilan Jenderal Soedirman menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah disamping ingin mengembangkan bakat, juga karena panggilan hati nurani. Ia ingin menyalurkan pengabdian dan kejuangannya di bidang pendidikan Bumiputra. Sehingga ia merasa senang menjadi guru karena merupakan pekerjaan yang mulia sekaligus mengandung nilai ibadah.

Hubungan Jenderal Soedirman dengan guru lainnya juga terjalin dengan baik dan sangat akrab serta selalu bekerja sama dengan kawan-kawan guru yang lain. Bahkan, ia beserta guru yang lain sering berdisikusi untuk membahas persoalan-persoalan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Disamping itu dimata rekan-rekan guru, Jenderal Soedirman dikenal guru yang disiplin dalam memegang teguh ketertiban sekolah, namun tidak kaku, ia sangat arif dan lapang menghadapi dan menangani berbagai persoalan sekolah.

Berkat ketekunan dan prestasi serta penampilan, kepemimpinan Jenderal Soedirman dapat diterima oleh rekan-rekan guru lainnya, ia juga terpilih dan dipercaya untuk menjadi Kepala Sekolah di HIS Muhammadiyah.

Terpilihnya Jenderal Soedirman menjadi kepala sekolah tidak lantas membuatnya sombong sikap dan perilaku dalam pergaulan sesama guru, bahkan ia tetap santun tidak ada perubahan seperti saat sebelum menjadi kepala sekolah.

Justru perubahan yang terjadi adalah Jenderal Soedirman memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar. Karena ia harus mengkoordinasikan guru-guru dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Ia juga sangat bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah dan selalu memikirkan tentang kesejahteraan para guru sekolahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here