Home Pahlawan Profil Dai dan Mubaligh Dibalik Sosok Jendral Sudirman

Profil Dai dan Mubaligh Dibalik Sosok Jendral Sudirman

604
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Kehidupan Jenderal Soedirman di masa kecil sudah nampak terlihat sebagai seorang anak yang rajin belajar agama. Hal ini tidak heran karena ia hidup di lingkungan masyarakat yang agamis, karena di lingkungan tempat tinggalnya dekat dengan Masjid. Ia juga banyak belajar agama dengan para tokoh agama di Cilacap, diantaranya kepada R. Moh Kholil seorang tokoh Muhammadiyah di Cilacap.

Walau secara formal Jenderal Soedirman tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren, tetapi bakat dan pengalamannya sering tampil di depan umum, berpidato maka ia terdorong untuk menjadi seorang da’i yang cukup terkenal di Cilacap dan Banyumas sekitarnya.

Sebelum menjadi pegiat dakwah Soedirman muda sudah banyak berpengalaman sebagai aktifis masyarakat yaitu pemimpin Hizbul Wathan, Pemuda Muhammadiyah dan Guru Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Berkat kedekatannya dengan R. Moh Kholil, Jenderal Soedirman sering bertukar pikiran tentang masalah dakwah Islamiyah. Selain itu ia juga banyak belajar dengan para Kyai, diantaranya Kyai Markhum seorang Imam Masjid Besar di Cilacap.

Soedirman muda juga banyak belajar dengan Muhammad Saidun seorang guru agama di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Wiworotomo Cilacap. Dari berguru kepada para tokoh agama itu membawa Jenderal Soedirman berhasil menjadi juru dakwah yang cukup dikenal Cilacap, Banyumas dan sekitarnya.

Dalam berdakwah, Jenderal Soedirman lebih banyak menekankan tentang ajaran tauhid, kesadaran beragama dan kesadaran berbangsa. Hal ini dilatar belakangi oleh adanya kondisi masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat Jawa yang terkadang bertentangan dengan ketauhidan, sehingga dikhawatirkan masyarakat dapat terjerumus kepada kemusyrikan. Selain itu, dalam dakwahnya ia juga sering menyampaikan tentang keesaan Tuhan atau tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah SWT.

Dalam berdakwah, materi-materi yang disampaikannya tak kalah menarik yaitu tentang pentingnya kehidupan beragama dan berbangsa bagi masyarakat. Hidup berdasarkan agama akan membuat manusia mendapat ketenangan bila berpegang pada ajaran Allah SWT. Agama Islam mengajarkan kepada kita agar supaya masyarakat hidup untuk saling berbuat baik, hormat menghormati sesama manusia guna menuju kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.

Untuk itu ia berharap setiap anggota masyarakat berpegang pada tali agama. Dalam berdakwah strategi yang sering dilakukannya adalah dengan cara ceramah yang diwarisi dengan contoh-contoh dalam kehidupan seperti hubungan antar anggota keluarga, hubungan anak dengan orang tua, hubungan antar manusia di masyarakat dan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Jenderal Soedirman juga sering berdakwah dengan menyampaikan materi yang berhubungan dengan kesadaran berbangsa dalam menyikapi keadaan saat itu. Materi seperti itu sering disampaikannya kepada para pemuda dan generasi Hizbul Wathan yang intinya menghimbau agar generasi muda menggalang semangat kesadaran berbangsa untuk berjuang guna kemerdekaan bangsa. Para pemuda juga harus berani berjuang jihad fiisabilillah melawan segala bentuk kemungkaran.

Dalam berdakwah, Jenderal Soedirman juga selalu menekankan kepada masyarakat bahwa berjuang semata-mata demi agama, bangsa dan negara. Kepada generasi muda khususnya kaum laki-laki ia juga selalu menekankan bahwa dalam berjuang harus ikhlas, jangan karena pamrih uang dan harta, tetapi tulus tanpa pamrih demi tegaknya agama, bangsa dan negara.

Untuk mengembangkan motivasi dan memantapkan semangat perjuangan kaum muda, Jenderal Soedirman dalam dakwahnya sering menggunakan kisah-kisah sejarah, sebagai contoh yang dapat diteladani. Misalnya sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW, bahkan Jenderal Soedirman pernah memberikan contoh keteladanan perjuangan dari seorang tokoh panglima Islam yang bernama Tariq Bin Ziyad (Thariq ibnu Ziyad).

Dengan keberanian, keteguhan hati dan keuletannya tokoh Islam ini berhasil menyeberangi Selat Gibraltar (Jabal Thariq) dari Afrika ke Andalusia, sehingga Jenderal Thariq bin Ziyad ini pantas untuk diteladani kepahlawanannya oleh para pemuda untuk berjuang terus dalam menegakkan kebenaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here