Home Pahlawan Jenderal Soedirman Sebagai Panglima Tertinggi TKR

Jenderal Soedirman Sebagai Panglima Tertinggi TKR

325
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Perkembangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) semakin besar dengan adanya minat para pemuda yang ingin mendaftar menjadi TKR, namun secara keorganisasian masih belum tertata dengan baik karena sarana dan prasarana masih terbatas.

Untuk itu, persoalan yang sangat dirasakan adalah susunan kepemimpinan dalam tubuh TKR yang masih belum memadai karena belum ada seorang Panglima Besar (Pangab TKR) yang akan memimpin pucuk pimpinan tertinggi di TKR. Hal inilah yang menjadi kendala dalam upaya membentuk tentara Indonesia yang kuat.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, pimpinan markas besar tertinggi TKR yang diorganisir Kepala Staf Mayor Oerip Soemohardjo merencanakan mengadakan pemilihan seorang perwira tinggi untuk menjadi Panglima Besar TKR.

Guna menindaklanjuti rencana tersebut pada tanggal 12 November 1945 diadakan konferensi besar TKR di Yogyakarta. Peserta konfrensi adalah semua para komandan resimen dan divisi wilayah Sumatera dan Jawa. Saat itu di Jawa ada 10 divisi dan Sumatera ada 6 divisi. Sementara resimen jumlahnya puluhan.

Oerip Soemohardjo menjadi pimpinan rapat di sesi pertama. Saat memasuki agenda pemilihan panglima TKR, rapat menjadi ricuh karena masing-masing komandan tak siap membawa usulan siapa yang akan dijadikan panglima besar TKR. Dalam situasi ini, Sudirman muda yang saat itu sebagai Komandan Divisi V melakukan interupsi.

Ia mengusulkan agar rapat di-skors sementara yang lalu disetujui perwira. (Keberanian Kolonel Sudirman mengusulkan skors, bisa jadi poin tersendiri bagi kemenangannya dalam bursa calon panglima TKR, mengingat terbatasnya waktu yang dimiliki para komandan untuk men-scan calon pilihannya.)

Konfrensi pemilihan dilakukan dengan cara mengangkat tangan satu persatu setelah nama calon disebutkan panitia. Pemilihan saat itu dilakukan dengan tiga tahap, setelah disaring lewat beberapa tahapan, maka mengerucutlah pada 2 nama yakni Mayor Urip Sumoharjo dan Kolonel Soedirman.

Setelah voting, diperoleh hasil 21 suara mendukung mayor Oerip Soemohardjo, sedangkan Kolonel Soedirman didukung oleh 22 suara. Satu suara tambahan lagi diperoleh Kolonel Soedirman dari wakil Sumatera, Kolonel Moeh Noeh yang mengaku mengantongi mandat 6 kepala divisi se-Sumatera.

Jadilah Kolonel Soedirman sebagai pemenang. Dengan demikian sebagai perwira tinggi jatuh kepada Jenderal Soedirman sebagai calon Panglima Besar Angkatan Perang RI. Rapat juga memutuskan Mayor Oerip Soemohardjo tetap sebagai Kepala Staf dan yang tak diduga karena bukan kewenangan tentara, juga menunjuk Sri Sultan HB IX sebagai menteri pertahanan.

Terpilihnya Kolonel Soedirman, Panglima Divisi V Komandeman Jawa Tengah saat itu sebagai Panglima Tertinggi (Pangsar) TKR pada 18 Desember 1945 dengan pangkat Jenderal memang sangat mengejutkan karena usianya masih sangat muda. Saat itu beliau masih berusia 29 tahun sudah dapat meraih suatu jabatan pemimpin di lingkungan pemerintahan tingkat nasional.

Bakat kepemimpinan Kolonel Soedirman sudah dikenal luas di kalangan perwira PETA, rekan satu korpsnya dulu. Kolonel Soedirman seorang perwira PETA yang mampu menjinakkan pemberontakan PETA Gumilir agar tak bernasib sama seperti pemberontakan PETA Blitar yang berakhir dipenggalnya 6 perwira PETA.

Sudirman pula yang memimpin para perwira PETA kharismatik yang tengah diisolasi Jepang di Bogor dengan melarikan diri dari kamp isolasi, pada saat terjadinya proklamasi 1945. Hal ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa, bahkan sampai saat ini belum ada yang dapat menandingi prestasi Jenderal Soedirman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here