Home Pahlawan Jenderal Soedirman Pimpin Pertempuran Ambarawa

Jenderal Soedirman Pimpin Pertempuran Ambarawa

632
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Setelah selesai konferensi para peserta kembali ke daerah masing-masing untuk melanjutkan tugas sebagai TKR. Setibanya di Purwokerto, Jenderal Soedirman terus melakukan koordinasi dengan para anggota TKR. Hal ini dilakukan karena situasi negara yang semakin panas disebabkan kedatangan tentara Sekutu ke Indonesia.

Pada tanggal 19 Oktober 1945 tentara sekutu di bawah pimpinan Jenderal Bethel mendarat di Semarang. Ketika itu di Semarang sedang terjadi pelucutan senjata dari tangan Jepang, sehingga kedatangan sekutu menimbulkan kekakacauan. Tetapi sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat, Gubernur Jawa Tengah Wongsonegoro menyambut kedatangan Sekutu dengan baik. Sebab Sekutu telah berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Indonesia.

Berdasarkan pertimbangan itu tentara sekutu diijinkan masuk untuk mengurus tawanan perang. Tetapi kenyataannya pasukan sekutu bersama-sama NICA bersikap arogan sehingga menimbulkan ketegangan dan kekacauan serta tidak aman di Indonesia. Latar belakang inilah yang menimbul berbagai perlawanan dan pertempuran di beberapa tempat antara TKR dengan tentara sekutu. Seperti pertempuran di Magelang, Ambara, Surabaya dan Bandung.

Menghadapi pertempuran tersebut Jenderal Soedirman melakukan koordinasi dengan para komandan untuk melaksanakan pertempuran di Ambarawa guna melawan tentara sekutu. Pertempuran berlangsung pada akhir bulan November sampai bulan Desember 1945.

Gerakan penyusupan dan pengepungan terhadap pasukan sekutu oleh TKR mulai menunjukan hasil. Hal ini dengan dikuasainya benteng pertahanan sekutu di Banyubiru oleh para pejuang TKR dan diserangnya lapangan terbang di Kalibanteng Semarang oleh para pejuang TKR untuk memutus perbekalan logistik sekutu.

Kondisi saat itu menurut Jenderal Soedirman merupakan waktu yang sangat menentukan, dan langkah yang dilakukan adalah ia kembali melakukan koodinasi dan pembicaraan serius dengan para komandan sektor, guna mencanangkan serangan mendadak dengan taktik Supit Urang. Selanjutnya setelah disepakati strateginya pada 12 Desember 1945 pukul 04.30 WIB serangan dilancarkan dan terjadi pertempuran sengit.

Pasukan sekutu semakin terdesak mundur dan bertahan di benteng Willem. Pada tanggal 15 Desember 1945 pasukan TKR berhasil mengepung dan menghancurkan benteng pertahanan sekutu, sehingga pasukan sekutu dapat dipukul mundur untuk meninggalkan kota Ambarawa. Inilah keberhasilan Jenderal Soedirman dalam memimpin pertempuran di Ambarawa dengan semangat pantang menyerah dan strategi yang jitu dapat memenangkan pertempuran Ambarawa.

Setelah Jenderal Soedirman dilantik sebagai Panglima tertinggi (besar) TKR pada tanggal 18 Desember 1945 oleh Presiden Soekarno, maka pada saat itu secara resmi Jenderal Soedirman menyandang pangkat Jenderal. Dengan status Panglima Tertinggi TKR dengan sendirinya tugas-tugas yang diembannya semakin berat karena yang semula ia bergulat pada persoalan-persoalan perang dan taktis, beralih pada tugas-tugas perang strategis, termasuk memikirkan tentang masa depan keamanan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Kebijakan pemerintah dalam menghadapi konflik-konflik dengan sekutu dan NICA dilakukan dengan cara perundingan. Walaupun para pejuang TKR ingin menyelesaikan dengan cara pertempuran bersenjata. Kenyataannya Belanda selalu berusaha kembali menjajah dengan melakukan tindakan-tindakan penyerbuan terhadap tempat-tempat strategis. Pada tanggal 7 Oktober 1946 perundingan antara Indonesia dan Belanda untuk menyelesaikan konflik bersenjata, pada akhirnya disepakiti dengan melakukan genjatan senjata.

Jenderal Soedirman selaku Panglima Tertinggi ditunjuk sebagai panitia gencatan senjata dengan Lord Killearn sebagai penengahnya. Dengan gencatan senjata diharapkan konflik dapat diselesaikan dengan cara diplomasi. Adapun penyelesaian diplomasi dilakukan dengan melaksanakan perundingan Linggarjati dan Renville.

Dengan perundingan kedua belah pihak saling menyetujui. Namun, perkembangan yang terjadi Belanda tidak mentaati perundingan yang telah dilakukan dengan pemerintah Indonesia. Belanda terus berusaha menekan Indonesia dengan melakukan kosentrasi pasukan secara besar-besaran di garis demarkasi guna persiapan untuk melakukan serangan kembali kepada Indonesia.

Menghadapi perkembangan yang semakin memburuk ini, walaupun Jenderal Soedirman dalam kondisi sakit, ia tetap melakukan koordinasi dengan para komandan untuk bersiap siaga menghadapi serangan dari pihak Belanda. Kemudian Jenderal Soedirman memerintahkan kepada Wakil Panglima yaitu Kolonel AH Nasution untuk menyusun konsep Perang Rakyat Semesta dengan TKR/TNI sebagai kekuatan intinya. AH Nasution dipercaya menyusun konsep perang karena berpengalaman dalam perang gerilya di Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here