Home Pahlawan Jenderal Soedirman, Perjuangan Tak Kenal Lelah

Jenderal Soedirman, Perjuangan Tak Kenal Lelah

293
0

Oleh Acep Sukmaprana

SejarahOne.id – Jenderal Soedirman adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa revolusi nasional Indonesia. Dan dikenal dengan bapak TNI. Yang secara luas jasa-jasanya akan selalu dikenang dan dihormati di Indonesia. Jenderal Soedirman sangatlah cocok sebagai tokoh untuk menjadi motivator, idola dan cerminan keteladanan bagi setiap orang.

Didalam sebuah buku biografi ini yang ditulis Sardiman menjelaskan kehidupan Jenderal Soedirman mulai dari lahir hingga beliau wafat. Semasa hidupnya Jenderal Soedirman sangatlah baik. Ia menjadi teladan bagi semua kalangan orang.

Jenderal Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 di dukuh Rembang, Purbalingga. Beliau lahir dari kalangan wong cilik atau rakyat biasa. Ayahnya bernama Karsid dan ibunya bernama Siyem. Setelah lahir beliau diangkat sebagai anak oleh keluarga R. Cokrosunaryo sehingga nama depannya diberi nama Raden Soedirman. Soedirman tumbuh dan besar dikalangan priyayi menjadi anak yang sederhana, soleh, ramah, sopan, pekerja keras, patuh dan hormat dengan orang tua serta taat beribadah.

Saat kecil beliau sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Gubernemen atau HIS pemerintah. Setelah lulus di HIS Gubernemen beliau melanjutkan masuk ke Taman Siswa (SLTP di taman siswa), akan tetapi Soedirman saat kelas 2 harus pindah ke MULO Wirotomo, Cilacap. Dengan ketekunan, disiplin, rajin belajar dan keuletannya serta aktivitasnya yang mumpuni untuk membantu sekolah dan membantu teman-temannya maka Sudirman dijuluki dengan “guru kecil”.

Saat beranjak dewasa Soedirman pun mulai terkenal dikalangan pemuda di Cilacap. Ia dikenal dengan pemuda yang saleh, rendah hati, familier, disiplin dan suka bekerja keras. Semenjak ia menjadi siswa MULO wirotomo telah terlihat tanda-tanda pada dirinya yaitu remaja yang bertanggung jawab. Sebagai contoh ia aktif dalam berorganisasi Ikatan Pelajar Wirotomo.

Kemudian bakat-bakat kepanduan yang dimiliki oleh Soedirman tersalur setelah ia benar-benar aktif dalam organisasi kepanduan Gerakan Muhammadiyah yang dikenal dengan nama Hizboel Wathan (HW). Berbagai aktivitas telah diikuti dan Soedirman pun ditunjuk menjadi pemimpin Pemuda Muhammadiyah wilayah Banyumas. Ia termasuk pemimpin yang amanah dan sangat kreatif dalam membimbing teman-temannya.

Singkatnya, Soedirman adalah pemuda yang hebat dan pada tahun 1944 Soedirman ditunjuk menjadi Komandan PETA dan melakukan pemberontakan. Kemudian pada usia 29, ia menjadi panglima TKR dan memimpin perang melawan sekutu di Ambarawa.

Setelah tiga tahun, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah tanah Indonesia mulai dari perjanjian Linggarjati hingga perjanjiaan Renvile yang menyebabkan indonesia harus merugi karena harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I dan Indonesia hanya memiliki 3 wilayah yaitu Sumatera, Jawa dan Madura.

Dengan beban dan tanggung jawab yang besar serta tidak keselarasan antara Sudirman dengan pemerintah membuat kondisi Soedirman melemah dan terserang penyakit TBC. Beliau pun harus dioperasi dengan mengempeskan paru-parunya sebelah kanan. Dengan itu Soedirman harus dirawat beberapa saat di RS Panti Rapih.

Pada bulan Desember 1948 beberapa hari setelah Jenderal Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan sebuah serangan yang dinamakan Agresi Militer II dengan tujuan menduduki Yogyakarta. Kemudian Soedirman dengan sekelompok kecil tentara dan dokter yang mendampinginya bergerak ke wilayah selatan dan memulai perlawanan griliya selama tujuh bulan.

Pada awalnya pergerakan Soedirman ini telah diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi soedirman dan pasukan berhasil kabur dan mereka mendirikan sebuah markas di Sobo, dekat dengan gunung Lawu. Di Sobo ini soedirman dapat memimpin dan mengomando kegiatan militer yang terjadi di Jawa, termasuk Serangan Umum Satu Maret 1949 di Yogyakarta yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Setelah Belanda beranjak mundur, kemudian Soedirman di panggil ke Yogyakarta pada Juli 1949. Setelah itu keinginan Soedirman untuk melawan Belanda berhenti karena dilarang presiden Soekarno karena penyakit TBC nya kambuh dan memutuskan untuk pensiun. Jenderal Soedirman kemudian dirawat di Yogyakarta, karena di Yogyakarta kurang cocok maka beliau dipindahkan ke Badaan, Magelang.

Pada hari Sabtu 28 Januari 1950 Dr Halim menjenguknya dan masih bisa berbincang membahas tentang pemerintahan Indonesia. Dan dalam pertemuan itu Sudirman berpesan kepada Dr Halim “Saya hanya dapat menyokong usaha saudara dengan kekuatan batin saja dan berdoa semoga usaha saudara memimpin negara berhasil mencapai cita-cita semua”.

Pesan itu pun nampaknya pesan terakhir bagi Dr Halim dan para pemimpin bangsa. Dan akhir takdir Tuhan datang, pada hari ahad 29 Januari 1950 sekitar pukul 18.30 Jenderal Soedirman menghembuskan napas terakhir. Kemudian pada tanggal 30 Januari 1950 jenazah Jenderal Soedirman dibawa ke Yogyakarta dan di makamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Buku ini menceritakan tokoh Jenderal Sudirman yang sangat bagus sekali untuk diteladani, ditulis dengan lengkap, menarik, mudah dipahami dan terperinci. Buku ini dapat memotivasi pembacanya dengan meneladani perilaku Jenderal Soedirman. Yaitu menjadi orang yang saleh, hormat pada orangtua, memiliki semangat juang, rela berkorban, disiplin, berani, pantang menyerah, tanggung jawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here