Home Pahlawan Jenderal Soedirman Pengatur Siasat Perang Gerilya

Jenderal Soedirman Pengatur Siasat Perang Gerilya

164
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Setelah perintah kilat dikeluarkan, maka strategi yang digunakan adaIah meninggalkan penerapan sistem pertahanan linier dan beralih kepada penerapan strategi perang gerilya, artinya dengan kata lain, kota Yogyakarta tidak akan dipertahankan dengan pasukan besar secara linier, tetapi akan beralih ke perang gerilya yaitu berperang dan bertahan di desa-desa, gunung-gunung dan hutan belantara.

Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. Bagi tentara, perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui, menipu atau bahkan melakukan serangan kilat.

Perang gerilya adalah salah satu peristiwa besar yang pernah dialami Indonesia. Dicetuskan dan dipimpin langsung oleh Jenderal Soedirman kala itu, perang gerilya berhasil membuat pasukan Belanda kocar kacir. Perang gerilya adalah suatu taktik perang yang dilakukan secara sembunyi dan berpindah-pindah.

Dalam perang gerilya, Jenderal Sudirman memimpin langsung pasukan dari atas tandu. Sebab kondisinya yang lemah akibat penyakit bronchitis yang dideritanya. Perang ini juga merupakan jawaban kekecewaan Jenderal Soedirman kepada Soekarno Hatta yang lebih memilih jalur diplomasi di banding berperang untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan NKRI.

Dengan pasukan-pasukan kecil di luar kota dan terus menerus tanpa mengenal waktu dan lelah, para pejuang Indonesia terus menyerang pasukan Belanda dimana saja mereka berada, sesuai dengan Surat Perintah yang dikeluarkan sebelumnya yaitu Perintah Siasat No.1 Mei 1948. Strategi inilah yang ternyata dikemudian hari dapat mengalahkan strategi pihak pemerintah Belanda untuk menjajah kembaIi Indonesia.

Menghadapi strategi TNI ini, Belanda tidak dapat menghancurkan TNI yang didukung serta dilindungi oleh rakyatnya yang ingin merdeka. Memang mereka dapat memenangkan suatu pertempuran seperti halnya pertempuran di Yogyakarta. Namun, secara strategis dalam jangka panjang, mereka akan kalah.

Setiap target yang diserang Belanda, banyak yang telah kosong, namun pada saat yang tak disangka-sangka, tentara Indonesia menyerang kedudukan Belanda dengan cepat. Akibatnya, koordinasi Belanda menjadi tidak seimbang dan mereka terpukul mundur.

Perjalanan bergerilya selama delapan bulan ditempuh tak lebih lebih 1.000 km di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sering Jenderal Soedirman wajib ditandu alias digendong sebab dalam keadaan sakit keras. Seusai berpindah-pindah dari berbagai desa rombongan Soedirman kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

Di Sumatera, TNI bergerak masuk ke hutan-hutan. Belanda menjadi jera karena biaya perang mereka semakin lama semakin menjadi besar dan mahal. Juga jera karena moril tentara mereka makin lama makin merosot karena jauh dari negaranya serta memerlukan dana/logistik yang besar dan cepat, tetapi juga menuntut loyalitas para perajurit mereka di dalam melakukan perang terus menerus melawan TNI, yang tiba-tiba menyusup dan datang dari desa-desa, gunung dan hutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here