Home Pahlawan Jenderal Soedirman Kembali ke Yogyakarta

Jenderal Soedirman Kembali ke Yogyakarta

146
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Menurut Jenderal Soedirman untuk lebih mengetahui situasi yang sebenarnya terhadap perkembangan Republik Indonesia, maka satu-satunya jalan yang terbaik adalah dengan mendekati kota Yogyakarta. Perintah dan komunikasi akan berjalan lebih lancar dan moril para prajurit, pejuang dan rakyat akan lebih tinggi. Demikian pula dalam mengambil suatu keputusan akan lebih mudah dan cepat. Ekses yang terjadi dengan mudah dapat diatasi.

Perjalanan terbaik ke ibukota Republik itu adalah melalui Tirtomoyo, walaupun di daerah ini terdapat banyak pasukan Digdo PKI yang tidak dapat dipandang sebelah mata walau sudah memihak pada Rl dan taat pada Jenderal Soedirman.

Menghadapi situasi demikian Jenderal Soedirman sangat beruntung, karena peleton CPM pengawalnya dari kesatuan Sukotjo cukup kuat. Sunggu berat menghadapi kenyataan ini karena rombongan harus singgah dan bermalam di Tirtomoyo, walaupun berdekatan dengan markas PKI Digdo.

Setelah menginap satu malam di Tirtomoyo, tanggal 2 Juli 1949 rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke Eromoko, kurang lebih 2 kilometer jaraknya dari pos Belanda. Perjalanan dilakukan pada malam hari sebelum subuh dan diteruskan ke desa Krejo, Kecamatan Ponjong. Rombongan menginap semalam lagi dan esok harinya Pak Soeharto datang menghadap Jenderal Soedirman (8 Juli 1949).

Di dalam pertemuan antara Jenderal Soedirman dan Soeharto sempat dibicarakan situasi politik dan militer di sekitar kota Yogyakarta. Sebenarnya masih ada 3 persoalan yang dihadapi Jenderal Soedirman sebelum beliau masuk kota, antara lain:

1. Jenderal Soedirman harus masuk dan tinggal secara aman di Yogyakarta, jadi harus dipastikan dulu apakah Belanda sebenarnya masih tetap berkeinginan melancarkan operasi militernya ke III sebagai usul para penguasa Belanda. Jadi kekhawatiran Jenderal Soedirman mengenai kemungkinan Belanda masih mau menyerang Indonesia lagi ternyata benar. Tidak jadinya Belanda melancarkan gerakan ketiga ini adalah karena kondisi TNI yang makin kuat dan juga karena kedudukan politik yang berubah di pihak Belanda yang lebih realistis melihat keadaan Indonesia.

2. Penyelesaian pertikaian Indonesia Belanda, melalui perundingan yang tidak meremehkan status TNI.

3. Bagaimana cara menjalankan gencatan senjata, karena TNI tidak lagi bertempur dengan garis pertahanan, melainkan bersifat gerilya. Setelah Jenderal Soedirman mendapatkan beberapa informasi dan kepastian dari Soeharto, maka rombongan berangkat dari Ponjong pada pagi hari tanggal 9 Juli 1949.

Pak Harto panggilan akrab Soeharto sendiri pagi itu juga langsung menuju Yogyakarta mendahului rombongan guna mempersiapkan suatu parade akbar untuk menyambut kedatangan kembaIi Jenderal Soedirman ke Yogyakarta yang direncanakan akan dilaksanakan di lapangan Alun-alun Lor, depan Sitihinggil Keraton Jogya pada sore hari itu.

Sedangkan Pak Simatupang dan Pak Suhardjo Hardjowardjojo pada pagi harinya, tanggal 10 Juli 1949 datang untuk menjemput Jenderal Soedirman dengan sebuah kendaraan sedan dan Jeep Land Rover di jembatan kali Opak. Untuk para pengawalnya hanya dapat disediakan satu atau dua kendaraan pick-up, karena sudah tidak ada kendaraan lainnya. Sebagian lagi harus naik truck atau berjalan kaki.

Pembicaraan di dalam mobil antara Jenderal Soedirman, Simatupang dan Suhardjo sangat serius. Kemungkinan adalah usulan agar Jenderal Soedirman dapat pergi ke Gedung Agung dulu untuk bertemu khusus dengan Presiden dan Wakil Presiden.

Pertemuan ini penting karena akan menangkal perkiraan dan perhitungan Belanda yang mengharapkan akan terjadi suatu pertentangan hebat antara mereka yang bergerilya dan mereka-mereka yang mau ditawan oleh Belanda pada waktu Yogyakarta diduduki pada awal perang Kemerdekaan pertama.

Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman menerima dengan baik saran-saran yang disampaikan Simatupang dan Suhardjo Hardjowardjojo, yaitu beliau tidak akan langsung pergi ke lapangan untuk menyaksikan parade, tetapi terlebih dahulu akan mengadakan pertemuan dengan Presiden dan Wakil Presiden di Gedung Agung Yogya. Bertemu Bung Karno dan Bung Hatta, dinilai sebagai saat yang paling bersejarah dan merupakan kejadian yang sangat penting.

Ini menunjukkan kepada dunia luar dan dalam negeri, bahwa antara mereka yang bergerilya dan yang bersedia untuk ditawan oleh Belanda adalah tetap sebagai pejuang bangsa yang bersatu. Lebih-lebih dengan diadakannya parade penyambutan yang dipimpin oleh Soeharto, maka perhitungan dan politik perpecahan di Indonesia rekayasa Belanda secara implisit sudah menguap ke udara, walaupun secara intern belumlah dapat dianggap tuntas selama persetujuan Rum royen belum dirubah, yaitu pengakuan TNI sebagai satu-satunya kekuatan tentara dari negara RI.

Keadaan ini bukanlah hanya persoalan kehormatan TNI saja, melainkan di dalamnya juga terkait martabat dan kedaulatan negara RI. Sebab pengakuan atas sebauh negara secara otomatis juga harus pula mengakui keberadaan Angkatan Bersenjatanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here