Home Pahlawan Jenderal Soedirman: Bersama Kekuatan Rakyat Mempertahankan Kemerdekaan

Jenderal Soedirman: Bersama Kekuatan Rakyat Mempertahankan Kemerdekaan

122
0

Oleh Acep Sukmaprana

SejarahOne.id – Jenderal Soedirman diakui sebagai pemimpin yang konsisten, patriot sejati yang taat pada keputusan pemerintah. Semangat perjuangannya, bergerilya mempertahankan kemerdekaan dalam kondisi sakit parah, sangat besar pengaruhnya dan menjalar ke dalam hati sanubari seluruh prajurit TNI. Bung Hatta pernah mengatakan bahwa lelaki sederhana bernama Soedirman ini adalah pendekar persatuan tentara dan sosok pemimpin milier yang bersahaja.

Jenderal Soedirman mengatakan dalam suatu negara yang beradab dan modern hanya ada satu tentara sebagai alat negara. Politik tentara adalah politik negara. Semboyan tersebut terus menerus didengungkan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Soedirman dilahirkan dari keluarga petani pasangan Karsid-Sijem di Dukuh Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916.

Sejak masih bayi, ia diangkat sebagai anak oleh seorang pensiunan wedana bernama Tjokrosunarjo. Ayah angkatnya inilah yang menanamkan disiplin diri yang tinggi pada Soedirman sejak kanak-kanak. Terutama membagi waktu antara sekolah, mengaji dan bermain. Sedangkan ibu angkatnya menanamkan sopan santun ala Jawa. Tak ada bayang-bayang bahwa dirinya kelak menjadi Panglima Besar TNI.

Selepas sekolah dasar berbahasa Belanda, HIS, pada 1930 ia sempat bertani sambil belajar ilmu agama. Baru pada 1932, Soedirman muda melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah, MULO. Di luar kegiatan sekolah, ia sangat aktif dalam gerakan kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan (HW).

Walau sudah tamat dari MULO pada 1935, Soedirman tetap aktif dalam kegiatan Hizbul Wathan. Itu sebabnya, kemudian ia diangkat menjadi guru di sebuah sekolah Muhammadiyah yang baru didirikan di Cilacap, Jawa Tengah. Profesi ini ditekuninya hingga masa pendudukan Jepang.

Perang Dunia II dan masuknya tentara Dai Nippon ke Indonesia ternyata ikut mengubah haluan hidupnya. Setelah berhasil membina koperasi dagang dan membangun “Persatuan Koperasi Indonesia Wijayakesuma”, ia dipercaya duduk di Syu Sangikai (dewan perwakilan rakyat daerah) untuk wilayah Banyumas. Usai bertugas sebagai anggota Jawa Hokokai Banyumas, Soedirman masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk Jepang pada 3 Oktober 1943.

Berawal dari posisi daidanco di Kroya, ia masuk dalam daftar perwira berbahaya bagi pasukan Jepang. Sebab, dalam kapasitasnya sebagai daidanco alias komandan batalyon PETA, ia kerap menentang perwira pelatih Jepang yang berlaku sewenang-wenang. Soedirman akan dibunuh. Tapi rencana itu urung karena Jepang keburu menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Jenderal Soedirman mengumpulkan anak buahnya, kemudian menghimpun mereka dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) untuk mempertahankan kemerdekaan. Ia menjadi Komandan BKR Keresidenan Banyumas. Dalam posisi itu, Jenderal Soedirman memimpin perlucutan senjata pasukan Jepang di Banyumas. Berkat upayanya, BKR Banyumas memiliki persenjataan yang boleh dibilang paling lengkap dibandingkan dengan BKR di tempat lain.

Ketika Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk pada 5 Oktober 1945, ia terpilih menjadi Komandan Divisi V. Tantangan yang harus dihadapinya pertama kali cukup berat. Pasukan Belanda bersama Sekutu membebaskan dan mempersenjatai tentara Belanda yang ditawan Jepang di Magelang, sehingga menimbulkan bentrokan bersenjata dengan pasukan TKR.

Sekutu pun menjadikan Ambarawa sebagai basis untuk merebut kembali tanah Jawa. Saat itulah, meletus Perang Ambarawa. Soedirman ikut terjun langsung mengatur siasat perang yang baru berakhir pada 15 Desember 1945. Dalam perang empat hari itulah terbukti kemampuannya memimpin pasukan, yang membuat tentara Sekutu terpukul mundur.

Sebelum perang berakhir, Jenderal Soedirman dipilih menjadi Panglima TKR, menggantikan Soeprijadi. Soeprijadi tak pernah muncul setelah ditunjuk menjadi panglima. Berdasarkan inisiatif Oerip Soemohardjo, diadakanlah rapat untuk memilih panglima baru. Rapat para pemimpin tentara pada 2 November 1945 di Yogyakarta itu sepakat memilih Soedirman menjadi Panglima TKR dengan pangkat jenderal dan Oerip sebagai kepala stafnya.

Saat itulah, Soedirman menjadi jenderal pertama dan yang termuda di Indonesia dalam usia 29 tahun. Kekerasan hati dan keteguhannya memegang prinsip tampak sekali ketika agresi militer Belanda II dilancarkan pada Desember 1948. Sebagai panglima, ia tidak mau meninggalkan anak buahnya berperang sendirian. Ia menolak ketika diminta Bung Karno tetap di dalam kota, mengingat kesehatannya yang memburuk.

Jenderal Soedirman, yang menderita sakit paru-paru, menyatakan bahwa tempat terbaik baginya adalah di tengah anak buah. Dia pun melanjutkan perjuangan gerilya bersama para prajurit TNI. Panglima besar ini wafat menjelang magrib pada 29 Januari 1950 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Yogyakarta. Penyakit menggerogoti paru-parunya yang tinggal sebelah.

Jenderal Soedirman tidak hanya mewariskan semangat pantang menyerah. Berkat kepemimpinannya pula, semua unsur pejuang militer yang bertebaran di pelbagai wilayah di Tanah Air menyatu dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Semoga semangat juang dan dedikasi yang tinggi yang diperlihatkan Jenderal Soedirman menjadi pamicu dan pemacu semangat generasi muda mendatang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here