Home Pahlawan Jenderal Soedirman “Bapak Tentara Indonesia”

Jenderal Soedirman “Bapak Tentara Indonesia”

134
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Jenderal Soedirman adalah salah satu pahlawan yang ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan mengusir tentara Belanda yang masih belum rela Indonesia merdeka. Ia dikenal sebagai jenderal yang melakukan perlawanan secara gerilya. Dengan menggunakan tandu, Jenderal Soedirman yang saat itu sakit, keluar masuk hutan dan menyerang tentara Belanda hingga akhirnya mereka gentar dan angkat kaki dari Indonesia.

Jenderal Soedirman adalah salah satu dari sekian banyak Pahlawan Revolusi Nasional Indonesia. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia merupakan Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan termuda. Pada usia yang masih terbilang muda, yakni 31 tahun, Jenderal Soedirman sudah menjadi seorang jenderal. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai pejuang yang gigih dan teguh dalam memegang prinsip.

Walaupun pada kenyataanya ia sedang menderita penyakit paru-paru parah (TBC), Jenderal Soedirman tetap berjuang dan bergerilya bersama para prajuritnya untuk melawan tentara Belanda pada saat Agresi Militer II.

Jenderal Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 1916. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang pekerja di pabrik gula Kalibagor Banyumas dan ibunya keturunan Wedana Rembang. Ia memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa yang tersohor akan pendidikan nasionalisme besutan Ki Hajar Dewantara itu. Setelah tamat dari Taman Siswa, ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo namun tidak sampai tamat.

Selama menempuh pendidikan di sana, Jenderal Soedirman aktif dalam kegiatan organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Ia kemudian mengabdikan dirinya menjadi guru HIS Muhammadiyah, Cilacap dan pemandu di organisasi Pramuka Hizbul Wathan tersebut. Pada zaman pendudukan Jepang, Jenderal Soedirman bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan ia langsung diangkat menjadi Komandan Batalion di Kroya, Cilacap.

Kala itu, pria yang mempunyai sikap tegas ini sering memprotes perlakuan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya inilah, pernah dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran melawan pasukan Jepang, Jenderal Soedirman berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai prajurit pasca kemerdekaan Indonesia.

Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 November 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia.

Kemudian pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan kepadanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, namun karena prestasi yang sudah ia sumbangkan.

Saat pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut di bonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikian juga pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran sengit melawan tentara Inggris di Ambarawa.

Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkan lah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari tanpa henti itu akhirnya bisa memukul mundur pasukan Inggris dan membuatnya lari tunggang langgang ke Semarang. Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan Agresi Militer II, Ibukota Negara RI dialihkan di Yogyakarta karena Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai.

Jenderal Soedirman saat itu sedang sakit, kondisinya sangat lemah karena paru-parunya tingggal satu yang berfungsi. Dalam Agresi Militer II Belanda, dalam kurun waktu yang relatif cepat Yogyakarta pun juga berhasil dikuasai. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan.

Melihat keadaan yang serunyam itu, Jenderal Soedirman tidak bisa tinggal diam, dorongan hatinya mengatakan untuk melakukan perlawanan mengingat tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara. Ia terpaksa tidak memenuhi perintah Presiden Soekarno yang sebelumnya telah menganjurkan untuk tetap tinggal dalam kota dan melakukan perawatan.

Dengan ditandu, Jenderal Soedirman berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari gunung ke gunung, hutan ke hutan yang lain karena kejaran Belanda. Dan yang membuat semakin miris adalah ia dalam keadaan sakit parah dan lemah sementara obat juga bisa dikatakan tidak ada.

Namun, kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan ia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Meskipun demikian akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, karena ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung.

Jenderal Soedirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bencana kelaparan.

Jenderal Soedirman wafat pada tanggal 29 Januari 1950 karena penyakit tuberkulosis parah yang ia derita. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Pada tahun 1997 ia dianugerahi gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh tiga orang Bangsa Indonesia sampai sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here