Home Opini Jejak Tokoh Syarekat Islam Sebagai Perumus Pancasila

Jejak Tokoh Syarekat Islam Sebagai Perumus Pancasila

73
0

Oleh: Prihandoyo Kuswanto (Ketua Rumah Pancasila)

SejarahOne.id – Peran Syarekat Islam merupakan Cikal bakal pergerakan kemerdekaan Indonesia, HOS Tjokro Aminnoto membangunkan kesadaran kaum pribumi untuk memperjuangkan harkat dan martabat kaum pribumi (Inlander) SI adalah organisasi modern pertama dan terbesar sepanjang sejarah pergerakan nasional Indonesia yang sebelumnya bernama SDI.

Perubahan ini dilatarbelakangi adanya keinginan perkumpulan berperan ke arah kemajuan di segala bidang dan bukan hanya berdagang saja. SDI yang dipelopori oleh H Samanhudi akhir nya berubah menjadi SI yang memainkan peranan sangat urgen, yakni sebagai penggerak utama dalam bidang politik praktis maupun dalam bidang pemberdayaan rakyat.

Pada awal abad 20 terjadi perubahan dari gerakan yang bercirikan ratu adil menjadi pengembangan intelektual, yaitu pendidikan. yang akan menjadi manusia yang berilmu karena pendidikan (F. Rosenthal, 1971: 17).

The Sarekat Islam Movement Its Contribution To Trilogi Landasan Prinsip Gerakan SI. Untuk melakukan gerakan penyadaran bagi rakyat Indonesia agar bisa mengankat harkat dan martabat umat Islam atau kaum pribumi Inlander maka perlu doktrin yang memperkuat tekat menjadi manusia seutuhnya. Dasar untuk perkuangan kaum Syarekat Islam itu adalah :

Sebersih-bersih Tauhid

Dengan memakai landasan ini jelaslah bahwa perjuanganbukan karena interest pribadi (personal interest), bukan karena kepentingan kelompok (group interest), bukan pula karena kepentingan keluarga (family interest). Tetapi berjuang karena kepentingan negara, bangsa dan agama dan dalam rangka tujuan yang lebih jauh yakni berjuang karena Allah semata.

Perjuangan yang dilandasi Ke Tahuidan adalah perjuangan yang hanya mencari Ridho Allah. Perjuangan kadang ada kesedihan dan kadang ada kegembiraan. Namun demikian tidak boleh risau dan bersedih hati, harus selalu sadar bahwa semua perbuatan manusia tidak ada yang lepas dari kekuasaan Tuhan.

Manusia bisa menipu orang lain dan membohongi masyarakat, tetapi tidak bisa menipu Tuhan dan dirinya sendiri. Oleh karena itu prinsip sebersih-bersih tauhid harus dimiliki kalau ingin mancapai hasil yang baik dan semata-mata hanya ridho Allah.

Sebersih-bersih tauhid merupakan landasan yang paling kokoh dalam menghadapi berbagai macam poblema kehidupan dan sebagai sebuah sinar cahaya yang terang benderang di tengahtengah suasana yang gelap. Hanya sebersih-bersih tauhid merupakan nur Ilahia yang selalu menjaga keimanan.

Didalam panitya 9 penysun rumusan Pancasila ada beberapa tokoh-tokoh yang merupakan wakil dari Syareat Islam ada Haji Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, mereka tentu mewarnai perumusan Pancasila tidak salah kalau Ke Tuhanan Yang Maha esa menjadi sila pertama, sebab sudah jelas sebersih bersihnya Tauhid menjadi central seluruh rumusan Pancasila dan Bung Karno sebagai Murid dan Mantu dari HOS Tjokro Aminoto ya pasti bisa menerima.

Setinggi-tinggi Ilmu

Ilmu pengetahuan adalah hal yang paling penting bagi umat manusia bukan hanya soal ilmu pengetahuan kehidupan tetapi menjalankan agama Islam itu juga harus ada Ilmu nya oleh sebab itu Islam sudah sangat komplit mengatur kehidupan ini, dari tidur sampai bangun tidur semua ada ilmu nya apa lagi mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara pastilah harus ada ilmu nya, maka dengan ilmu manusia akan mudah menghadapi segara persoalan hidup dan kehidupan .

Syareat Islam menempatkan setinggi tinggi ilmu untuk mencapai harkat dan martabat manuasia tentu saja tanpa ilmu manusia tidak akan mampu mewujudkan martabat kemanusiaannya.

Allah tidak meyuruh umatNya hanya mengejar akherat semata dengan tidak memperhatikan kesejahteraan hidupnya di dunia ini, tetapi Allah menghendaki agar umatNya hidup bahagia dan sejahtera di muka bumi serta kehidupan bahagia, tenteram dan damai, sejahtera serta abadi dengan segala kenikmatan yang ada dalam surga.

Manusia dapat mengatur perkara-perkara ibadat untuk kepentingan akherat dan untuk kepentingan dunia atau mencapai dunia akherat kalau mempunyai kepandaian ilmu (wetenschaps). Islam menghendaki kemerdekaan pikiran (menuntut ilmu) dengan berdasar kepada kesungguhan iman kepada Allah. SI menegaskan, umat Islam di dunia dan khususnya di Indonesia masih banyak yang hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan (verploreariseeren).

Adapun faktor yang menyebabkan kemiskinan dan kemelaratan itu karena umat Islam belum banyak mempergunakan akal untuk memecahkan berbagai problema kehidupan dan kemusykilan. Islam merupakan faktor yang kuat untuk menuju kemajuan dan yang menyebabkan timbulnya kemajuan ilmu.

Maka agar umat Islam lepas dari kebodohan dan kegelapan, syarat utama adalah tuntutlah ilmu pengetahuan setinggi-tingginya sejauh batas-batas yang diperkenankan Allah dan sejauh batas kemampuan otak manusia itu sendiri.

Sepandai-pandai Siyasah (Strategi)

Menurut SI, politik atau siyasah itu dapat dibedakan menjadi dua, yakni: Theoritische politiek, yakni sebagai ilmu pengetahuan (wetenschaps). Practische politiek, yakni sebagai kepandaian, keterampilan dan kecerdikan.

Yang dimaksud istilah sepandai-pandai siyasah di sini selain ilmu pengetahuan tentang politik tetapi terutama dalam pelaksanaannya dititik beratkan kepada arti kedua yakni kepandaian, keterampilan dan kecerdasan. Karena dalam kehidupan bermasyarakat meliputi ketiga-tiganya sebagai kemampuan dan keahlian dalam menerapkan kebijaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara (MA Gani, 1984 :197).

Sepandai-pandai siyasah tidak berdiri sendiri tetapi selalu berkesinambungan trilogi lainnya. Hal ini disebabkan pelaksanaan politik praktis tidak mungkin lepas dari sebersihbersih tauhid maupun setinggi-tinggi ilmu pengetahuan. Kalau prinsip trilogi ini dilepaskan dalam politik praktis maka para praktisi lebih cenderung bergerak ke arah yang kotor.

Sedangkan prinsip yang kotor itu sangat dicela oleh ajaran Islam, sebab dapat merusak dan melanggar sopan santun politik dan hak-hak asasi manusia yang dijunjung tinggi oleh agama Islam.

Memang ketiga prinsip itu tidak dapat dipisah-pisahkan di mana menurut Ismail Jaelani seorang pengurus pusat SI dan satu satunya dosen ke-SI-an di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) mengatakan bahwa trilogi tersebut pada waktu lahirnya SI, Islam masih berbaur dengan budaya sehingga Islam hanya sebagai azimat yang pada hakekatnya tidak sesuai dengan Islam.

Seseorang hanya mengambil karomahnya saja (kekuatan batin yang dikejar), sehingga ilmu agamanya kurang kelihatan. Karena pada saat itu bangsa Indonesia terjajah sehinga

Tujuan Gerakan SI

SI didirikan atas empat pokok pikiran yang menjadi tujuan gerakannya. Pertama, memperbaiki nasib rakyat dalam bidang sosial ekonomi. Kedua, mempersatukan pedagang batik agar dapat bersaing. Ketiga, hendak mempertinggi harkat dan martabat bangsa Indonesia yang pada saat itu sering disebut bumi putera. Keempat, memperkembangkan serta memajukan Islam melalui pendidikan

Tujuan pada saat permulaan bentuknya sangat sederhana, kemudian lebih dipertegas oleh SI dengan Akte Notaris 10 September 1912 Drs. Susanto Tirtoprojo SH. Di dalam Akte Notaris tersebut ditetapkan tujuan SI sebagai berikut:

Pertama, memajukan perdagangan. Kedua, memberikan pertolongan kepada anggota-anggota yang mengalami kesukaran, jadi semacam koperasi bantu-membantu. Ketiga, memajukan kepentingan jasmani dan rohani dari penduduk asli. Bahwa tujuan tidak hanya terbatas kepada anggota saja, tetapi perkumpulan meluas kepada masyarakat yakni kepentingan penduduk asli.

Keempat, memajukan kehidupan agama Islam (Susanto Tirtoprodjo, 1968: 24). Jadi usahanya untuk memperbaiki dan mengembangkan ekonomi, sosial koperasi, pendidikan serta melaksanakan dakwah Islam tetap menjadi tujuannya yang utama (Amelz, 1955: 37-38).manusia dari yang semula pasif, statis, dan regresif menjadi aktif, dinamis, dan progresif menuju masyarakat madani di Indonesia.

Dengan pendidikan dapat membawa manusia ke konteks yang lebih adil, baik dalam konteks belajar maupun sosial. Dalam konteks belajar, misalnya dari yang semula monoton, monolog dan otoriter menjadi variatif, dialogis, dan demokratis. Hal tersebut dapat memberikan kontribusi pada pembelajaran sekarang tidak hanya ceramah saja tetapi perlu variatif, dialogis serta kontekstual.

Dengan demikian pendidikan sebagai praktek pembebasan dari penindasan, mengoptimalkan keadilan di dalam semua konteks kehidupan, tidak adanya diskriminasi. Dengan demikian melalui pendidikan pada zaman dahulu mampu memberdayakan masyarakat untuk membrontak penjajah demi membebaskan dari penindasan penjajah.

Gerakan pemberdayaan ini membentuk perlawanan terhadap penjajahan dan ingin memajukan harkat dan martabat sebagai kaum pribumi .Membangun kesadaran rakyat untuk percaya diri bahwa manusia sebagai Khalifah harus menegakan keadilan dan martabat kemanusiaan.

Kongres Islam nasional Pertama Sentral Serikat Islam, yang diadakan di Bandung, tanggal 17-24 Juni 1916, dapat diambil beberapa kesimpulan: Bahwa Sarikat Islam adalah penjelmaan kesadaran rakyat bahwa pribumi (Inlanders) tidak suka lagi dipandang sebagai “manusia setengah atau seperempat”, tapi menuntut dihormati sebagai ‘warga Negara bebas” tanah airnya. Bahwa kebangkitan Islam itu tampak juga pada gejala lahir, seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari dan sebagainya

Tokoh –tokoh Syarekat Islam yang duduk sebagai anggota Panitia sembilan Abikoesno Tjokrosoejoso (juga dieja Abikusno Cokrosuyoso, lahir di Kota Karanganyar, Kebumen tahun 1897 meninggal tahun 1968) adalah salah satu Bapak Pendiri Kemerdekaan Indonesia dan penandatangan konstitusi.

Ia merupakan anggota Panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD 1945 (dikenal sebagai Piagam Jakarta). Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presidensial pertama Soekarno dan juga menjadi penasihat Biro Pekerjaan Umum.

Kakak Tjokrosoejoso adalah Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin pertama Sarekat Islam. Setelah kematian saudaranya pada 17 Desember 1934, Abikoesno mewarisi jabatan sebagai pemimpin Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Bersama dengan Mohammad Husni Thamrin, dan Amir Sjarifoeddin, Tjokrosoejoso membentuk gabungan Politik Indonesia, sebuah front persatuan yang terdiri dari semua partai politik, kelompok, dan organisasi sosial yang menganjurkan kemerdekaan negara itu.

Mereka menawarkan dukungan penuh kepada otoritas pemerintahan kolonial Belanda dalam hal pertahanan untuk melawan Jepang jika mereka diberikan hak untuk mendirikan parlemen di bawah kekuasaan Ratu Belanda. Belanda menolak tawaran tersebut.

Selama masa pendudukan Jepang, Abikoesno Tjokrosoejoso adalah tokoh kunci dalam Masyumi. H Agus Salim Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta.

Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:

– Anggota Volksraad (1921-1924)
– Anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
– Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947 pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
– Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
– Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949
– Presiden Soekarno dan Agus Salim dalam tahanan Belanda, 1949.

Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang. Kedua tokoh Syarekat Islam inilah yang ikut mewarnai penysunan Piagam Jakarta di mana kemudian dijadikan pembukaan UUD 1945 setelah dihilangkan sembilan kata pada sila Ketuhanan dengan menjalankan syareat Islam bagi pemeluk-pemeluk nya dan menjadi Ke Tuhanan Yang Maha Esa.

Peran SI sangat besar dalam menysun Pancasila didalam pembukaan UUD 1945 kalau kita membuka Sejarah maka apa yang ada di Pancasila itu sudah sejak lama ada di Syarekat Islam bahkan logo-logo, Padi dan Kapas, Banteng, Rantai semua ada di Syarekat Islam.

Bung Karno dalam membentuk Marhaen Juga meminjam pada HOS Tjokroaminoto untuk menggunakan logo Banteng. Banyak yang tidak tahu bahwa peran Syarekat Islam melalui dua tokohnya ini yang merumuskan Piagam Jakarta.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here