Home Ekonomi Jejak Sejarah Dari Bandara Kemayoran Hingga Bandara Soetta

Jejak Sejarah Dari Bandara Kemayoran Hingga Bandara Soetta

17
0
Bandara Udara Kemayoran beroperasi sejak Penjajahan Belanda

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Sebelum memiliki Bandara Internsional Soekarno Hatta, Indonesia telah memiliki bandara internasional, yakni Bandara Kemayoran. Bandara yang dikenal dengan nama Kemajoran (Djakarta)adalah  bandara internasional pertama di Jakarta. Bandara ini dibangun pada 1934 dan secara resmi dibuka pada 8 Juli 1940, meski tercatat pada 6 Juli 1940, Pesawat DC-3 milik KNILM (Koningkelije Nederlends Indische Luchvaart Maatschapii) yang diterbangkan dari Lapangan Udara Tjililitan (sekarang Halim Perdanakusuma) landing perdana di Bandara Kemayoran.

Selama beroperasi, bandara ini menjadi saksi sejarah penerbangan di Indonesia. Pada masa pemerintahan Belanda, 1940-1942, Bandara Kemayoran dikelola dan menjadi Bandar Udara Internasional. Oleh Belanda, bandara ini pengelolaannya dipercayakan kepada KNILM.

Pada hari peresmian, KNILM menggelar beberapa pesawat miliknya. Di Apron terdapat pesawat DC-2 Univer, DC-3 Dakota, Foker F -VIIb 3m, Grumman G-21 Goose, de Havilland, DH-89  Dragon Rapid, dan Lockheed L-14 Super Electra. Sekitar dua bulan kemudian, KNILM mendatangkan pesawat baru seperti Douglas DC-5 dan Sikorsky S-43 Babby Clipper.

Bandara ini diambil alih Jepang pada masa penjajahan negeri Matahari Terbit tersebut, 1942 -1945. Bandara ini baru jatuh ke tangan pemerintah RI pada 1950 usai sempat dikuasai NICA Belanda.

Mengenal Bandar Udara Kemayoran, Bandara Internasional Pertama di ...

Bandara Udara Kemayoran dalam kenangan

Pada 1958, Bandara Kemayoran dikelola sebuah perusahaan negara Angkasa Pura Kemayoran pada 1960. Bandara dengan kode JKT ini berhenti beroperasi pada 1 Januari 1983 dan resmi berhenti pada 1 Juni 1984. Sejak 1975, penerbangan internasional sudah mulai dialihkan di Bandara Halim Perdanakusuma.

Perkembangan Bandara Kemayoran berjalan seiring dengan perkembangan bangsa Indonesia. Mulai dari pesawat-pesawat sipil hingga pesawat militer bermesin piston, propeler, hingga turbojet, pernah mendarat di bandara ini.

Tempat Mendarat Beragam Pesawat

Sejumlah pesawat yang pernah mendarat di Bandara Kemayoran adalah pesawat jenis Fokker F-VIIb-3 dengan mesin torak,  Fokker Freindship dengan mesin turbo hingga Fokker F-28 yang bermesin jet, pesawat DC-3 Dakota, pesawat berbadan lebar generasi awal, seperti Boeing 747 seri 200, pesawat DC-10, dan Airbus A-300.

Jenis pesawat militer yang pernah mendarat di Bandara Kemayoran antara lain seperti jenis Pesawat Glenn Martin B-10 dan B-12, pesawat Koolhoven FK51, Pesawat Brewster F-2 Buffalo, pesawat Lochkeed L-18 Lodestar, pesawat Curtless F-36 Hawk, Pesawat Fakker CX, dan Pesawat Boeing B-17 Flying Fortress.

Kemayoran Non Aktif

Usai resmi berhenti pada 1 Juni 1984. Perlahan, Bandara Kemayoran mulai beralih fungsi. Sebagian bekas Bandara Kemayoran kini sudah jadi kawasan komersial seperti hotel, mal, dan pusat perbelanjaan. Namun, dua landasan pacu tetap dipertahankan sebagai jalan utama, yaitu landasan pacu timur-barat dan utara-selatan.

Untuk bekas landasan pacu utara-selatan biasa dikenal dengan Jalan Benyamin Sueb. Pemberian nama itu merujuk pada nama seniman Betawi yang asli Kemayoran. Selain itu masih terdapat pula bangunan yang masih dipertahankan hingga saat ini, yaitu terminal bandara dan menara Air Traffic Control (ATC) atau yang dikenal sebagai Menara Tintin

Pembangunan Bandara Soekarno Hatta

Sumber sejarah mengungkap Bandar Udara Kemayoran difungsikan 1928-1974, yang ditujukan untuk penerbangan domestik. Bandara Kemayoran dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia, Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Penerbangan sipil di area tersebut menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat cepat, yang mana mengancam lalu lintas internasional.

Oleh karena itu, pada awal 1970-an, mulailah dicari lokasi yang berpotensi untuk dijadikan bandara baru dengan bantuan USAID. Di antaranya Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, Tangerang Selatan dan Tangerang Utara yang berakhir dengan dipilihnya Tangerang Utara sebagai lokasi alternatif.

Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta - Wikipedia bahasa ...

Bandara Soekarno Hatta

Pada awal 1970-an, dengan bantuan USAID, delapan lokasi potensial dianalisis untuk bandar udara internasional baru, Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, Tangerang Selatan, dan Tangerang Utara. Akhirnya, Tangerang Utara dipilih dan ditandai juga Jonggol dapat digunakan sebagai bandara alternatif. Sementara itu, pemerintah memulai upgrade terhadap Bandar Udara Halim Perdanakusumah untuk melayani penerbangan domestik.

Kemudian, pada kisaran tahun  1974-1975, sebuah konsorsium konsultan Kanada mencakup Aviation Planning Services Ltd., ACRESS International Ltd., dan Searle Wilbee Rowland (SWR), memenangi tender untuk proyek bandara baru. Pembelajaran dimulai pada 20 Februari 1974 dengan total biaya 1 juta Dolar Kanada. Proyek 1 tahun tersebut disetujui oleh mitra dari Indonesia yang diwakili oleh PT Konavi. Pada akhir Maret 1975, pembelajaran ini menyetujui rencana pembangunan 3 landasan pacu, jalan aspal, 3 bangunan terminal internasional, 3 terminal domestik, dan 1 terminal Haji. Terminal domestik bertingkat 3 dibangun antara 1975-1981 dengan biaya US$465 juta dan sebuah terminal domestik termasuk apron dari 1982-1985 dengan biaya US$126 juta.

Bandara Soettaini dirancang oleh arsitek Perancis Paul Andreu, yang juga merancang Bandar Udara Charles de Gaulle di Paris, Perancis. Salah satu karakteristik besar bandara ini adalah gaya arsitektur lokalnya, dan kebun tropis di antara lounge tempat tunggu.

Bandara Soetta memiliki kode IATA CGK, sedangkan nama yang populer di masyarakat adalah Bandara Cengkareng lantaran berdekatan dengan wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Meskipun secara geografis berada di Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Banten.

Kini,  Bandara Soetta memiliki luas 18 km², dengan 2 landasan paralel yang dipisahkan oleh 2 taxiway sepanjang 2,4 km. Terdapat dua bangunan terminal utama: Terminal 1 untuk semua penerbangan domestik kecuali penerbangan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional juga domestik oleh Garuda.

Setiap bangunan terminal dibagi menjadi 3 concourse. Terminal 1A, 1B, dan 1C digunakan (kebanyakan) untuk penerbangan domestik oleh maskapai lokal. Terminal 1A melayani penerbangan oleh Lion Air dan Wings Air. Terminal 1B melayani penerbangan Lion Air. Sedangkan terminal 1C melayani penerbangan oleh Airfast Indonesia, Batik Air dan Citilink.

Terminal 2D dan 2E digunakan untuk melayani semua penerbangan internasional maskapai asing, antara lain Etihad Airways, Asiana Airlines, Cathay Pacific Airways dan Qantas Airways. Terminal 2D untuk semua maskapai luar yang dilayani oleh PT Jasa Angkasa Semesta, salah satu kru darat bandara.

Terminal 2E untuk maskapai internasional yang dilayani oleh Garuda, termasuk semua penerbangan internasional Garuda dan Merpati. Terminal 2F untuk penerbangan domestik NAM Air, Sriwijaya, dan Air Asia Indonesia.

Sementara Terminal 3 Domestik Bandara Soetta selesai dibangun pada 15 April 2009 digunakan oleh maskapai penerbangan Garuda untuk tujuan domestik. Sisanya digunakan oleh Terminal 3 Internasional yang antara lain diisi maskapai Air Asia, Japan Airlines, Korean Airlines, dan Singapore Airlines.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here