Home Opini Kutai Kertanegara, Calon Ibu Kota Baru

Kutai Kertanegara, Calon Ibu Kota Baru

28
0

Oleh. Hana Wulansari

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akan menjadi ibu kota baru RI bersama Kabupaten Penajem Paser Utara, kedua kabupaten yang terletak di Kalimantan Timur itu terpilih sebagai ibu kota negara baru RI menggantikan DKI Jakarta.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan hal tersebut menimbang alasan lokasi yang strategis dan minim risiko bencana menjadi pertimbangan pemerintah memilih wilayah di Provinsi Kaltim tersebut. Kabaputen Kutai Kartanegara merupakan Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki luas 27.263,10 km2.

Kerjaan Tertua

Mengutip dari situs resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, sekitar 400 tahun masehi di Kaltim terdapat kerajaan bernama Kutai Martadipura yang terletak di Muara Kaman, kawasan sungai Mahakam. Kerajaan yang didirikan Maharaja Kudungga itu disebut sebagai kerajaan tertua se-Nusantara. Hail ini karena  temuan prasasti Yupa dengan tulisan huruf Pallawa yang menyebutkan masa kepemimpinan Raja Mulawarman Nala Dewa. Mulawarman adalah cucu dari Maharaja Kudungga.

Pada abad ke-14, di muara sungai Mahakam, berdiri kerajaan baru bernama Kutai Kartanegara dengan raja pertamanya Aji Betara Agung Dewa Sakti. Kutai Kartanegara dalam perkembangannya mendapatkan pengaruh Agama Islam yang dimulai pada masa Raja Aji Mahkota pada 1525 masehi dengan gelar Aji Mahkota Mulia Islam.

Situs Penkab Kutai menyebutkan bahwa sekitar abad ke-17 semasa pemerintahan dipegang Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa, berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura yang di Muara Kaman yang saat itu diperintah Raja Dermasetia. Selanjutnya kedua kerajaan tersebut menyatu dan bernama Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.  Sebutan raja pun diganti dengan sultan, dengan raja Islam pertama Kutai Kartanegara Ing Martadipura adalah Sultan Aji Muhammad Idris.

Beberapa kali Kerajaan Kutai Kartanegara memindahkan ibu kotanya. Namun pascakemerdekaan Indonesia, Kerajaan Kutai Kartanegara berubah statusnya menjadi pemerintahan negeri dengan nama Daerah Swapraja Kutai pada 1947. Kemudian pada tahun 1955 namanya berubah menjadi Daerah Istimewa Kutai. Pada 1959 setelah pemisahan kota Balikpapan dan Samarinda, namanya kembali berubah menjadi Kabupaten Kutai. P uluhan tahun berselang, pada 1999 terjadi pemekaran wilayah menjadi tiga kabupaten yakni Kutai, Kutai Barat, dan Kutai Timur serta satu kota yakni, Bontang.

Kemudian sejak 2002 Kabupaten Kutai berganti nama menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara hingga sekarang. Secara administratif, Kabupaten Kutai Kartanegara terbagi dalam 18 wilayah kecamatan dan 238 desa/kelurahan. Kabupaten ini memiliki beragam sumber daya alam termasuk sektor pariwisata.

Sementara Kabupaten Penajam Paser Utara awalnya merupakan wilayah Kabupaten Paser. Namun atas inisiatif sejumlah masyarakat, Penajam Paser Utara menjadi kabupaten sendiri pada 2002. Wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara sendiri meliputi 46 desa/kelurahan dengan luas wilayah 3.333,06 km persegi. Terdapat empat kecamatan di kabupaten ini yakni Penajam, Waru, Babulu, dan Sepaku.

Nama Kutai Kartanegara Dari Bahasa Sabsekerta

Merujuk buku berjudul ‘Pusat Kerajaan Kutai Kartanegara Abad XIII – XVII dalam Pembangunan’ karya Ni Komang Ayu Astiti, nama Kutai Kartanegara diambil dari bahasa Sansekerta dan catatan kitab Negarakertagama. Dalam bahasa Sansekerta Karta artinya membuat peraturan. Sedangkan Negara artinya adalah negara, ibu kota dan kerajaan. Nama Kartanegara ini konon diambil dari nama raja Singasari, Raden Kartanegara.

Untuk nama Kutai , menurut catatan kitab Negarakertagama adalah Tanjung Kute. Tanjung Kute merupakan negara vasal (negara kekuasaan) kerajaan Majapahit di Kalimantan.

Para pedagang Cina melafalkan kata Kutai dengan Kho-Thay, yang mana Kho artinya kerajaan dan Thay artinya besar. Orang India menyebutnya Quetairy yang artinya hutan belantara.

Terdapat dua kerajaan bersar berdiri  di Kutai Kartanegara. Masih berdasarkan buku karya Ni Komang Ayu Astiti, di Kabupaten Kutai Kartanegara pernah berdiri dua kerajaan dengan nama Kutai. Kerajaan pertama adalah Kutai Mulawarman atau Kutai Martadipura yang berdiri sekitar awal abad ke-5 masehi. Kerajaan kedua adalah kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri pada abad ke-13 masehi dengan pusat kerajaan di Jaitan Layar, Hilir Sungai Mahakam. Tepatnya, kerajaan ini terletak di desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana.

Pusat Kerajaan Kerajaan

Menurut Salasilah Kutai, raja Kerajaan Kutai Kartanegara bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti. Sementara itu, ketika kerajaan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Pangeran Aji Dipati Tua pada tahun 1715 hingga 1745, pusat kerajaan di Jaitan Layar mengalami kekacauan karena kerap jadi sasaran perampok ‘Lamun Solok’.

Itulah sebabnya, pusat kerajaan kemudian dipindahkan lebih ke hulu Sungai Mahakam yaitu Pamarangan (Jembayan). Di Jembayan, situasi pusat kerajaan pun berangsur membaik dan aman dari serangan para perampok.

Selain itu, penempatan pusat kerajaan Kutai Kartanegara di sekitar muara sungai jadi cirikhas kerajaan bercorak Islam dan maritim. Akibat letak yang strategis ini, kerajaan Kutai Kartanegara jadi lalu lintas perdagangan pada masa itu.

Kawasan Bukit Soeharto

Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor memastikan ibu kota baru akan berlokasi di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kecamatan Sepaku Semoi, Kabupaten Penajam Pasir Utara. Kawasan Kecamatan Samboja dan Sepaku Semoi yang menjadi ibu kota baru itu berada dalam Kawasan Bukit Soeharto. “Kawasan Bukit Soeharto namanya, di sebelah barat timurnya itu Samboja, sebelah baratnya Sepaku Semoi. Namanya di kawasan Bukit Soeharto,” ujar Isran.

Dia menambahkan tak semua kawasan Bukit Soeharto menjadi bagian ibu kota baru. Lokasi yang dijadikan ibu kota hanya kawasan hutan produksi. Yang tidak termasuk wilayah ibu kota baru adalah kawasan hutan lindung dan hutan penelitian Universitas Mulawarman, dan kawasan konservasi

Wisatawan dan Peziarah

Dilansir dari Antara, Kabupaten Kutai Kartanegara kini memiliki tujuh situs lama bersejarah yang menyimpan berbagai cerita dan mitos menarik terkait dua kerajaan tersebut, sehingga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan asing maupun domestik untuk mengunjunginya.

Selain itu, situs ini juga jadi tujuan para peziarah. ratusan peziarah khususnya pada Sabtu-Minggu, hari-hari libur nasional, serta menjelang bulan puasa, memadati situs lama makam Raja Kutai Lama yang berlokasi di Desa Kutai Lama Anggana, Kutai Kartanegara. Untuk tata tertib bagi peziarah sendiri, telah dituangkan dalam surat Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura Drs Adji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soryo Adiningrat No 003/SEK-KD/KK/I/2009.

Peziarah biasanya datang dalam jumlah rombongan dengan membawa berbagai makanan untuk selamatan. Maka biasa pun telah disediakan pendopo selamatan keramat Kutai Lama. Jika berbagai makanan yang dibawa sudah dimasak dari rumah, maka akan langsung di prosesi untuk doa bersama sesuai hajat mereka yang dipimpin oleh pengurus adat Kutai Lama. []

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here