Home Ekonomi Jejak Batik dari Jaman Majahpahit Hingga era Modern

Jejak Batik dari Jaman Majahpahit Hingga era Modern

152
0

Oleh Hana Wulansari

Hampir semua warga Indonesia memiliki baju batik dalam lemari pakaiannya. Batik menjadi pakaian yang dicintai rakyat Indonesia dan telah menjadi pakaian mendunia. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) telah menetapkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia, pada 2 Oktober 2009. Dan hari tersebut ditetapkan sebagai hari batik nasional. Pengukuhan batik Indonesia oleh UNESCO dilakukan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Dan, berikut ini simaklah sejarah batik di Indonesia. Sejarah batik di Indonesia terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Dari Jaman Majapahit

Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang sampai kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.

Teknik batik sendiri telah diketahui lebih dari 1.000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir kuno atau Sumeria. Teknik batik meluas di beberapa negara di Afrika Barat seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu. Awalnya kegiatan membatik hanya terbatas dalam keraton saja dan batik dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga pemerintah dan para pembesar. Oleh karena banyak dari pembesar tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari keraton dan dihasilkan pula di tempatnya masing-masing.

 

Lama kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas sehingga menjadi pekerjaan kaum wanita rumah tangga untuk mengisi waktu luang mereka. Bahan-bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu, sedangkan garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Bernilai Ekonomi

Perkembangan industri batik di Tanah Air menglami perubahan paradigma. Batik tidak hanya dipandang sebagai karya seni. Di dalamnya pun terdapat nilai ekonomi. Batik adalah hasil budaya bangsa Indonesia. Dalam masa sekarang, entitas bisnis  berusaha agar batik tak hanya sebagai hasil seni, tetapi juga hasil ekonomi. Ini penting untuk pelestarian dan kelanjutan batik itu sendiri.

Memadukan seni budaya dan ekonomi dalam batik dianggap memiliki ruang yang luas. Batik sebagai produk dari kegiatan ekonomi dapat mengembangkan usaha ekonomi, terutama ekonomi rakyat.  Perpaduan tersebut tidak hanya akan membuat batik sebagai hasil budaya asli Indonesia tetap dihargai. Industri batik pun bisa berkembang dan ikut menyejahterakan rakyat.

Potensi seni batik itu dituangkan dalam motif-motif batik.  Motif-motif itu akan memunculkan keunikan. Potensi tersebut perlu disambut dengan kelihaian dari para pengrajin batik dan penggiatnya. Tak hanya kelihaian menciptakan motif baru, tetapi juga mengasah kepekaan selera konsumen.

Ketika belanja pakaian itu sudah jadi bagian dari pengeluaran rutin, yang bisa dilakukan adalah menciptakan desain yang menarik agar mendapatkan nilai tambah.Tak hanya itu, penggunaan teknologi dalam dunia batik dinilai perlu dikembangkan. Pemerintah perlu turut membenahi teknologi batik yang lama, misalnya, batik jangan mudah luntur, rusak, dan warnanya menarik.

 

Pemimpin Dunia Mengenakan Batik Ketika Pertemuan APEC, Era Presiden Soeharto

Pemerintah perlu mengupayakan agar produksi dan industri batik diminta jangan sampai hanya dikuasai pemain-pemain besar. Hal itu akan berdampak pada hilangnya peluang dan kesempatan industri kecil dan usaha kecil dan menengah (UKM). Ruang bagi masyarakat dan UKM untuk berkiprah harus dijaga antara ekonomi, efisiensi, dan ruang hidup bagi pengrajin batik.

National Branding Hingga Ekspor

Batik ialah salah satu national branding Indonesia. Terlebih sejak 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, UNESCO telah menetapkan batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity.  Awalnya, batik diidentikkan sebagai kain tradisional Nusantara. Batik merupakan kerajinan asli yang banyak ditemui di berbagai wilayah Indonesia, seperti Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Madura, Tasikmalaya, dan Cirebon. Bahkan di daerah Sumatra dan Kalimantan juga terdapat para perajin batik.

Setidaknya 23 provinsi di Indonesia memiliki batik dengan corak kekhasan lokalnya sendiri. Bicara popularitas batik di dunia ialah hasil dari proses kesejarahan yang panjang. Batik mulai dikenal dunia sejak terbitnya The History of Java karya Thomas Stamford Raffles di tahun 1817. Namun risalah batik yang secara lengkap baru bisa dibaca masyarakat dunia semenjak De Batik-kunst In Nederlandsch-indie En Haar Geschiedenis karya dua antropolog Belanda, GP Rouffaer dan HH Juynboll, terbit pada 1899.

 

Merujuk Denys Lombard, kerajinan batik sebagai prototipe industri telah mulai tercatat muncul di Jawa sejak paruh kedua abad ke-19. Namun seiring meningkatnya popularitas batik di mata dunia, kini terlihat seni tradisi ini telah berkembang menjadi industri modern. Jangkauan sebaran pemakainya tak lagi sebatas pasar domestik melainkan juga hingga ke mancanegara.

Hingga tahun 2020, pasar domestik Indonesia untuk produksi batik masih menjanjikan. Walaupun batik printing dari Cina, Vietnam dan Malaysia terus saja memasuki pasar Indonesia tapi dari sisi desain dan mutu, batik produksi industri batik tanah air tidak kalah bahkan lebih baik. Dan masih sanggup memenuhi permintaan di pasar domestik. Tetapi untuk bahan baku sebagian industri mengimpor dari luar negeri seperti sutera dan poliester. Sedangkan untuk memenuhi permintaan ekspor memang agak tersendat sendat kecuali untuk industri batik tertentu (Pekalongan). Nilai Rupiah terhadap Dolar juga terus menguat sehingga dengan perbaikan nilai tukar ini mempengaruhi harga impor obat-obatan untuk pewarna dari luar negeri. Secara nasional ekspor produk batik dari industri kecil dan menengah pada 2004 mencapai US$561,72 juta. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here