Home Pemberontakan Jangan Pernah Melupakan Kebiadaban PKI

Jangan Pernah Melupakan Kebiadaban PKI

79
0

SEJARAHONE.ID – Oleh. Hana Wulansari

Sejarahone.id – Madiun, adalah kota kecil di Jawa Timur yang menyimpan ribuan kisah kekejaman algojo PKI yang sangat biadab. Pada 18 September 1948, Muso mendidirikan Negara Soviet Indonesia di Madiun. Muso bersama laskar pemuda PKI mengambil alih kekuasaan Pemerintah RI di Madiun dengan kekuatan bersenjata. Hampir semua kesatuan bersenjata dan posisi penting di Madiun serta unit-unit kecil Divisi Siliwangi dilucuti dan dikuasai.

Setelah PKI berkuasa di Madiun, rakyat ditekan habis-habisan. Seluruh simpanan rakyat berupa beras, gula, kopi, jagung, gaplek, kedelai, kacang dan bahan sandang harus didaftarkan pada PKI. Setiap orang hanya boleh memiliki kekayaan maksimal 500 perak. Kekayaan berupa emas, berlian, tanah dan sebagainya harus diserahkan pada PKI. Jika menentang PKI, maka akan disembelih.

Muso sepulang dari Uni Soviet, terus menyebarkan ajaran keji marxizme, komunisme dan leninisme. Ia merencanakan penghancuran agama serta pembantaian tokoh agama.

Pergerakan paham komunis menyebar masive, yang menerima akan terus dicekoki dengan pemikiran sama rata sama rasa, bahwa tuhan tidak ada dan nilai-nilai agama harus dihancurkan. Sedangkan yang menentang akan dihabisi dengan keji. Ketika itu, rakyat Madiun dicekam rasa takut. Dengan komando Muso, laskar-laskar PKI yang biadab melakukan kekejian pada kyai, santri, pemimpin daerah serta rakyat yang menentang ideologi komunis. Dengan slogan *Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati* (baca: hancurkan pesantren, bubarkan masjid, bunuh santri.red), PKI terus melakukan aksi-aksi keji.
Muso bersama kawanan PKI mengancurkan belasan pondok pesantren, membantai ratusan kyai dan santrinya dengan sangat biadab.

Sebelum melakukan aksi kejinya, PKI telah menyiapkan lubang-lubang sumur dengan diameter kurang dari 1 meter dan kedalaman lebih dari 10 meter. Di lubang-lubang itu puluhan santri, kyai serta rakyat disembelih atau bahkan dikubur hidup-hidup.

Sekitar 27 September 1948 terjadi peristiwa banjir darah di Pabrik Gula Rejosari, Gorang Gareng, Magetan, tidak jauh dari Madiun. Tempat ini menjadi saksi bisu kekejaman PKI, yakni pembantaian ratusan orang terdiri kyai, santri, dan tokoh masyarakat yang terjadi dalam sekejap. Loji (rumah peninggalan Belanda), yang terletak di belakang pabrik menjadi kuburan ratusan mayat.

Sebelum aksi pembataian, PKI menculik para kyai dengan modus ada undangan rapat dari kabupaten, kyai menurut mengikuti PKI dengan dikawal santri, namun kemudian dicekal paksa menuju pabrik. Beberapa tawanan adalah keluarga Pesantren Sabil Muttaqin (PSM) Takeran. Tokoh-tokoh masyarakat yang menentang PKI diculik paksa.

Semua tawanan dikumpulkan di loji, kemudian gerombolan FDR/PKI menembaki ratusan tawanan yang dikumpulkan di loji, mereka meletuskan serentetan tembakan tanpa ampun, seketika ratusan manusia tewas bertumpuk-tumpuk di lokasi itu. Dan, hanya 5 orang yang tersisa masih hidup yang kemudian menjadi saksi sejarah. Bulu kudu kita akan berdiri manakala mendapati genangan darah setinggi mata kaki di Pabrik Gula Gorang Gareng, di sekitarnya ratusan santri ditemukan telah wafat.

Namun ketika itu Kyai Imam Mursyid Takeran, pimpinan (PSM), hilang tak tentu rimbanya, dan jasadnya pun tidak ditemukan. Sekitar 16 tahun setelah itu, rangka tubuh kyai baru ditemukan. Seorang saksi mata mengungkap bahwa, Kyai Imam Mursyid Takeran sahid telah disembelih di belakang pabrik gula, kemudian dikuburkan dalam lubang. Bahkan setelah aksi penyembelihan itu, biadab-biadab PKI melakukan pesta daging bakar ulama dan santri. Sungguh biadab!

Bupati Magetan pun dihabisi PKI dengan keji. Algojo PKI merentangkan tangga melintang di bibir sumur, kemudian bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu, algojo menggergaji badannya sampai putus dua, lalu langsung dijatuhkan ke dalam sumur. Jenazah bupati Magetan baru ditemukan setelah berhari-hari.

Pedih sekali mendengar fakta, bahka Kyai Sulaiman salah seorang pemimpin pondok pesantrenm di Magetan ditimbun di sumur Soco bersama 200 santri lainnya. Saksi mata sayup-sayup mendengar dzikir sang kyai yang tengah merenggang nyawa. Lantunan dzikir tersebut masih terdengar sekitar dua malam oleh salah seorang warga yang tidak mengetahui dari mana sumber suara dzikir. Padahal ketika itu Kyai Sulaiman telah dikubur di sumur Soco.

Di Madiun , tepatnya di desa Wonosari, gerombolan PKI yang keji tega menusuk dubur para warga desa dengan bambu runcing. Lalu mayat mereka ditancapkan di tengah-tengah sawah. Bahkan, diantara mayat itu terdapat wanita yang ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut juga ditancapkan di tengah-tengah sawah.

KOMINISME Telah Membantai 120 Juta Manusia
Kisah di atas adalah kekejian-kekejian komunis di Madiun dan Magetan. Itu baru di dua kota di Indonesia, dan ketika itu kekejian komunis merebak pula di beberapa wilayah Indonesia.
.
Dalam studi RJ Rummel, dalam tesisnya berjudul “Berapa Banyak Rezim komunis Membunuh Manusia (hasil studi 1993)” terungkap data bahwa 120 juta lebih nyawa manusia dibantai di 76 negara sejak 1971-1991. Sebuah korban yang melebihi jumlah korban perang Dunia I dan II. Banjir darah di berbagai negara.
.
RJ Rummel menyebutkan, di Rusia, sekitar 500 ribu manusia dibantai Lenin (1971-1923); sekitar 6 juta petani Kulak Rusia dibantai Stalin (1925-1953); sekitar 50 juta jiwa manusia dihabisi Mao Tse Tung (1947-1976); sekitar 2,5 juta rakyat Kamboja dibantai Pol Pot (1975-1979), seribu jiwa manusia di Eropa dibantai rezim komunis di Eropa Timur (1950-1980); 150 ribu manusia dibantai komunis Amerika latin; 1,7 juta jiwa rakyat di negara-negara Afrika dibantai komunis dan sekitar 1,5 juta jiwa rakyat Afganistan dibantai Najibullah (1978-1987).
.
Kisah-kisah ini sangat miris, tapi kisah perlu diwariskan pada adik, anak dan cucu kita agar paham benar bagaimana kekejaman paham komunis. Kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa kita perlu melakukan upaya-upaya untuk menangkal paham komunis agar tak sampai kembali di bumi Indonesia.
=========
Sumber data: Buku Ayat-ayat yang Disembelih (2015), karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here