Home Ekonomi Jalan Panjang Penerbitan dan Percetakan Buku Indonesia

Jalan Panjang Penerbitan dan Percetakan Buku Indonesia

123
0
Percetakan Manual Masa Penjajahan Belanda

Oleh. Hana Wulansari

Hadirnya percetakan di Indonesia bermula dari kedatangan Belanda (tiba tahun 1596) yang erat hubungannya dengan VOC. Pada Tahun 1624, misionaris Gereja Protestan Belanda memerkenalkan percetakan di Hindia Belanda dengan membeli sebuah mesin cetak dari Belanda untuk menerbitkan literatur Kristen dalam bahasa daerah. Ini berkaitan dengan misi agamayakni untuk keperluan penginjilan. Tapi mesin cetak itu menganggur, karena tak ada tenaga operator untuk menjalankannya. Baru pada tahun 1659 (35 tahun kemudian), Kornelis Pijl memrakarsai percetakan dengan memroduksi sebuah Tijtboek, yakni sejenis almanak, atau “buku waktu”.

Sedangkan riwayat penerbitan buku di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang, apalagi ketika itu masyarakat Indonesia kebanyakan adalah petani dan nelayan. Kemunculan penerbitan di Indonesia berawal dari Hindia Belanda. Ratusan tahun menjajah Indonesia, Belanda juga ikut membawa beberapa peradaban baru di Indonesia, termasuk penerbitan. Pertama kali, penerbitan buku di Indonesia dimulai dari didatangkannya sebuah mesin cetak dari Belanda, yang dibawa langsung dari Eropa untuk menciptakan beberapa lembaran untuk menyebarluaskan propaganda di Indonesia.  Namun ternyata mesin cetak tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Lalu ia pun mendatangkan tiga mesin cetak lainnya lagi. Namun lagi-lagi ternyata jumlah operator yang mampu mengoperasikan benda tersebut juga masih sangat kurang.

Dalam sejarah penerbitan buku di Indonesia, pada akhir abad ke 19, muncul penerbit dan percetakan yang dibangun oleh orang Tionghoa dan Melayu. Mereka menerbitkan pamflet, brosur, dan cetakan lain yang berisi berita maupun cerita dengan bahasa Melayu atau Tionghoa. Sedangkan percetakan dan penerbitan milik Belanda kebanyakan menerbitkan surat kabar, pamflet, atau brosur yang berisi terjemahan dari bahasa Belanda ke Melayu. Masyarakt pribumi juga tidak mau kalah sehingga banyak muncul buku yang menggunakan bahasa daerah, hanya saja jumlahnya kalah dengan Belanda dan Tionghoa yang memang memiliki mesin cetak dalam jumlah banyak.

Perkembangan penerbitan pun semakin maju. Pihak kolonial Belanda pun mendirikan Komisi Bacaan Rakyat yang muncul akibat banyaknya karya pribumi dan Tionghoa yang bermutu sangat rendah. Pada tahun 1908, Komisi Bacaan Rakyat diubah namanya menjadi Balai Pustaka.

Munculnya  Penerbitan di Indonesia

Sekitar tahun 1950-an, banyak muncul penerbitan di pulau Jawa yang didirikan oleh pribumi. Dimana ini menjadi awal sejarah penerbitan buku di Indonesia. Hal ini dikarenakan kekhawatiran karena dominasi penerbitan masih dikuasai oleh Belanda. Meskipun kebanyakan buku yang diterbitkan masih bertema idealis dan politik, namun hal ini menunjukkan mulai bangkitnya penerbitan Indonesia.

Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih semua perusahaan milik Belanda dan menasionalisasinya, termasuk semua penerbitan dan percetakan. Pemerintah juga memberikan subsidi kertas pada semua percetakan dan penerbitan sehingga semua penerbitan wajib menghasilkan buku yang murah. Dengan adanya buku yang murah, maka minat baca orang Indonesia pun semakin bertambah.

 

Pemerintah benar-benar serius dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya Yayasan Lektur yang bertugas untuk mengawasi dan mengendalikan harga buku di Indonesia. Pertumbuhan penerbitan dan percetakan di Indonesia pun semakin meningkat.

 

 

Pada tahun 1950, IKAPI atau Ikatan Penerbit Indonesia memiliki anggota 13 penerbitan saja, namun pada tahun 1965, jumlah anggota IKAPI bertambah menjadi 600-an. Peningkatan jumlah anggota IKAPI ini menunjukkan kebangkitan penerbitan di Indonesia.

 

Perjalanan Percetakan di Indonesia

Perkembangan percetakan di Indonesia erat sekali dengan sejarah perjalanan surat kabar. Berikut beberapa catatan waktu perjalanan percetakan di Indonesia:.

  • 1667:Pemerintah pusat berinisiatif mendirikan percetakan dan memesan alat cetak yang lebih baik, termasuk matriks yang menyediakan berbagai jenis huruf.
    • 1677:Dokumen dengan kosa kata Belanda-Melayu pertama kali dicetak.
    • 1693: Dokumen New Testament dicetak dalam bahasa Portugis.
    • 1699:Pendeta Andreas Lambertus Loderus mengambiil alih Boeckdrucker der Edele Compagnie untuk didayagunakan secara maksimal. Banyak karya penting dalam bahasa Belanda, Melayu dan Latin lahir dari percetakannya, termasuk sebuah kamus Latin-Belanda-Melayu yang disusun oleh Loderus sendiri.
    • 1718:Pemerintah pusat mendirikan percetakan sendiri di Kasteel Batavia (kasteel = benteng, Batavia saat itu adalah kota yang dikelilingi benteng) untuk kepentingan mencetak dokumen-dokumen resmi.
    • 1744: Surat kabar tercetak pertama bernama Batavia Nouvelles lahir dari Percetakan Benteng yang dikelola oleh Jan Erdman Jordens, tepatnya pada 8 Agustus 1744. Hanya terdiri dari selembar kertas berukuran folio, yang kedua halamannya masing-masing berisi 2 kolom. Isinya memuat maklumat pemerintah, iklan dan pengumuman lelang. Pembaca bisa mendapatkannya setiap Senin dari Jan Abel, perusahaan penjilidan milik Kompeni di Benteng. Sebuah sumber menyebutkan, koran pada saat itu ditulis tangan.
    • 1761:Mulai diberlakukan peraturan percetakan pertama yakni “Reglement voor de Drukkerijen te Batavia” (Juni 1761) di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal A. van der Parra.
    • 1776: Surat kabar Vendu Niews (VN) diterbitkan oleh L. Dominicus. Ini adalah surat kabar pertama yang bersentuhan dengan orang Indonesia, tiga dasawarsa setelah Bataviase Nouvelles mati. VN merupakan media iklan mingguan, terutama mengenai berita lelang, juga maklumat penjualan sejumlah perkebunan besar dan beberapa iklan perdagangan. Dikenal oleh masyarakat sebagai “soerat lelang”.
    • 1785:Percetakan Kota dilarang keras mencetak apapun tanpa izin sensor. Penyensoran mulai dilaksanakan di Hindia Belanda pada 1668.
    • 1810:15 Januari 1810 terbit edisi pertama mingguan resmi pemerintah, Bataviasche Koloniale Courant yang diasuh oleh Profesor (Kehormatan) Ross, pendeta komunitas Belanda di Batavia sejak 1788. Isinya memuat juga iklan, mulai dari tali sepatu hingga budak belian. Penerbitan berhenti 2 Agustus 1811, persis seminggu sebelum Batavia jatuh ke tangan Inggris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here