Home Khasanah Izin Bilal Kepada Abu Bakar Untuk Berjihad

Izin Bilal Kepada Abu Bakar Untuk Berjihad

107
0

Oleh: Akmal Burhanuddin Nadjib

SEJARAHONE.ID – Setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal mendatangi Abu Bakar Ra. “Wahai Khalifah Rasulullah, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebaik-baik amal seorang mukmin adalah berjihad dijalan Allah’.” tanya Bilal membuka percakapan dengan Abu Bakar.

“Apa yang engkau inginkan wahai Bilal.” tanya balik Abu Bakar ketika mendengar pernyataan Bilal. “Aku ingin ikut berperang dijalan Allah hingga kematian menghampiriku.” jawab Bilal.

“Kalau begitu siapa yang akan azan nanti.” harap Abu Bakar agar Bilal mau tetap di Madinah. Bilal menangis tersedu, air matanya menetes, sambil mengatakan, “Aku tidak akan azan lagi selepas wafatnya Rasulullah”. “Tetaplah menetap disini wahai Bilal, kumandangkan kembali azan.” Pinta Abu Bakar.

“Jika engkau dulu membebaskan aku dari perbudakan hamba sahaya agar aku dapat menjadi budakmu, maka aku akan melakukan apa yang engkau inginkan. Namun, jika engkau membebaskan aku dari perbudakan karena Allah SWT, maka biarkanlah aku pergi.” ungkap Bilal memberikan alasan.

Abu Bakar menjawab, “Wahai Bilal, aku membebaskanmu dari perbudakan karena Allah SWT. Sekarang pergilah kemanapun engkau menginginkan”. Maka berangkatlah Bilal menuju Syam dan menetap disana untuk menjaga perbatasan dan berjuang dijalan Allah.

Bilal mengungkapkan perasaan yang setelah Rasulullah SAW wafat, “Aku tidak sanggup untuk tetap tinggal di Madinah selepas wafatnya Rasulullah SAW. Terlalu banyak kenangan bersama Rasulullah”. Bilal tidak pernah bisa melantunkan azan selepas Rasulullah wafat.

Suaranya selalu tersekat ketika melafalkan أشهد أن محمدًا رسول الله Airmatanya berlinang. Itulah alasan yg telah disampaikan kpd Abu Bakar sebagaimana khalifah pengganti Rasulullah.

Tahunan sudah Bilal meninggalkan Madinah. Dalam tidurnya Bilal bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang mengatakan, “Begitu lama perpisahan ini wahai Bilal. Tidakkah engkau ingin mengunjungi kami wahai Bilal”.

Bilal pun terbangun dalam kesedihan yang luar biasa. Seketika memutuskan untuk berangkat menuju Madinah Al Munawarah. Tempat yang paling pertama dikunjungi adalah makam Rasulullah. Tak bisa menahan tangisan, air matanya mengalir tak terbendung.

Bilal bertemu dengan Hasan dan Husein, cucu Rasulullah, dicium kening keduanya dan dipeluknya. “Paman, kami mau paman azan dari menara itu.” pinta Hasan dan Husein. Bilal menuruti keinginan kedua cucu yang sangat dicintai Rasulullah SAW itu.

Suasana Madinah terhentak, saat Bilal mulai mengumandangkan kalimat azan satu persatu.

الله أكبر الله أكبر

Suasana menjadi gaduh ketika masyarakat tahu bahwa itu adalah suara Bilal dan sampai pada kalimat

أشهد أن لا آله إلا الله

Bilal tak sanggup melanjutkan azan, suara nya tersekat ketika memasukan kalimat

أشهد أن محمداً رسول الله

Para wanita keluar dari rumah-rumah mereka, suara tangisan memenuhi penjuru Madinah. Semua mengisi pada hari itu mengenang kenangan indah bersamamu Rasulullah.

Saat Amirul Mukminin, Umar bin Khatab berkunjung ke Syam. Kaum muslimin disana meminta kepada Umar agar Bilal mengumandangkan azan untuk mereka. Umar pun memenuhi permintaan itu dan meminta kepada Bilal untuk mengumandangkan azan.

Bilal menaiki menara untuk azan. Suara penuh kenangan itu kembali terdengar oleh para sahabat yang kini menetap di Syam. Mereka menangis seolah Rasulullah SAW ada ditengah mereka. Tangisan penuh kerinduan, tangisan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Saat Bilal dalam kondisi sakratul maut, sang istri menangis disampingnya. “Wahai istriku, tidak perlu menangis. Karena besok aku akan bertemu dengan sang kekasih; baginda Nabi SAW dan para sahabat yang telah mendahului.” pinta Bilal kepada istrinya.

صلى الله على نبينا وحبيبنا وقرة أعيننا محمد صلى الله عليه وسلم

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here