Home Merdeka Istana Gambir: Saksi Penandatanganan Naskah Pengakuan Kedaulatan RI

Istana Gambir: Saksi Penandatanganan Naskah Pengakuan Kedaulatan RI

160
0

SEJARAHONE.ID – Dikutip situs resmi Kementerian Sekretaris Negara (Kemensesneg), awalnya bernama Istana Risjwijk yang dibangun pada 1796. Karena dianggap sempit dan kurang memenuhi syarat untuk kegiatan administrasi kenegaraan akhirnya membangun baru. Istana Merdeka dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda masa pemerintahan Gubernur Jenderal Louden pada 1873.

Selesai pada 1879 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge. Ini dibangun untuk meningkatkan kegiatan pemerintah Hindia Belanda.

Awalnya bangunan tersebut bernama Istana Gambir. Karena dulu disekitar istana banyak pohon gambir. Pada masa kedudukan Jepang, istana tersebut dijadikan tempat kediaman resmi Saiko Shikika atau panglima tertinggi Jepang. Pada memasuki awal pemerintah bangsa Indonesia, Istana Gambir menjadi saksi penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949.

Infografik Sejarah Istana Negara dan Istana Merdeka

Perwakilan bangsa Indonesia waktu itu Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan Kerajaan Belanda diwakili oleh AHJ Lovink. Penandatanganan ini disambut gembira oleh rakyat Indonesia yang mendengarkan lewat radio maupun yang berada di lokasi. Pada waktu yang bersamaanya juga bendera merah putih berkibar menggantikan bendera Belanda.

Lagu Indonesia Raya berkumandang.  Teriakan merdeka beberapa kali terdengar   Kemudian Presiden Soekarno memutuskan mengganti nama Istana Gambir menjadi Istana Merdeka. Pada 1950, pertama kalinya Istana Merdeka dipakai untuk tempat peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus.

Jadi kediaman resmi presiden Satu hari setelah penandatangan kedaulatan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda. Pada 28 Desember 1949, Presiden Soekarno beserta keluarga mendiami Istana Merdeka untuk pertama kalinya. Pada zaman Presiden Soekarno memakai ruang di sisi timur Istana Merdeka sebagai kamar tidurnya. Ruang tidur itu berseberangan dengan ruang kerjanya dan dipisahkan oleh bangsal luas yang dikenal sebagai ruang resepsi. Sisi barat depan Istana Merdeka dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih resmi.

Di antara serambi depan dan ruang kerja Presiden semula merupakan teras terbuka dengan perabotan dari rotan. Baca juga: Pelantikan Presiden, Mari Ketahui Sejarah Istana Merdeka dan Negara Sebagian ruangan menjadi ruang tunggu untuk para Duta Besar sebelum menyerahkan surat-kepercayaan kepada Presiden. Sebagian lagi menjadi ruang tamu Presiden yang kemudian dikenal sebagai ruang Jepara karena ruangan ini pada masa Presiden Soeharto diisi dengan meja-kursi kayu dan ragam interior dari ukiran Jepara. Ruang kerja Presiden Soekarno diisi dengan meja dari kayu masif, setelan kursi tamu dari kulit, dan dua dinding yang dipenuhi lemari buku yang tingginya sepertiga dinding.

Ruang kerja ini nyaris tidak berubah setelah ditinggalkan Bung Karno dan selama 32 tahun dipergunakan oleh Presiden Soeharto. Baru pada masa Presiden B.J. Habibie ruang tersebut mengalami sedikit perubahan. Sejak Istana Merdeka berdiri tercatat ada sekitar 20 orang yang telah mendiami Istana Merdeka.

Sebanyak 15 gubernur jenderal Hindia Belanda, tiga panglima tertinggi Jepang, dan dua presiden Indonesia. Sementara presiden lain memilih menempati Istana Bogor dan hanya menjadi kantor kepresidenan. Dua presiden yang mendiami Istana Merdeka, yakni Presiden Soekarno dan Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Joko Widodo pernah menempati Istana Merdeka sebelum kemudian menempati Istana Bogor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here