Home Pahlawan Ismail Marzuki, Sang Maestro Musik Indonesia

Ismail Marzuki, Sang Maestro Musik Indonesia

223
0

Oleh Hamzah Syahid Afifi

SejarahOne.id – Ismail marzuki lahir di Kwitang, Senen Jakarta, pada 11 Mei 1914. Ia merupakan anak dari pasangan Marzuki dan Solechah. Pasangan ini merupakan golongan masyarakat Betawi yang intelek dan berpikiran maju. Semasa kecil, Ismail Marzuki lebih dikenal dengan panggilan Maing.

Sejak kecil, ia dikenal suka tampil necis, dengan menggunakan baju yang disetrika, sepatu mengkiat, dan berdasi. Darah seni Ismail Marzuki didapat dari sang ayah. Ayahnya saat itu merupakan pegawai perusahaan Ford Reparatieer TIO.

Ia dikenal pandai memainkan kecapi. Selain itu, ayah Ismail Marzuki juga piawai melagukan syair-syair Islam. Hal inilah yang juga membuat Ismail Marzuki tertarik dengan lagu sejak kecil.

Ismail Marzuki sekolah di sebuah sekolah Sekolah Kristen yang bernama HIS Idenburg, Menteng. Kala itu, ia mendapatkan nama Benyamin di sekolah. Khawatir bersifat kebelandaan, Ismail Marzuki dipindahkan ke Madrasah Unwanul-Falah, Kwitang. Ketika menginjak usia dewasa, sang ayah membelikan alat musik sederhana.

Kala itu, setiap naik kelas ia diberi hadiah harmonika, mandolin, dan gitar. Setelah lulus dari Madrasah Unwanul-Falah, Ismail Marzuki melanjutkan sekolah di MULO. Di MULO, ia membentuk grup musik sendiri. Dalam grup tersebut, Ismail Marzuki memainkan banyo dan gemar memainkan lagu gaya Dixieland serta lagu barat pada masa itu.

Setelah menyelesaikan pendidikan di MULO, Ismail Marzuki bekerja sebagai kasir di Socony Service Station. Kala itu, ia mendapat gaji 30 gulden dalam sebulan sehingga mampu menabung dan membeli Biola. Akan tetapi ia merasa tidak cocok bekerja sebagai kasir.

Selanjutnya, Ismail Marzuki bekerja sebagai penjual piringan hitam produksi Columbia dan Polydor. Dalam pekerjaan ini, penghasilannya tidak menentu, bergantung jumlah piringan yang mampu dijual. Selama berjualan piringan hitam, Ismail Marzuki banyak berkenalan dengan artis. Beberapa di antaranya adalah Zahridin, Yahya, Kartolo, dan Roekiah.

Kemudian ia bergabung perkumpulan orkes musik Lief Jawa sebagai pemain gitar, saksofon, dan harmonium. Pada 1934, Lief Java mendapat kesempatan tampil di Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM). Akan tetapi, Ismail marzuki mulai menjauhi lagu-lagu barat.

Dari latar belakang inilah ia mulai menciptakan lagu sendiri. Lagu tersebut di antaranya, Ali Baba Rumba, Ohle le di Kotaraja, dan Ya Aini. Lagu ciptaan Ismail Marzuki ini kemudian direkam dalam piringan hitam di Singapura. Selanjutnya, Ismail marzuki mempelajari berbagai jenis lagu tradisional dan barat pada 1936-1937.

Pada tahun 1940, di Betawi dibentuk radio Vereneging Oostersche Radio Omroep (VORO). Di radio itu, Ismail marzuki menjadi pemain musik dan mengisi sebuah acara lawak. Di kemudian hari, ia juga membentuk Perikatan Radio Ketimuran (PRK). Pada awalnya, lagu-lagu Ismail Marzuki bersifat lembut dan puitis.

Akan tetapi pada 1943-1944, ia mulai menciptakan lagu perjuangan. Beberapa di antaranya adalah Rayuan Pulau Kelapa dan Indonesia Tanah Pusaka. Lagu-lagu tersebut sempat dicurigai oleh Jepang.

Hal itu membuat Ismail Marzuki sempat diancam oleh Kenpetai. namun ia tak gentar dan terus membuat lagu serupa. Pada 1945, lahir lagu Selamat Jalan Pahlawan Muda. Selepas kemerdekaan, Ismail Marzuki terus produktif dalma menciptakan lagu.

Ismail Marzuki tutup usia pada usia 44 tahun. Tepatnya, ia wafat pada 25 Mei 1958 di rumahnya, kawasan Tanah Abang. Ia meninggal kaibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Lagu Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa. Pada masa orde baru, lagu ini dijadikan penutup siaran TVRI. Pada tahun 2004, Ismail Marzuki dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here