Home Ekonomi Ini Dia, Sejarah Tambang Terbesar di Indonesia

Ini Dia, Sejarah Tambang Terbesar di Indonesia

143
0
Pekerja Tambang masa penjajahan Belanda

Oleh. Hana Wulansari

Hingga 2020, tambang batubara Sangatta, Kalimantan Timur tercatat sebagai tambang terbesar di Indonesia. Bahjkan, situs www.sourcewatch.org  mencatat bahwa PT Kaltim Prima Coal (KPC)  disebut-sebut sebagai tambang batu bara terbesar keempat di dunia. Tambang Sangatta, Kaltim ini merupakan salah satu tambang terbesar di dunia.

Dari sisi produksi, Tambang Sangatta merupakan salah satu tambang batu bara terbesar di dunia. Situs www.sourcewatch.org menunjukkan tambang Sangatta memiliki produksi terbesar keempat terbesar di dunia, yaitu 45,5 juta ton per tahun, berdasarkan data 2013.

Posisi Sangatta berada di bawah dua tambang dari Amerika Serikat dan satu tambang lain asal Indonesia. Di daftar tersebut, tambang dengan produksi terbesar dunia adalah Tambang North Antelope Rochelle di Cekungan Sungai Powder (Powder River Basin) di antara Montana-Wyoming milik Peabody Powder River Mining Llc (Peabody Energy). Tambang tersebut memiliki produksi 107 juta ton per tahun, berdasarkan data 2014. Maka dari itu, tambang batubara Sangatta disebut sebagai tambang batubara terbesar keempat di dunia.

Asal Mula Tambang Batubara Kaltim

Penemuan tambang batubara di Kalimantan Timur berawal dari ditemukannya potensi minyak bumi di wilayah yang sama. Alkisah terdapat seorang pensiunan Dinas Pertambangan Belanda Jacobus Hubertus Menten yang tertarik dengan potensi minyak di Kalimantan Timur. Menten menemukan minyak ketika dia bertugas sebagai manajer tambang batubara milik pemerintah kolonial Hindia Belanda di Palaran, Kalimantan Timur, pada 1863.

Minyak itu tersimpan di dekat Sanga-Sanga, muara sungai Mahakam, tak  jauh dari tambang batubara (sekarang wilayah ini menjadi bagian dari Kabupaten Kutai Kartanegara).

Menten belum bisa mengeksplorasi simpanan minyak lebih dalam. Dia terikat dengan kerja utamanya: mengeksplorasi dan mengeksploitasi batubara. Tapi dari batubara, dia bisa mengenal penguasa Kutai, Sultan Aji Sulaiman. Thomas Lindblad dalam Antara Dayak dan Belanda : Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880—1942, mencatat “Menten mempunyai hubungan yang bersahabat dengan Sultan Sulaiman Kutai.”

Aji Muhammad Sulaiman: Sultan Kutai yang Ramah terhadap Belanda ...

Sultan Aji Sulaiman yang memberikan ijin Menten untuk eksplorasi

Kemudian Menten pindah tugas ke Buitenzorg (Bogor) dan Sumatra untuk beberapa lama. Dia kembali ke Kalimantan Timur pada 1882. Dia datang sebagai pensiunan sekaligus pengusaha swasta (Oost Borneo Maastchappij) di bidang batubara. Menten juga berupaya mengeksplorasi ulang minyak temuannya 20 tahun lampau. Dia berhasil menemukan dua wilayah sumber minyak. Hubungan baik Menten dengan Sultan Aji membantunya mengantongi izin konsesi eksplorasi minyak pada 29 Agustus 1888. Dia menamai wilayah konsesinya mengikuti nama panggilan anaknya: Louise (Sanga-Sanga) dan Mathilde, sekarang di sekitar Teluk Balikpapan.

Pemerintah kolonial Belanda juga membolehkan Menten mengeksplorasi minyak di wilayah tersebut untuk jangka waktu 75 tahun sejak 30 Juni 1891. Secara hukum, eksplorasi Menten sebagai pengusaha swasta ditunjang penuh oleh Ordonansi Pertambangan 1873. “Ordonansi ini mencerminkan perhatian lebih besar pemerintah kolonial dalam pemberian izin penelitian mineral dan tambang. Di samping juga menetapkan siapa yang berhak mengeksploitasinya secara komersial,” ungkap Agus Setiawan dalam The Political and Economic Relationship of American Dutch Colonial Administration in Southeast Asia, disertasi pada School of Humanities and Social Sciences (SHSS), Jerman, 2014

Penunjang Eksplorasi Tambang

Ita Syamtasiyah Ahyat dalam Politik Ekonomi Kerajaan Kutai dalam Perluasan Kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, menyebut masa itu eksplorasi swasta di bidang pertambangan bertunjang pada tiga hal: pemerintah kolonial, penguasa setempat, dan perundangan. Ketiganya saling berhubungan. Sebelumnya pemerintah kolonial tidak leluasa mengeksplorasi wilayah Kutai. Di sini ada Kesultanan Kutai.

Kesultanan Kutai adalah pemilik sah tanah dan kekayaan alam lainnya seperti hutan dan sungai. Pemerintah kolonial membangun hubungan politik dan mengadakan perjanjian ekonomi dengan Kesultanan Kutai. Tujuannya mencegah Kesultanan Kutai bekerja sama dengan Inggris. Keberadaan Inggris di wilayah utara Kalimantan mengkhawatirkan pemerintah kolonial. Mereka sewaktu-waktu akan memperluas wilayahnya ke selatan dan timur Kalimantan. Hubungan pemerintah kolonial dengan Kutai akan melemahkan kemungkinan tersebut.

Dari istana Kesultanan Kutai, kehadiran pemerintah kolonial dipandang sebagai penjamin keamanan dan salah satu sumber ekonomi Kesultanan. Mereka menyepakati serangkaian perjanjian dengan pemerintah kolonial serentang 1825-1882. Melalui perjanjian itulah, wilayah Kutai terbuka bagi pemerintah kolonial.

Emas Hitam yang Menguntungkan

Batubara dan minyak merupakan komoditas menguntungkan di pasaran dunia. Seiring perkembangan teknologi dan industri, batubara dan minyak menjelma kebutuhan sehari-hari masyarakat di Eropa dan Amerika Serikat. Kapal laut bergerak dengan tenaga uap. Uap berasal dari pembakaran batubara. Lampu menyala lebih lama dan terang menggunakan minyak. Minyak laku di mana-mana sebagai bahan utama untuk menyalakan lampu.

Menten menangkap semua perubahan situasi dunia, negeri induk, dan koloni. Dia telah memegang izin konsesi dan sandaran hukum. Tapi dia belum dapat memulai eksplorasi. Ketiadaan uang menjadi masalah besarnya. Eksplorasi minyak dan batu bara memakan biaya besar.

Menten mencari sponsor ke perusahaan tambang swasta dan pemerintah kolonial. “Dia mencari penyokong finansial ke penjuru Eropa sampai frustrasi,” tulis J. Ph. Poley dalam Eroica: The Quest for Oil in Indonesia (1850—1898). Sebab jawaban dari calon investornya serupa. “Maaf, tidak bisa, Menten. Dananya terlalu besar.”

 

Tapi pertemuan Menten dengan Marcus Samuel melenyapkan rasa frustrasinya. Marcus Samuel adalah orang Inggris pemilik perusahaan tambang bernama The Shell Transport and Trading Company. Marcus menyanggupi biaya eksplorasi Louise dan Mathilde sebesar 1.200 poundsterling (sekarang setara 151.202,97 poundsterling atau Rp2,6 miliar). “Pengeboran eksperimen dilakukan pada tahun 1897 dan memberikan hasil yang luar biasa,” sebut Thomas Lindblad. The Shell lalu berminat menanam investasi lebih besar dengan membentuk anak perusahaannya khusus wilayah Hindia Belanda. Namanya The Nederlansch Indische Industrie en Handel Maatschappij. Peruntungan Menten belum berakhir. Ketika berjalan bersama anaknya di wilayah Mathilde, dia menemukan sumber minyak lainnya. Dia lagi-lagi menamakannya seturut nama anaknya, Nonny.

Tiga sumber minyak temuan Menten mendatangkan keuntungan besar bagi Kesultanan, pemerintah kolonial, Menten, dan perusahaan The Shell. Pemasukan terus masuk dan kas mereka menggemuk. Tetapi nasib buruk menimpa para pekerja tambang minyak. Mereka bekerja tujuh hari seminggu, dari terbit fajar sampai tenggelamnya surya, selama berbulan-bulan lamanya. Tiap orang harus selalu waspada, cermat menghitung pengeboran, merencanakan hal-hal terduga dan tak terduga, menyiapkan logistik, dan bersiap menghadapi nasib buruk, penyakit, dan segala macam kekurangnyamanan lingkungan kerja. Kondisi pekerja tambang tersebut hampir sama dengan kondisi penambang batubara. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here