Home Khasanah Hubungan Awal Nusantara dan Turki (bagian 2 dari 2)

Hubungan Awal Nusantara dan Turki (bagian 2 dari 2)

148
0

Oleh Alwi Alatas (Pengajar di International Islamic University Malaysia)

SejarahOne.id – Sultan Turki juga menerima Aceh sebagai negara bawahannya. Namun karena jarak yang sangat jauh dan kesulitan untuk mengirimkan upeti tahunan, maka sebagai gantinya masyarakat Aceh diminta untuk merayakan Maulid Nabi.

“Maka hendaknya tidak ada satu kampung pun di Aceh yang penduduknya tidak merayakan Maulid (Mo’lot); itulah upeti kalian kepada pemimpin orang-orang beriman,” titah Sultan Turki. Maka sejak itu Maulud Nabi dirayakan dengan sungguh-sungguh setiap tahunnya di Aceh.

Cerita di atas bukannya tanpa dasar dan di Aceh sendiri inti dari kisah itu tak hanya diwakili oleh sejarah lisan. Nuruddin al-Raniri di dalam Bustan al-Salatin, sebagaimana dikutip oleh Ermy Azziaty Rozali (2014: 95), menyebutkan bahwa Sultan Alauddin Ri’ayat Shah dari Aceh pernah mengirim utusan kepada Sultan Rum di Istanbul guna “meneguhkan agama Islam”.

Sultan Rum lantas mengirim orang-orang “yang tahu menuang bedil” yang memungkinkan Aceh untuk membuat meriam-meriam yang besar dan menggunakannya untuk menyerang Melaka, yang ketika itu berada di bawah kendali Portugis.

Menurut Anthony Reid (1969: 396-397), meriam besar yang dimaksud oleh al-Raniri tak lain adalah meriam Lada Sichupa’. Secupak lada yang dimaksud sebelumnya adalah lada setakaran bambu. Meriam Lada Sichupa’ berada di Aceh hingga dirampas oleh Belanda pada tahun 1874.

Di dalam sumber-sumber Turki Utsmani sendiri tercatat adanya hubungan diplomatik antara Aceh dan Turki pada abad ke-16. Hubungan ini tampaknya pertama kali terjadi pada tahun 1547, pada masa pemerintahan Sulayman Qanuni (1520-1566). Pada tahun itu, datang ke Istanbul utusan “Alaaddin from the Indian rulers”, membawa beberapa hadiah seperti rempah-rempah, wewangian, dan burung beo yang berwarna-warni.

Raja Alaaddin dari India ini kemungkinan besar adalah Sultan Alauddin Ri’ayat Shah al-Kahhar yang memerintah Aceh sejak tahun 1537 hingga 1571. Pada tahun 1562 utusan lainnya kembali dikirim dari Aceh ke Istanbul, dan Istanbul menjawab permintaan bantuan militer oleh Aceh dengan mengirimkan beberapa ahli pembuat meriam ke negeri bawah angin itu pada tahun 1565.

Utusan Aceh berikutnya pada tahun 1566 terpaksa menunggu di Istanbul selama lebih dari setahun, disebabkan oleh wafatnya Sultan Sulayman pada tahun tersebut. Bagaimanapun, Salim II yang menjadi sultan Utsmani berikutnya menerima dan merespon dengan baik utusan dari Aceh.

Tujuh belas buah kapal berikut perangkat militernya dikirim untuk membantu Aceh dalam menghadapi Portugis, tetapi mereka terpaksa berbelok ke Yaman disebabkan terjadinya pemberontakan di wilayah itu. Pengiriman bantuan ke Aceh tertunda karenanya dan hanya sekitar dua kapal yang akhirnya berangkat ke Aceh (Goksoy, 2007: 5-13).

Bagaimanapun, hubungan dengan Sultan Salim II yang tampaknya lebih dikenang oleh Aceh dan disebut-sebut di dalam surat mereka kepada Turki Utsmani pada penghujung abad ke-19, saat mereka tengah menghadapi serangan Belanda (Hurgronje, 1991: 252-253).

Bantuan militer Turki memang tidak sampai berhasil mengusir Portugis dari Selat Melaka, tetapi membantu dalam memperkuat militer Aceh dan dalam pertahanannya menghadapi negeri-negeri tetangganya (Rozali, 2014: 94).

Di dalam suratnya kepada Turki Utsmani pada tahun 1566, Aceh bukan hanya meminta bantuan kepada Turki Utsmani, tetapi juga minta diakui sebagai bagian dari Kekhalifahan tersebut. Aceh juga meminta agar warganya dianggap sebagai warga Turki Utsmani (Goksoy, 2007: 6).

Hubungan-hubungan di atas menggambarkan kecenderungan kerajaan-kerajaan Muslim di Nusantara untuk menjadi bagian dari dunia Islam yang lebih luas, atau dapat dikatakan juga sebagai bagian dari ummah. Hal ini menarik kedua belah pihak untuk menjalin relasi dan saling bertukar pengakuan dan bantuan (Laffan, 2003: 16).

Pada saat ini, kekhalifahan tak lagi ada, tetapi tentu saja keberadaan ummah tak pernah hilang. Dan selalu ada yang berupaya merajut benang-benang persaudaraan di atas kainnya yang terlihat koyak. Penduduk Nusantara tak ketinggalan dalam hal ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here