Home Pahlawan Hindari Perburuan Belanda, Jenderal Soedirman Terus Berpindah Tempat

Hindari Perburuan Belanda, Jenderal Soedirman Terus Berpindah Tempat

251
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Sebagian besar pasukan TNI, sesuai dengan rencana segera berangkat menuju ke wilayah gunung Wilis dan Kombang (sebelah timur Kediri). Dari pegunungan inilah perlawanan TNI terhadap Belanda dapat berjalan sesuai rencana yaitu menyerang dari lokasi atau basis di daerah sekitar pegunungan tersebut.

Serangan dan pencegatan mendadak terhadap patroli Belanda yang terus menerus oleh para pejuang dapat setiap saat dilancarkan. Setelah Kediri diduduki Belanda, maka rombongan secepatnya mendaki lereng gunung Wilis. Panglima Soedirman harus ditandu karena jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan sudah tidak ada.

Pada tanggal 25 Desember 1948 rombongan menuju Karangnongko. Karena ada perasaan tidak enak dari para pengawal (Tjokropalo dan Pardjo) maka markas Jenderal Soedirman dipindahkan ke posko Kolonel Sungkono (Divisi Sungkono). Saat bersamaan diciptakan Jenderal Soedirman palsu dengan pelakunya adalah Letnan Muda Laut Heru Resser, tujuannya untuk mengelabui Belanda.

Selanjutnya Jenderal Soedirman tidak ditandu tetapi digendong dan dijalankan oleh Kolonel Tjokropranolo (selama dua malam lebih Tiokropanolo tanpa merasa lelah) dan selanjutnya rombongan bergerak dari Karangnongko menuju Guoliman.

Ternyata di daerah ini terdapat banyak penjagaan dan penghadangan yang ketat dari pihak musuh. Maka beralih jurusan dan mencoba memotong jalan lewat Ponorogo, Madiun yang menurut berita dijaga tidak begitu ketat dijaganya. Dari Ngliman menuju ke selatan yaitu daerah Pulung, suatu jalan pintas Madiun-Ponorogo. Tanggal 9 Januari 1949 rombongan sampai di Jambu.

Saat memimpin perang gerilya, paru-paru sang Jenderal hanya berfungsi sebelah atau hanya satu paru-paru yang bisa dijadikan tumpuan dalam setiap tarikan nafasnya. Saat itu Presiden Sukarno menyarankan agar Jenderal Soedirman menjalani perawatan saja karena penyakit beliau pada waktu itu tergolong parah. “Yang sakit itu Soedirman…panglima besar tidak pernah sakit….”. Itu jawaban sang Jenderal. Tidak terbayangkan begitu besarnya semangat perjuangan Jenderal Soedirman dalam melawan musuh dan penyakit yang dideritanya.

Berbekal materi seadanya, Jenderal Soedirman memimpin pasukannya berperang melawan tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda. Dengan ditandu Jenderal Soedirman keluar masuk hutan, naik dan turun gunung memimpin pasukan, meracik strategi perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan lamanya dengan rute Yogyakarta sampai Malang.

Tentara Belanda menggunakan berbagai cara untuk menjebak dan menangkapnya. Jenderal yang ahli strategi ini adalah target operasi yang paling diburu dan dicari waktu itu. Strategi perang gerilyanya terbukti efektif dalam memimpin pasukan melawan penjajah. Banyak kerugian yang diderita pasukan penjajah dalam taktik gerilya ini. Pertempuran dan perlawanan terjadi di berbagai daerah sehingga memaksa Belanda beserta sekutunya kembali ke meja perundingan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here