Home Khasanah Hikmah Hadist dalam RUU HIP

Hikmah Hadist dalam RUU HIP

13
0

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Bersatu Bukan Sekedar Tolak UU HIP, Tapi Merancang Agenda Masa Depan Umat Islam dan Bangsa

Hal ini Karena terutama ulama-ulama kita telah beragama dengan ‘keberagamaan berhala’ (paganik) dengan keberagamaan ‘ritual normatif’ tanpa signifikansi dimensi sosial untuk mencapai Kekeluargaan Islam yang Organik yang jelas amat sangat terang benderang.

Ayat-ayat atau hadis begitu jelas tapi dengan kejahilan-kebodohan kita justru melupakan-melalaikannya:

1.Berjuang dalam suatu ‘organisasi- sistem manajemen- administrasi’ yang kokoh seperti sebuah bangunan yang tak tergoyahkan (saffan kaannahum bun yanummarsus).

Kondisi ini seperti peradaban Pohon Nur dari kalimah toyyibah/yang baik, akarnya menghunjam ke dasar tanah pucuknya menjulang ke langit, diterpa angin sebesar apa pun tak goyah. Atau seperti sebuah sistem tubuh yang di antara organnya saling berfungsi.

 

2.Berpegang teguh pada ‘tali Allah’ dan jangan bercerai berai (wa’tasimu bihab lillah jamia, wala tafaroku).

3.Berorientasi kepada kepentingan kemaslhatan umum/kebajikan/ nilai-nilai universal Pancasila yang didalamnya terkandung nilai-nilai universal Islam ‘Bung Karno, Gus Dur, KH Ahmad Sidik, Prof Dr Ahmad Thayeeb, Cak Nur dkk’ (Watawaanu alal birri.. ).

4.Ideologi keadilan dengan sistem ekonomi kerakyatan yang berkeadilan dimana ekonomi tidak hanya melingkar pada segelintir kecil orang (al adl), juga melepas dari sistem penindasan (mustadz afin).

Hingga tahun 2020, sama sekali tiada inisiatif kepada pemberdayaan ekonomi umat yang kuat dan berdaya, padahal potensi untuk hal itu amat sangat besar sekali.

5.Mengutamakan Ilmu (ulul ilmi) dengan kebenaran yang obyektif (tawasho bil haq), kesabaran metodologis (tawasho bisobr) berbasis kebajikan-kesalehan (amal saleh), transenden (amantu billah) komprehensif – koheren dalam teologi pembebasan bangsa (Marhaenisme Bung Karno, Arkoun – Jabidi, Amerika Latin, Ali Syatiati dkk).

Dalam suatu tradisi berfikir rasional yang rapi husuli-huduri, meliputi: sistem spiritual Islami ‘tasawuf’ melalui tarekat/jalan, tauhid/ teologi hingga tauhid/ teologi pembebasan, ideologi keadilan dengan sistem ekonomi yang berkeadilan, teosofi transenden Bhinneka Tunggal Ika, filsafat, paradigma/kerangka teori, teorema-teorema turunan dari teori, modal sosial, etika/akhlak sosial, teknologi, hingga etiket sosial pada kehidupan sehari-hari dst).

Ini lah yang kita amat sangat tertinggal bahkan hampir kalah peradaban, terutama oleh gempuran peradaban ‘materialis’ dengan pemujaan terhadap pemilik modal (kapitalis) meninggalkan dimensi idealitas/ spiritual Islam. Terpenjara oleh keberagamaan ‘ritual normatif’, lupa menata Pohon Nur Peradaban.

“Kita ribut berkutat pada dahan dan ranting, sementara problematika akar, batang dan batang takntersentuh sama sekali,” kata Prof Dr Mulyadhi Kartanegara. Membuat prioritas “Mendahukukan yang benar dari yang benar.” (Hadis).

Dalam terma Guru Bangsa, Cak Nur antara dimensi “Doktrin & Peradaban”, antara dimensi “Keislaman, Keindonesiaan dan Kemodernan”.

6.Melupakan politik kebangsaan yang agung – adiluhung yang digariskan (HOS Cokroaminoto, Hadratusyekh Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Bung Karno – Founding Fathers, Gus Dur, Cak Nur, KH Sahal Mahfudz dkk). Terjebak pada politik praktis yang pragmatis ‘duniawi’, akhirnya partikularis menjual ayat-ayat/ tanda-tanda kebesaran Allah dengan harga yan amat sangat murah sekali.

Rasulullah telah bersabda perumpamaan dunia ini bau busuknya seperti bangkai kambing atau anjing. Tapi jangan fatalis seolah tidak ada jalan untuk hijrah/transformasi keumatan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Bumi-Ku luas, ada banyak jalan Win-win Solution bagi umat dan bangsa.

7.Tak berorientasi pada masyarakat warga sejati yang mandiri-berkualitas (civil society/ masyarakat Madani-Hadari) dengan modal sosial Islam yang sangat kaya yang menjadi jaminan ‘glue- lem – perekat’ eksistensi masyarakat hidup dan berkembang (penelitian Rehman – Askari dari George Washington University). Juga kebudayaan nasional (kulit & isi/ ruh, jiwa & raga) yang menjamin kebangsaan-nasionalisme berkembang, dengan aneka warna ‘suku,agama, ras & antar golongsn/SARA’ yang khas Nusantara Indonesia.

8.Belum menjamin kekeluargaan-persaudaraan Indonesia terpelihara dengan baik dalam Kekeluargaan “Umat, Rahmat – Maitrea ‘Cinta Kasih Welas Asih’, Tanah Air – Bangsa dan Kemanusiaan” dengan dinaungi filsafat hikmah kebijaksanaan (nilai-nilai universal Pancasila yang belum aktual mengejawantah).

Hal ini seperti ketika Nabi Muhammad Saw memimpin bangsa Madinah, mengintegrasikan-mempersaudarakan suku-suku bangsa Madinah, dengan Konstitusi Madinah/Monumen Traktat ‘Kontrak Sosial’ Madinah yang bhinneka pula.

9.Abai terhadap pembangunan SDM, utama SDM Demokrasi yang matang (fastabichul choirot – berlomba-lomba dalam mengejar keunggulan kompetitif peradaban). Umat Islam dengan ulama-ulamanya amat pasif merespon perkembangan zaman dan peradaban.

Kesadaran dan cara berfikirnya masih primordial tradisional belum modern, masih terjajah belum merdeka. Sulit sekali melakukan lompatan emansipatoris peradaban, nampaknya pengaruh budaya Jawa yang feodal, tak berfikir rasional (masih berupa petatah petitih yang bersifat normatif), tak berorientasi karya (kurang produktif kreatif), bermental meta dunia (Soedjatmoko), juga terutama elit-elitnya yang oligarkis kurang adanya budaya ‘malu & bersalah’.

10.Tak berkembangnya wacana/ diskursus keberagamaan yang moderat (wasathon), toleran (tasamuh), bekeseimbangan (mizan), demokrasi (syura), adil (al adl), cinta (mahabbah), jujur (sidik), amanah terpercaya – fathonah cerdas – tabligh/komunikasi, prinsip-prinsip kemanusiaan yang sama – eternal/ancient wisdom (kalimatunsawa) dst yang kosmopolit universal. Diskursus cenderung dangkal dipicu oleh ‘kesadaran materialisme tanpa idealisme’yang tak menyentuh tungku api kebangsaan seperti yang dikobarkan oleh Bung Karno dan Founding Fathers. Dst-dst.

11.Umat Islam yang jumahnya mayoritas seputar 85% penduduk Indonesia, mesti berkonggres untuk mengubah nasib, derajat, harkat dan martabatanya yang sekarang ini mungkin kalah peradaban dalam segala hal. Mungkin dibawah supervisi “Dewan Tertua Bangsa & Agama” yang telah melampaui dirinya. Menentukan visi misi yang satu, kekeluargaan Islam yang organik di dalam “NKRI, Pancasila, UUD45 Asli & Bhinneka Tunggal Ika” warisan Bung Karno dan Founding Fathers yang belum berkembang. Dalam persaudaraan “Rahmat – Maitrea, Bangsa – Tanah Air dan Kemanusiaan”.

“Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusuaan,” kata Sayidina Ali bin Abi Thalib KW./red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here