Home Merdeka Hadji Djole, Jawara Bekasi Yang Paling Dicari Belanda

Hadji Djole, Jawara Bekasi Yang Paling Dicari Belanda

1133
0

Oleh: Endra Kusnawan

SEJARAHONE.ID – Pada jaman kolonial Belanda, di wilayah Bekasi memang banyak jawara. Namun saat terjadinya perang revolusi, hanya sedikit pimpinan jawara yang berjuang melawan Belanda. Haji Djole adalah salah satu dari sedikit itu. Jika dilihat karakternya, Haji Djole bisa dikatakan sebagai Haji Daripnya Bekasi. Yaitu seorang haji, jawara, banyak anak buah, paling dicari Belanda, dan revolusioner.

Haji Djole merupakan sosok dari keluarga kaya di Bekasi. Bernama asli Sa’adah bin Haji Eman. Kelahiran Sepatan, Bekasi, tahun 1905. Tidak diketahui tanggal dan bulan lahirnya. Nama Djole sendiri merupakan nama panggilan dia sejak kecil. Hingga publik dan pemerintahpun hingga saat ini lebih mengenal nama Djole daripada nama aslinya.

Hadji Djole merupakan tokoh Bekasi yang paling banyak disebut dalam dokumen Belanda saat era perang revolusi. Mulai dari laporan intelijen, laporan patroli, koran, hingga catatan harian tentara. Tidaklah mungkin namanya banyak tercatat kalau tidak berbahaya bagi kepentingan Belanda.

Sejumlah peristiwa besar di Bekasi saat jaman perang tidak lepas dari perannya. Sebut saja pembantaian tentara Jepang sebanyak 87 orang pada 19 Oktober 1945 di pinggir kali Bekasi selepas stasiun Bekasi. Lalu pembunuhan tentara Inggris sebanyak 22 orang lalu dikubur dipinggir Kali Bekasi dekat Kantor Polisi Bekasi. Untuk itu, dalam laporan Inggris maupun Belanda, dia merupakan sosok yang berbahaya.

Dalam koran Barrier Miner terbitan 3 Desember 1945, diberitakan bahwa pembunuhan terhadap 22 orang tentara Inggris dilakukan oleh 50 orang pemuda. Berdasarkan perintah dari Haji Darip di Klender.

Daerah sekitar Kantor Polisi merupakan daerah kekuasaan Haji Djole. Dan Haji Djole sebelumnya memiliki hubungan kuat dengan Haji Darip. Jadi tidak mungkin Haji Darip memberikan perintah ke TKR untuk melakukan pembunuhan. Jalur komando yang berbeda. Jauh lebih masuk akal jika perintah diberikan ke Haji Djole, yang memiliki anak buah mencapai 50 orang.

Terhadap sejumlah ulahnya, membuat dirinya tercantum dalam data intelijen Belanda sebagai sosok yang sangat berbahaya. Dalam laporan pertanggal 26 Januari 1946 tersebut, diceritakan bahwa Hadji Djole telah banyak membunuh tentara Inggris dan Belanda.

Saat itu bermarkas di Bekasi. Meskipun begitu, pengaruhnya hingga ke daerah Pekayon, Teluk Pucung, dan Karang Congok. Namun seiring waktu, dirinya kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sehingga sampai akhir perang revolusi, Haji Djole tidak berhasil ditangkap.

Dalam laporan tersebut juga dikatakan bahwa adiknya yakni Sa’adih dan ayahnya yakni Hadji Eman juga termasuk orang yang dicari oleh pihak Belanda. Di rumah ayahnya, terdapat sekitar 30 pemuda, 10 senjata jenis revolver, dan 5 buah karabyn. Sesuatu hal yang jarang terjadi dalam satu laporan, satu keluarga namanya tercantum sebagai orang yang paling dicari.

Pada laporan lainnya, 7 Maret 1946, Haji Djole dilaporkan merupakan tangan kanan Pak Matjan (Cibarusah), dan merupakan bagian dari kelompok Haji Darip di Klender. Mereka melakukan aksi teror terhadap Inggris dan Belanda di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Belanda kerap menyebutnya sebagai perampok atau teroris.

Mereka memang perampok. Kerap melancarkan teror bagi warga pribumi maupun penjajah. Tetapi kalau mendapatkan informasi yang salah, tentu akan berakibat salah juga.

Mereka memang perampok. Namun merampok pihak-pihak yang pro dengan penjajah, termasuk penjajah itu sendiri. Hasil rampokan tidak jarang mereka bagikan ke rakyat yang pro dengan republik. Mereka memang teroris. Namun melakukan teror terhadap antek-antek penjajah, termasuk penjajah itu sendiri. Lurah dan tokoh masyarakat yang pro Belanda tidak segan-segan mereka habisi nyawanya.

Oleh Robert Cribb dalam bukunya Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 (2009), mereka ini di sebut sebagai pihak yang berhasil memadukan kriminalitas dan patriotisme. Melakukan perampokan dan kekerasan hanya terhadap pihak-pihak tertentu.

Dalam sejumlah perjanjian yang merugikan pihak Indonesia, karena garis demarkasi yang terus menjauh Jakarta, membuat pihak TKR/TNI terpaksa terus mundur.

Namun tidak bagi Haji Djole dan pasukannya. Sepertinya bagi mereka garis demarkasi hanya garis imajiner buatan Belanda yang tidak perlu mereka patuhi. Mereka tetap saja menerobos sesuka mereka dalam upaya melakukan perlawanan. Meskipun mereka kerap diprotes keras oleh pihak TKR/TNI karena mengganggu strategi pemerintah pusat dalam perundingan.

Termasuk pada saat para pejuang diharuskan hijrah ke daerah republik akibat perjanjian, tetapi tidak bagi Hadji Djole dan pasukannya. Mereka tetap bertahan. Melakukan aksi gerilya, dan melakukan perlawanan.

Berdasarkan catatan harian tentara Belanda, nama Hadji Djole masuk dalam catatan sebagai pihak yang melakukan serangan terhadap posisi Belanda. Bersama pasukan Tjamat Nata, Soepardi, dan Siliwangi (TNI).

Dari sekian banyak pimpinan pasukan perlawanan yang ada di Bekasi, nama-nama mereka yang tercatat. Bisa jadi karena mereka merupakan momok yang paling meresahkan bagi Belanda. Sehingga namanya melekat kuat.

Karena sulitnya untuk ditangkap, namun dampak dari aksinya membuat Belanda pusing tujuh keliling, membuat Koran berbahasa Belanda Nieuwe courant yang terbit pada 4 Juli 1949 menyebutnya sebagai Bende van mysterieuze Hadji Djoleh (Gang Misterius Haji Djole). Aksi-aksinya digambarkan mirip buku-buku detektif karyanya Leslie Charteris, terutama dari The Saint series.

Saat itu dirinya menjadi bagian dari Divisi Bambu Runcing, bersama Camat Nata. Divisi yang dibentuk oleh Jenderal Sudirman dan Tan Malaka untuk mengisi kekosongan militer di Jakarta dan sekitarnya. Namun jika mereka ditangkap, mereka tidak diakui sebagai tentara bentukan republik. Mirip seperti film Mission Imposible.

Dari laporan intelijen Belanda dapat diketahui bahwa mereka terkecoh dengan gerakan Hadji Djole. Gerakannya licin dan susah ditebak. Dikatakan bahwa Hadji Djole bertubuh tinggi dan langsing. Tetapi di laporan lain bertubuh sedang dan gemuk. Kadangkala berada di tiga hingga empat tempat yang berbeda dan dengan gambaran yang berbeda pula.

Untuk mengatasinya, Belanda melalui pasukan khusus dari pribumi yakni HAMMOT, ditugaskan untuk memburu Hadji Djole. Namun hingga HAMMOT bubar dan Belanda angkat kaki dari tanah air, Hadji Djole tak kunjung tertangkap.

Selepas perang, Abdul Haris Nasution membentuk Partai IP-KI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) pada 20 Mei 1954, di Bekasi pun turut hadir cabangnya. Kehadiran IP-KI di Bekasi cukup terasa pengaruhnya dan melesat. Diisi oleh mantan pejuang dari laskar maupun pejuang dari tentara.

Mereka merupakan tokoh yang berpengaruh di masyarakat. Pengurus Cabang IP-KI Bekasi diisi oleh M. Husein Kamaly, Hadji Djole, M. Nausan, dan juga Lukas Kustaryo. Jadilah IP-KI sebagai partai baru yang menjadi perhitungan semua pihak.

Pertarungan Partai IP-KI dengan Partai Masyumi (berdiri 7 November 145) yang dipimpin KH Noer Ali cukup ketat. Saling sudut menyudutkan merupakan bagian daripada intrik politik saat itu. Bahkan persaingan merebutkan suara antara Marzuki Hidayat dari Masyumi dengan Hadji Djole di wilayah Bekasi Timur berakhir dengan dipenjaranya Marzuki Hidayat selama tiga bulan, padahal mereka masih memiliki hubungan saudara.

Hasil dari Pemilu 1955 tersebut menempati Masyumi (8 kursi), IP-KI (7 kursi), NU (3 kursi), PNI, (2 kursi), PKI (2 kursi), serta delapan partai lainnya yg masing-masing satu kursi. Kelihaian IP-KI dalam berpolitik cukup apik, ini bisa dilihat bahwa meski Partai Masyumi pemenang pemilu (beda tipis dengan IP-KI) namun Ketua DPRD M. Husein Kamaly dan Bupati Bekasi M. Nausan semuanya berasal dari IP-KI.

Jenderal AH Nasution dalam bukunya Memenuhi Panggilan Tugas jilid 2 (1984) pernah mengatakan, “Di Jakarta tidak mudah menyusun IP-KI… Tapi di tiga kabupaten sekililing ibu kota, yakni Tangerang, Bekasi, dan Bogor IP-KI berkembang baik… Saya telah aktif ikut berkeliling (kampanye) di daerah-daerah ini. Kapten Oking dari Bogor dan Djole dari Bekasi sudah secara rutin datang menjemput di rumah untuk ikut rapat atau pidato kampanye di desa-desa.”

Perannya dalam perjuangan sedikit diulas dalam film Singa Karawang Bekasi (2003). Namanya pun diabadikan sebagai nama jalan di daerah Mustika Jaya, Kota Bekasi.

Haji Djole alias Haji Sa’adah bin Haji Eman meninggal pada 25 Desember 1969 pada usia 64 tahun. Dimakamnya yang terletak di tengah perumahan Kemang Pratama terdapat bendera merah putih. Sebagai tanda dari LVRI yang menyatakan dirinya adalah pejuang mempertahankan kemerdekaan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here