Home Merdeka H. Moch Husein Kamaly, Pengabdian Panjang Seorang Pejuang (tulisan 1)

H. Moch Husein Kamaly, Pengabdian Panjang Seorang Pejuang (tulisan 1)

77
0

Oleh: Endra Kusnawan

SEJARAHONE.ID – Dalam rangka HUT Kota Bekasi yang ke-23, terdapat 43 orang yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Bekasi. Mereka didaulat sebagai Tokoh Kehormatan Daerah Kota Bekasi 2020. Ada yang dari pejuang kemerdekaan, pendidikan, agama, budaya, maupun pemerintahan. Diantara mereka, terdapat tokoh pejuang kemerdekaan, tokoh politik, dan pemerintahan yakni Haji Mochammad Husein Kamaly.

Tidak banyak memang yang mengenal sosok yang telah memberikan kontribusi besar terhadap Bekasi ini. Mulai dari angkat senjata mengusir penjajah, hingga mengisi kemerdekaan. Kontribusinya terhadap Bekasi tidak bisa dianggap kecil. Namun sayang. Dalam catatan sejarah di Bekasi belum banyak diulas. Dan kini menjadi tugas kita untuk mengulasnya.

Lahir pada 17 Juli 1922 di Kranji, menjadikan Moch. Husein Kamaly sebagai anak terakhir dari tujuh bersaudara. Muhammad, Saabah, Sauwih, Riyah, Eno Muhibah, dan Amsanih. Ayahnya bernama Haji Riyan bin Sirun bin Rona. Berasal dari Kaliabang Bungur. Ibunya adalah Kissah binti Jimam bin Kecek.

Jiwa patriot dalam dirinya tidak hanya ditempa oleh keadaan, melainkan juga mengalir jejak DNA dari sang ayah yang merupakan seorang aktivis pergerakan. Dikenal sebagai tokoh penting pada Sarekat Islam yang kemudian menjadi PSII di Bekasi di era kolonial Belanda. Suatu organisasi yang kerap kritis terhadap jalannya pemerintahan.

Perjalanan Haji Riyan dalam dunia pergerakan berlanjut dalam kepengurusan Gerakan Tiga A di era pendudukan Jepang. Suatu gerakan yang didirikan pada 29 Maret 1942. Karena tidak sesuai dengan harapan kebangsaan, membuat Haji Riyan kembali melakukan berbagai penentangan.

Jepang pun membubarkan Gerakan Tiga A dan menggantinya dengan organisasi Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dibentuk pada 16 April 1943. Putera dipimpin oleh Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansyur.

Sepak terjang yang berpotensi merusak hegemoni Belanda selepas Jepang pergi, menjadikan Haji Riyan sebagai sosok yang masuk dalam daftar DPO (daftar pencarian orang) bagi pihak militer.

Terhadap sikap kritis, didikan, dan contoh yang diberikan ayahnya tersebut, membuat semua saudaranya ikut ambil peran saat perang revolusi di Bekasi berlangsung. Yang lelaki angkat senjata. Sedangkan yang wanita membantu di dapur umum. Termasuk dari anak-anak kakaknya yang cukup usia, yang juga ikut ambil bagian dalam berbagai pertempuran. Sungguh keluarga pejuang.

Dari pernikahannya dengan Siti Fatimah binti Abdul Karim, dikaruniai 13 anak. 1). Damanhuri Husein, 2). Sofiah Husein, 3). Ely Wadyah Husein, 4). Abdul Adjis Husein, 5). Abd. Halim Amran Husein, 6). Siti Latifah Husein, 7). Muslih Husein, 8). Firman Muntaqo Husein, 9). Syudjai Husein, 10). Hidayatullah Husein, 11). Abu Bakar Husein, 12). A. Fudoli Husein, 13) M. Sodri Husein.

Gen aktivis pergerakan pun mengalir ke anak-anaknya tersebut. Mereka aktif dalam berbagai jenis organisasi. Mulai dari organisasi sekolah, kampus, masjid, kepanduan, kepemudaan, olah raga, hingga organisasi politik.

Dalam membangun rumah tangga, ajaran agama dijadikan pondasi oleh Moch. Husein Kamaly. Semua anak-anaknya dididik dalam Islam. Baik melalui contoh yang dilakukan maupun ajaran yang disampaikan.

Pendidikan agama di rumah pun kemudian ditopang oleh keharusan untuk melanjutkan ke sekolah formal. Hingga mencapai ke jenjang yang tinggi. Agar itu semua dapat berjalan dengan baik. Sebagai orang dengan latar belakang militer, aspek disiplin pun tak ketinggalan ikut diterapkan.

Pendidikan

Jalur pendidikan yang ditempuh Husein Kamaly pertama kali adalah jalur informal. Belajar langsung dengan ayahnya. Mengaji Al Quran selepas shalat Magrib selayaknya anak-anak kecil di Kranji. Pendidikan formalnya dimulai dengan memasuki Sekolah Rakyat di Bekasi, di belakang Kantor Polres Metro Kota Bekasi sekarang.

Sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Di waktu yang sama, dirinya juga mengikuti Sekolah Agama di Madrasah Maslakul Achyar (Ibtidaiyah) di Kranji. Sekolah yang hingga kini masih ada. Sehingga menjadikannya salah satu sekolah tertua di Bekasi.

Selepas lulus di Sekolah Rakyat dan Ibtidaiyah, Husein muda meneruskan sekolahnya ke Sekolah Agama Oenwanul Falah di Kwitang, Jakarta. Madrasah yang didirikan oleh Habib Ali Al Habsyi (Habib Ali Kwitang) pada 1911. Banyak muridnya yang kemudian menjadi ulama Betawi terkemuka, seperti KH Abdullah Syafii, KH Thohir Rohili, dan lainnya.

Meski terkesan jauh sekolah ke Jakarta, namun sebenarnya dekat saja. Melalui jalur kereta yang stasiunnya tidak jauh dari rumah maupun sekolahnya. Jadi cukup dengan jalan kaki, naik kereta, dan jalan kaki lagi.

Bersamaan dengan belajar di Kwitang, dirinya juga mengajar di Madrasah Assaadah di Kranji. Madrasah yang notebenenya masih milik keluarga. Setelah lulus dari sekolahnya di Kwitang pada tahun 1940, atau genap usia 18 tahun, Husein Kamaly naik menjadi kepala sekolah. Karirnya dalam dunia pendidikan terus berkembang. Di era pendudukan Jepang, dia tercatat sebagai guru di Sekolah Pertama di Kranji.

Ditempa di Dunia Pergerakan

Dunia pergerakan yang membawanya pada sikap nasionalisme, dimulai dengan bergabungnya dia pada semasa sekolah di Kepanduan SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvinderij) di Bekasi. Kepanduan SIAP merupakan sayap organisasi dari Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

PSII merupakan partai yang dibesut oleh HOS Tjokroaminoto. Suatu partai hasil dari reorganisasi Sarekat Islam melalui konferensi organisasi tahun 1923, yang menjadi Partai Sarekat Islam. Agar lebih luas cakupannya, dan jelas orientasi politiknya, di tahun 1929 berubah lagi menjadi PSII.

Bergabungnya Husein Kamaly di SIAP sendiri, tidak lepas dari peran ayahnya yang merupakan pengurus aktif PSII Bekasi. Namun begitu, pengalamannya di kepanduan menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan kehidupan selanjutnya.

Berbekal kemampuannya yang ditempa di kepanduan dalam berorganisasi dan baris-berbaris, membuat Husein Kamaly mendaftarkan diri pada organisasi bentukan Jepang saat terjadi pendudukan, yakni Syuishintai. Atau lebih dikenal dengan nama Barisan Pelopor.

Barisan Pelopor merupakan organisasi sayap pemuda dari Jawa Hokokai yang dibentuk dan dipimpin oleh Ir. Sukarno pada 14 September 1944. Untuk tingkat Jakarta, dipimpin oleh dr. Muwardi. Setelah Ir. Sukarno menjadi presiden, jabatan ketua umum pusat diserahkan ke dr. Muwardi.

Jawa Hokokai atau Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa adalah organisasi resmi pemerintahan Indonesia. Dibentuk oleh Jepang pada 1 Januari 1944 sebagai pengganti organisasi Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

Di Barisan Pelopor, dirinya menjadi seorang Shotaicho, sejenis komandan untuk level kompi. Pada umumnya satu kompi bisa terdiri dari tiga atau empat pleton yang totalnya mencapai 100 orang. Kompi Husein Kamaly di bawah Chutaicho Muchayar, yang setingkat dengan Batalyon. Muchayar merupakan pimpinan Barisan Pelopor Bekasi

Saat revolusi fisik memulai eranya, banyak anggota Barisan Pelopor di Bekasi yang bergabung dengan Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) pimpinan dr. Muwardi. Di organisasi ini, Husein Kamaly menjadi Komandan Kompi Banteng Teruna.

BBRI tidak memiliki hubungan dengan PNI, partai yang dibentuk oleh Sukarno. Bahkan pada titik tertentu, bersebrangan. BBRI lebih cenderung mendukung gerakan Indonesia Merdeka Seratus Persen. Yang kemudian banyak yang mengkategorikan sebagai laskar yang nasionalis radikalis.

Seputar Proklamasi

Tidak lama setelah Ir. Sukarno membacakan teks proklamasi, terdapat pengalihkekuasaan secara singkat dan cepat. Termasuk di Bekasi. Dibentuknya berbagai lembaga yang memiliki cabang di Bekasi, seperti KNI, BKR, dan termasuk kepolisian. Muhammad bin Riyan, yang merupakan kakak dari Husein Kamaly, menjadi Kepala Kepolisian Bekasi yang pertama.

Agar seantero negeri mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka, para pemuda di bawah naungan Angkatan Pemuda Indonesia (API) mengadakan rapat raksasa di lapangan Ikada (kini lapangan Monas). Organisasi yang didirikan para pemuda dan mahasiswa radikal itu, menetapkan acara terjadi pada 19 September 1945. Untuk itu, merekapun melakukan mobilisasi massa dari Jakarta dan sekitarnya.

Di wilayah Bekasi, dari pihak API yakni Sukarni menemui Muchayar salah satunya. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke seluruh pasukan Barisan Pelopor. Termasuk Husein Kamaly selaku komandan kompi yang memerintahkan anak buahnya untuk menyebarkan informasi tersebut ke masyarakat. Saat Hari-H, Husein Kamaly dan pasukannya, serta ribuan orang Bekasi lainnya berbondong-bondong menuju lapangan Ikada.

Selepas acara tersebut, Husein Kamaly tidak langsung balik ke rumah. Namun ikut ke markas API di Menteng 31 untuk melakukan konsolidasi gerakan berikutnya, terutama untuk wilayah Bekasi. Keesokan harinya. Sekitar waktu shubuh, menjelang pagi, pihak Jepang yang tidak menyukai acara di Lapangan Ikada itu, menggrebek markas API. Beberapa petinggi API ditangkapi. Sedangkan Husein Kamaly termasuk yang berhasil meloloskan diri.

Penangkapan tersebut tidak membuat mereka ciut nyalinya. Justru semakin membara. Para pemuda terus melakukan konsolidasi ke berbagai pihak. Termasuk Sidik Kertapati, tokoh pemuda radikal dari BARA (Barisan Rakyat) yang menjalin komunikasi dengan Muchayar, Husein Kamaly, dan lainnya di Bekasi.

Angkat Senjata dan Gerilya

Ketika mempertahankan kemerdekaan harus dengan senjata, Husein Kamaly pun telah siap. Kompi yang dia pimpin saat jaman Jepang di Barisan Pelopor, dikumpulkan lagi. Kemudian kompinya menggabungkan diri dalam wadah yang lebih besar, BBRI. Dan Kranji, atau lebih tepat rumah Husein Kamaly pun dijadikan sebagai Markas Besar BBRI Bekasi.

Dia bersama kawan-kawannya pun menyiapkan diri secara fisik dan mental. Merapatkan barisan dan mengatur strategi. Agar tak gentar menghadapi sesuatu hal yang besar. Di Pondok Ungu, terdapat Tohir. Pemuda setempat yang sama-sama ditempa Syuishintai, dan kemudian bergabung di BBRI.

Seorang komandan kompi. Mereka berdua menjaga jalan menuju Bekasi. Dari serangan pihak sekutu yang tidak jarang menerobos perbatasan di Cakung. BBRI secara terus menerus mengadakan latihan fisik dan mental. Memperkuat diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Penggemblengan dipusatkan di pabrik penggilingan padi di Teluk Buyung. Pesertanya dari berbagai daerah.

Tidak jauh dari situ. Atau tepatnya di sekitar stasiun Bekasi. Pada 19 September 1945, terjadi suatu tragedi. Sekitar 90 tentara Jepang yang hendak ke Subang melewati Bekasi dengan menggunakan kereta api, dibunuh.

Rakyat, jawara, BBRI, dan lainnya yang memendam rasa balas dendam terhadap perbuatan Jepang kepada mereka selama ini tertumpahkan. Kali Bekasi pun memerah. Mayat tentara Jepang yang telah mati itu, dibuangnya begitu saja ke air yang sedang mengalir.

Pasukan Kompi Banteng Teruna yang dipimpinnya di daerah Kranji, bersama laskar lainnya, dan TKR Batalyon V pimpinan Mayor Sambas Admadinata, ikut mempertahankan daerah perbatasan dari serangan sekutu. Pertempuran yang cukup fenomenal di Bekasi tersebut adalah pertempuran yang dikenal dengan pertempuran Rawapasung. Pertempuran yang terjadi pada 19 Februari 1946 itu tercatat dalam laporan tertulis pihak Inggris maupun pejuang.

Saat itu, tentara sekutu dari arah Pulo Gadung menuju Bekasi dengan kendaraan lapis baja, truk yang membawa tentara, serta tentara yang berjalan di kanan-kiri jalan. Iring-iringan yang cukup besar tersebut berhasil menembus pertahanan di perbatasan Kali Cakung.

Para pejuang di Bekasi kemudian mengatur strategi untuk menahan laju pihak Sekutu dan Belanda. Kemudian ditetapkanlah penghadangan dilakukan di perlintasan rel yang membelah jalan utama di Kranji (sekarang di bawah dan sebelum fly over Kranji dari arah Pulo Gadung).

Kekuatan bersenjata saat itu yang dimiliki adalah TKR dan sejumlah laskar. Mereka terdiri dari BBRI, Laskar Rakyat, dan Perguruan Pencak Silat asal Subang pimpinan Haji Ama Raden Uce Puradiredja. Persenjataan yang digunakan hanya mengandalkan beberapa pucuk senjata Carabijn, senapan mesin ringan, bambu runcing, golok, keris, tombak, panah, dan granat tangan.

Dengan kekuatan yang tidak imbang tersebut, kemudian dipecah dalam formasi: bagian Selatan hingga Timur pintu kereta api ditempati TKR yang dipimpin oleh Mayor Sadikin, Laskar BBRI di sebelah Selatan pintu kereta atau di Kranji yang dipimpin oleh Husein Kamaly. Bagian Utara pintu kereta api atau di Rawapasung ditempati oleh Laskar Rakyat, serta sebelah Utara hingga Barat dikuasai oleh Perguruan Pencak Silat.

Karena senjata yang dimiliki tidak imbang, maka cara bertempurnya dengan melakukan pertempuran jarak dekat. Dengan begitu, membuat senjata Sekutu tidak terlalu berfungsi. Strategi ini selalu dilakukan oleh pihak Indonesia dalam tiap pertempuran.

Taktik dimulai dengan menutup perlintasan kereta api dengan palang pintu. Pasukan sekutu mengira akan ada kereta api yang akan lewat. Para pejuang sebelumnya telah memasukkan semua senjata ke dalam baju, sarung yang dililit di perut hingga tidak terlihat dari luar, atau diletakkan disuatu tempat.

Untuk kamuflase, mereka berbincang santai sambil merokok. Banyak juga yang bersembunyi. Pasukan Inggris mengira mereka hanyalah petani biasa yang pergi ke sawah. Namun disaat mereka lengah, dalam waktu singkat terjadi pertempuran jarak dekat yang cukup sengit.

Seiring pekikan takbir, para pejuang menyergap. Mereka melompat ke panzer, tank, maupun truk. Dengan berbagai senjata tajam dan ilmu bela diri, mereka menghujam semua tentara yang mereka hadapi. Karena serangan yang tidak diduga, pihak sekutu tidak sempat melakukan perlawanan berarti.

Dengan sigap, pasukan sekutu pun mundur. Akibatnya, terdapat 6 orang dari pejuang dan sejumlah tentara sekutu yang gugur. Pihak pejuang berhasil merampas 12 senapan mesin dan 10 carabijn. Mereka juga berhasil menghancurkan sejumlah kendaraan dengan jalan melempar granat-granat dari jarak dekat.

Peristiwa kemenangan ini pun diabadikan dalam relief di monumen perjuangan depan Gedung Juang di Tambun maupun relief di Taman Makam Pahlawan Bekasi di Bulak Kapal.

Namun begitu, serangan dari pihak sekutu tidaklah surut. Justru semakin intensif. Sepanjang tahun 1946, tiada hari terlewati tanpa adanya pertempuran. Serangan terjadi kapan saja dan dimana saja. Meski Kranji berhasil dikuasai sekutu. Hingga garis perbatasan bergeser ke Kali Bekasi pada Juni 1946, tetap saja pertempuran demi pertempuran terus terjadi.

Kranji sebagai teritori pasukan Moch. Husein Kamaly yang berhasil ditaklukkan sekutu itu, digambarkan dengan baik oleh Pramudya Ananta Toer. Melalui novelnya Kranji-Bekasi Djatoeh yang terbit tahun 1947 dan Di Tepi Kali Bekasi yang ditulisnya selepas mengundurkan diri dari tentara tahun 1947, Pram menggambarkan suasana dan situasi kala itu. Yang sedang berkecamuk perang, yang dibombardir oleh bom dan rentetan tembakan yang bersahut.

Perlawanan yang sengit yang diberikan pasukan Republik, secara umum terdapat dua kelompok besar bersenjata, TKR/TRI dan Laskar. TKR/TRI merupakan organisasi militer resmi pemerintah. Sedangkan laskar, merupakan organisasi militer yang dibentuk oleh masyarakat. Seperti BBRI, Hizbullah, MPHS, KRIS, LRJR, dan lainnya.

Meski mereka memiliki tujuan yang sama, yakni mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah, tetapi dalam perjalanannya kerap terjadi persilangan. Bentrok senjata antara keduanya sering kali tidak bisa terhindarkan. (bersambung)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here